Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS UPDATES

ICEMA 2014; Semakbelukar Banjir Pujian, Karinding Attack Sabet Kembali Kategori ‘Best World Music’

Published

on

Perhelatan Indonesian Cutting Edge Music Awards (ICEMA) 2014 akhirnya menemui puncaknya sore tadi (23/12). Meski tanpa awarding night, pengumuman seluruh pemenang yang dilakukan via online tetap menarik animo publik. Melalui situs dan akun sosmednya, ICEMA mengumumkan total 29 musisi dari 20 kategori.
Semakbelukar lewat album self-titled berhasil meraih penghargaan sebagai album terbaik di ICEMA 2014. Album yang dirilis Elevation Records pertengahan 2013 kemarin itu mendapat banyak pujian dari para dewan juri yang menilainya. “Semakbelukar merupakan musik melayu yang berbeda, cara mengungkapnya juga beda. Sederhana, cukup menuruti pakem musik melayu namun tidak seklise itu. Dan ada rasa “alternative”-nya,” ujar Bin Harlan. 
Sependapat dengan Bin Harlan, Indra Ameng pun memuji album Semakbelukar sebagai rilisan yang inspiratif dan penuh semangat cutting edge. “Tidak ada yang dengan berani apalagi berminat untuk memainkan musik melayu dengan unsur rohani ke wilayah musik alternative sehinga mampu menjadi sebuah karya musik kontemporer. Album mereka (Semakbelukar,red) layak mendapat apresiasi dan penghargan ini karena pencapaian artistiknya,” ucapnya.
Berbeda dengan Semakbelukar yang banjir pujian berkat albumnya, Karinding Attack pun mendapat pencapaian yang tak kalah menarik. Lagu mereka, Play Free terpilih sebagai peraih piala di kategori The Best World Music Track. Pencapaian tersebut serupa dengan dua tahun lalu yang di mana lagu Hampura, Ema juga memenangkan kategori serupa. Hal yang sama juga dirasakan oleh kolektif ska, Sentimental Moods. Dalam dua edisi ICEMA mereka dinobatkan dalam dua kategori berbeda, yakni Most Favorite Group, Band Or Duo tahun 2012 silam dan The Most Favorite Track ICEMA 2014 dengan lagu Sunny Sunday.
Selain kategori favorit dan terbaik, para dewan juri ICEMA 2014 juga menetapkan Dara Puspita sebagai ikon Life Achievement. Pemilhan Dara Puspita sekaligus menjadi bentuk penghormatan ICEMA terhadap band yang dibentuk tahun 1965 ini. Dara Puspira ialah band perempuan pertama di Indonesia yang memilki kekhasan dan gaya tersendiri. Mereka juga dapat menembus industri musik pada akhir jaman Orde Lama yang terkenal santun. Selain itu Dara Puspita juga menjadi lambang emansipasi wanita.
Dua musisi Surabaya juga terpilih mengisi line up pemenang ICEMA 2014. Debutan solois metal, Methiums menempati urutan teratas kategori The Most Favorite Solo Artist dengan singlenya Buster Rancher. Sedangkan The Wise terpilih sebagai salah satu wakil Favorite New Comers bersama sembilan musisi lainnya; Piratez, Duduk Manis, AFAPIKA, Chewing Sparkle, Borock N Roll, Deep Sea Explorers, Karolina, WAW Project dan Elephant Kind.
Daftar PPeraih Piala ICEMA 2014
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

NEWS UPDATES

Dopest Dope Pertanyakan Tujuan Hidup

Published

on

Dopest Dope (dari kiri): Ricky Mahardhika, Rifki Hidayat, Hengki Arisando & Sasmito Prawiro. (Dok. Artventure Management)

Setiap manusia di dunia tentu punya tujuan hidupnya masing-masing. Tujuan itupun beragam, bisa duniawi atau akhirat. Namun jika dimaknai lebih dalam, apakah semua manusia paham dengan tujuan dari kehidupan ini? Sebuah kebingungan pun menghinggapi Dopest Dope. Lewat single barunya Tuju, kelompok alternatif dari Surabaya ini mempertanyakan maksud dari pertanyaan tersebut.

Melalui rilis pers yang kami terima kemarin (30/8), Dopest Dope mengumumkan rilisnya single baru mereka sekaligus bercerita tentang kebingungannya. “Lagu ini (Tuju,red) berisi tentang kegelisahan seseorang yang bertanya-tanya mengenai tujuan sebenarnya dalam hidup. Apakah kematian adalah akhir? atau kehidupan sebenarnya dimulai setelah kematian? atau setelah mati akan dihidupkan kembali ke dunia dan begitu seterusnya?” tulis mereka melalui Artventure Management. Dalam lagu tersebut, Dopest Dope tampak mengajak pendengarnya untuk sedikit merenung dan mendapatkan jawabannya masing-masing.

Selain tentang lagu barunya, band yang tiga tahun lalu bekerjasama dengan Demajors untuk merilis debut album Close to Death ini juga memperkenalkan penggebuk drum barunya. Posisi Oldy Pandu Nugraha kini diganti oleh Hengki Arisando atau Sipenk yang sebelumnya lebih dikenal bersama unit stoner Hawk. Dalam single baru ini, Sipenk langsung terlibar dalam proses rekamannya. Begitupun Rifki Hidayat, gitaris anyar yang masuk setelah Close to Death rilis.

Continue Reading

NEWS UPDATES

Sengatan Electric Bird di RSD 2019

Published

on

Electric Bird, trio garage pendatang baru di Surabaya. (Dok. Electric Bird)

Electric Bird punya kemampuan untuk menyengat. Ya, nama yang mereka miliki bukanlah sekadar tekstual belaka. Dibalik itu, tertanam sebuah representasi musik yang menyengat bagaikan listrik. Dengan tegangan tinggi, musik mereka mampu bertransformasi jadi sebuah musik. Sentuhan garage serta muatan rock yang berapi-api memperlihatkan tiga pemuda energik ini tengah bersiap terbang tinggi seperti pheonix.

Selama ini publik baru mengenal Electric Bird lewat single perdananya Wardogs. Lagu yang dilempar melalui kanal digital streaming akhir tahun lalu itu mendapat respon baik. Ditambah dengan kerinduan Surabaya akan band seperti ini, posisi mereka pun aman. Hingga memasuki awal 2019, tepatnya di Record Store Day (RSD) 2019 kemarin (28/4) Electric Bird memberanikan diri keluar kandang. Sebuah album bertitel Stings You Hard baru saja mereka rilis.

Bersama Let’s Go Cmon Baby (LGCD), Eisen, Rasvan Aoki dan beberapa band lain, momentum RSD 2019 Surabaya kemarin jadi hari perilisan karya fisik pertama Electric Bird, Stings You Hard. Album yang menghadirkan 11 lagu ini sudah mereka kerjakan sejak tahun lalu. Keseluruhannya mereka kerjakan sendiri, mulai rekaman hingga produksi rilisan fisiknya. Bahkan band yang dimotori oleh Danu (vokal & bass); Vicky (gitar); & Ari (bass) ini juga tengah menyiapkan perjalanan tur yang nantinya akan dijadikan alat promo album mereka.

Tidak berbeda jauh dengan single pertamanya, Wardogs. Dalam album yang berdurasi 45 menit ini Electric Bird banyak berbicara tentang situasi sosial yang masih menarik untuk di sentil. Seperti halnya Wardogs, lagu yang menyenggol tentang individu, kritik dan tanpa solusi. “Kami juga menulis beberapa fenomena, salah satunya genosida di Timur Tengah yang kami tuangkan dalam lagi East,” cerita Danu. Lanjutnya, tak luput band ini pun menggambarkan situasi berapi-apinya dalam berkarya lewat lagu Raging Fire. Pengaruh The Datsuns, Wolfmother, Soundgarden, hingga Jimi Hendrix ikut membentuk part demi part lagu mereka.

Pasca RSD, album Stings You Hard ini nantinya akan di distribusikan ke beberapa kota di luar Surabaya. Sementara untuk digital streaming masih bakal menyusul.

Continue Reading

NEWS UPDATES

Looking For, Perkenalan dari Kayman

Published

on

Mira Jasmine dan Kayman. (Dok. Pon Your Tone)

Rasa hambar dalam suatu hubungan, sebuah penantian tak berujung, hingga menunggu kesempatan kedua; ungkapan-ungkapan itu mengendap tersembunyi dalam percakapan antar pasangan yang terasa dingin dan penuh kecanggungan. Seperti halnya Looking For menembus dimensi kedua pasangan itu untuk menentukan ujungnya.

Pekan lalu, produser muda Kayman memperdengarkan karya bernuansa R&B/Neo-Soul dengan menggaet penyanyi muda Mira Jasmine. Kolaborasi keduanya cukup mengena, sekalipun ini merupakan debut bagi Kayman dalam merilis karya orisinil. Selama ini, produser yang dinaungi Pon Your Tone itu lebih dikenal sebagai DJ bergenre House, Afro-Beat dan Baile-Funk, dirinya juga lebih banyak menghabiskan waktu sebagai co-producer Dipha Barus.

Sebelum melempar debut Looking For, Kayman lebih aktif dalam urusan aransemen ulang, seperti lagu How Many Drinks milik Miguel atau Oye Como Va milik Tito Puente yang pernah di remix. Pria yang menekuni bidang Audio Engineering sejak usia 16 tahun ini juga sempat menggubah lagu Chasing Time milik Azelia Banks yang masuk di album kolaborasi antara Pon Your Tine dan De La Hous ‘Tone House’.

Continue Reading

Surabaya