Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS

5 Lagu Baru di Ronascent Compilation Vol.2

Published

on

Di edisi pertamanya, Ronascent Compilation Vol.1 berhasil melejitkan single terbaru Give Me Mona yang kala itu akan merilis album baru. Ialah Television, lagu ketiga yang mereka lepas sebelum benar-benar merilis albumnya. Dalam hitungan sebulan lagu bernuansa oldschool punk itu telah menarik perhatian lebih dari 300 listener, hasilnya hingga kini pun Television selalu menjadi nomor paling wahid di tiap setlist Give Me Mona.
Selang setahun, Ronascent Compilation Vol.2 akan kembali dirilis. Jumlah bandnya tidak berbeda jauh, jika sebelumnya terdapat 10 band, kini di tahun 2014 ada 11 band yang masih berkonsep melintasi genre. Bedanya, selain di rilis secara fisik, Ronascent Compilation Vol.2 tidak hanya menghadirkan satu lagu baru, melainkan lima sekaligus yang spesial rilis perdana via kompilasi ini. Selain lima lagu baru, Ronascent Compilation Vol.2 juga dihuni enam lagu yang telah dirilis sebelumnya medio November 2013 sampai November 2014.
Bvas, kolektif stoner yang melepas EP Agresi Februari lalu dalam kompilasi ini melepas single keduanya, Rima Berbisa. Lalu Crucial Conflict yang akan segera merilis album ketiga Back To Battlefield memberi bocoran lagu anyarnya Misery. Begitu juga dengan My Mother Is Hero yang melepas Pertanda, Humi Dumi dengan Bella On 79 Seconds serta Reckless Heart yang baru saja dilepas oleh WolfxFeet. Selain itu, hadir pula kolektif lain yang patut diperhitungkan sepanjang 2014 seperti Charlie’s Rum And The Chaplin, Pitfall Otters, Dopest Dope, Silampukau, The Ska Banton dan Timeless.
Dengan tema Safe & Sound, kompilasi yang akan rilis 20 Desember ini memberi sinyal bahwa skena musik Surabaya masih ada dan terselamatkan. Meski condong sebagai kota yang konsumtif, perlahan Surabaya menunjukan keproduktivitasan dengan munculnya karya-karya baru berkualitas. Simak audio teaser dari Ronascent Compilation Vol.2 melalui player Soundcloud di bawah ini. Nikmati juga sensasi mendengarkan 11 lagu di kompilasi tersebut sambil membaca zine Surabaya Footnote 2014; versi cetak Ronascent yang berisikan catatan editorial musik Surabaya sepanjang tahun ini. Keduanya akan menjadi satu paket yang bisa didapatkan pada tanggal rilisnya.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

NEWS

Kenistaan Layar Laca di Mata Hockey Hook

Published

on

Artwork single terbaru Hockey Hook, Layar Nista. (dok. Hockey Hook)

Cerita tentang kekesalan terhadap tayangan televisi di Indonesia memang belum ada habisnya. Banyak musisi yang menumpahkan keluhannya lewat lagu, tak terkecuali dengan unit ska punk asal Kota Kembang, Hockey Hook. Kenistaan layar kaca mereka nyanyikan lewat single baru yang diberi judul Layar Nista.

Single yang rilis digital akhir November kemarin ini digarap sendiri oleh Hockey Hook dengan bantuan Ako selaku sound engineering di Red Studio Bandung. Lewat rilis persnya, Hockey Hook menyebut konten televisi di Indonesia sampai saat ini masih jauh dari kata edukatif. “Konten televisi di Indonesia dipenuhi program-program tidak mendidik seperti sinetron yang ditayangkan siang hari, pengemasan variety show di beberapa kanal media yang penuh gosip selebriti, diwarnai juga cemoohan antar satu sama lain host. Tidak ketinggalan pula kampanye hitam politik di media Televisi yang tentunya saling menjatuhkan lawan,” sebut mereka.

Layar Nista ini dikemas lebih ke reggae dub ala California era 90an. Mereka juga menggandeng DJ Eone Cronik dari Eye Feel Six guna membangun nuansa scratch di lagu tersebut. Dan setelah ini, Hockey Hook kabarnya akan melempar mini album berisikan lima lagu yang sekaligus melanjutkan debut album yang rilis dua tahun lalu.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

NEWS

Humi Dumi Tinggalkan Akustik & Perluas Dimensi Musik

Published

on

Artwork single baru Humi Dumi karya Bagus ‘Bagong’ Priyo. (Dok. Humi Dumi)

Meninggalkan nuansa akustik dan memperluas dimensi musik; selamat datang kembali Humi Dumi! Salah satu serpihan band pop Surabaya di medio 2014 ini beranjak kembali ke permukaan. Sematan folk yang sempat diberi oleh kebanyakan pendengarnya coba dimentahkan, karena sejatinya Humi Dumi kini tengah membangun entitas indie pop lewat single barunya, Pathless.

Meskipun mencoba untuk jadi lebih dewasa dan kompleks, tapi Humi Dumi tetap menaruh ciri khasnya, di mana imajinasi tetap menyelimuti tiap bait yang dinyanyikan syahdu. “Kami masih bermain-main dengan imajinasi, tentang sebuah wacana eskpais atas sang waktu dan merakit kembali fragmen demi fragmen tentang ingatan, demi berdamai dengan masa lalu,” ujar vokalis mereka Qanita Hasinah.

Terkait dimensi musik, Humi Dumi kini tak hanya terpaku pada Angus & Julia Stone, yang konon kerap disandingkan sebagai influence terbesarnya. Dalam lagu Pathless, kalian bisa mendengar bagaimana Qanita dkk punya banyak rasa dan referensi. Cukup terasa bagaimana pengaruh british yang datang dari The Smith, riff-riff Thom Yorke hingga luapan emosi ala Saosin.

Dengan rilisnya Pathless, Humi Dumi juga berencana melahirkan anak keduanya di awal 2019 nanti. Jika sesuai timeline, maka album tersebut akan menjadi rilisan kedua mereka setelah debut I Am Ij Sin A yang rilis empat tahun lalu.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

NEWS

Monkey to Millionaire Sindir Orang Yang Gila Popularitas

Published

on

Artwork Monkey to Millionaire – Envy. (Source: Desire Music)

Monkey to Millionaire sedang melanju dengan kecepatan tinggi. Setahun setelah album Tanpa Koma, Aghan Sudrajat dan Wisnu Aji lanjut tancap gas lewat single baru Envy. Mengamati dengan kritis lalu menyindir dengan sarkartis; MTM masih tetap sama. Di lagu ini, sasaran mereka ada pada orang-orang yang gila popularitas hingga nekat melakukan apapun untuk bisa dikenal. “Bahkan sampai ngejual kehidupan pribadi cuma buat kebutuhan promosi dan naikin nama. Entah itu mengumbar atau diumbar,” ujar Aghan. Mereka mempertanyakan tentang orang-orang yang gila popularitas dengan beragam cara yang bisa dibilang nyaris tidak masuk akal.

Single Envy sendiri dijadikan single pertama yang akan mewakili album keempatnya. Jika dibanding Titik Koma atau Lantai Merah, Monkey to Millionaire terdengar seperti ingin menunjukan betapa easy listening-nya lagu mereka. Nada-nadanya terasa manis dan menyenangkan, tidak sarat emosi atau eksperimen sound seperti beberapa lagu terdahulu. “Kita ngerasain banget berkembang dari segi aransemen untuk lagu-lagu baru. Karena ternyata untuk membuat lagu terdengar sederhana dan catchy itu susah ya. Rasanya udah lama sekali nggak ngelakuin hal itu,” lanjut Aghan seraya tertawa.

Berbicara proses album terbarunya, Monkey to Millionaire memilih untuk fokus dalam penggodokan materinya. Bahkan untuk judul, mereka memilihi untuk tidak membicarakannya lebih dulu. Yang pasti, mereka sudah menyiapkan beberapa hal baru, seperti logo dan juga additional drum.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

Surabaya