Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS

ICEMA 2014 Tetapkan Nominasi dan Mulai Pemungutan Suara

Published

on

Komite Indonesian Cutting Edge Music Awards (ICEMA) 2014 akhirnya mengumumkan seluruh nominasinya dini hari tadi (1/11) (Lihat Nominasi ICEMA 2014). Seluruh nominasi itu nantinya akan memperebutkan 18 kategori prestisius dalam skena musik non-mainstream di Indonesia. Pengumuman tersebut juga bersamaan dengan dimulainya proses pemungutan suara yang ditujukan untuk membantu penilaian dewan juri. 
Seluruh karya yang masuk dalam kurun waktu 24 bulan telah melalui proses seleksi ketat terhitung sejak Agustus 2012 hingga Juli kemarin. “Daftar nominasi tahun ini dihasilkan dari sebuah proses menyimak dengan cermat ratusan lagu yang masuk serta diwarnai adu argumentasi panjang selama beberapa pekan oleh anggota Tim Kategorisasi ICEMA 2014,” tutur Wendi Putranto yang berperan sebagai ketua dewan juri ICEMA 2014.
Dalam gelarannya yang ketiga, ICEMA membuka 20 kategori dengan rincian 14 kategori berdasarkan genre, 4 kategori favorit serta dua kategori khusus. Tim dewan juri yang terdiri dari Wendi Putranto (Rolling Stone Indonesia), David Tarigan (Pengamat Budaya Kontemporer), Sandra Asteria (Guvera Indonesia), Denny Sakrie (Pengamat Musik), Eric Wirjanata (Deathrockstar), Harlan Boer (Musisi) dan dan Indra Ameng (Ruang Rupa) memiliki hak mutlak dalam penilainnya. Kinerja mereka pun turut dibantu oleh sistem voting dengan dua tipe, yakni tertutup dan terbuka yang telah dimulai hari ini (1/11).
Sebanyak 35 nama penggiat musik yang tersebar di Jakarta, Bandung, Bogor, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Bali, Makasar, Medan dan Palembang akan membantu dewan juri dalam penilaian 14 kategori tiap genre. Sedangkan proses pemungutan suara terbuka dapat dilakukan secara online oleh publik melalui situs ICEMA. Berbeda dengan voting tertutup, voting terbuka diperuntukan terhadap 4 kategori favorit, yaitu The Most Favorite Track ICEMA 2014, The Most Favorite Group/Band/Duo, The Most Favorite Solo Artist dan Favorite New Comers. Dua kategori lain, Best Album dan Life Achievment akan diputuskan langsung oleh tim inti dewan juri.
Selama proses voting dan penilaian, ICEMA masih membuka pendaftaran untuk kategori Favorite New Comers hingga 21 November. Proses pemungutan suara untuk kategori yang dinilai cukup bergengsi itu digunakan dalam menentukan 100 besar yang nantinya akan dipilih maksimal 10 terbaik oleh dewan juri. Aransemen musik dan lirik, aspek komunikatif, karakter dan juga orisinalitas menjadi empat dasar penting bagi penilaian yang hasilnya akan diumumkan 18 Desember mendatang.
Bertemakan Celebrating 20 Years Of Independent Music Movement, ICEMA 2014 berupaya mengapresiasi seluruh musisi non mainstream untuk mendapat penghargaan yang bermartabat sehingga kedepannya dapat berdampak positif bagi para pemenang. “Semoga nominasi kali ini mencerminkan kemajuan pesat musicianship serta estetika komunitas pembuat musik berbakat di Tanah Air yang mewakili keunggulan di bidangnya masing-masing. Saatnya kini penggemar musik Indonesia ikut memilih siapa saja artis yang layak menjadi favorit untuk meraih penghargaan musik bermartabat,” tutup Wendi.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

NEWS

Humi Dumi Tinggalkan Akustik & Perluas Dimensi Musik

Published

on

Artwork single baru Humi Dumi karya Bagus ‘Bagong’ Priyo. (Dok. Humi Dumi)

Meninggalkan nuansa akustik dan memperluas dimensi musik; selamat datang kembali Humi Dumi! Salah satu serpihan band pop Surabaya di medio 2014 ini beranjak kembali ke permukaan. Sematan folk yang sempat diberi oleh kebanyakan pendengarnya coba dimentahkan, karena sejatinya Humi Dumi kini tengah membangun entitas indie pop lewat single barunya, Pathless.

Meskipun mencoba untuk jadi lebih dewasa dan kompleks, tapi Humi Dumi tetap menaruh ciri khasnya, di mana imajinasi tetap menyelimuti tiap bait yang dinyanyikan syahdu. “Kami masih bermain-main dengan imajinasi, tentang sebuah wacana eskpais atas sang waktu dan merakit kembali fragmen demi fragmen tentang ingatan, demi berdamai dengan masa lalu,” ujar vokalis mereka Qanita Hasinah.

Terkait dimensi musik, Humi Dumi kini tak hanya terpaku pada Angus & Julia Stone, yang konon kerap disandingkan sebagai influence terbesarnya. Dalam lagu Pathless, kalian bisa mendengar bagaimana Qanita dkk punya banyak rasa dan referensi. Cukup terasa bagaimana pengaruh british yang datang dari The Smith, riff-riff Thom Yorke hingga luapan emosi ala Saosin.

Dengan rilisnya Pathless, Humi Dumi juga berencana melahirkan anak keduanya di awal 2019 nanti. Jika sesuai timeline, maka album tersebut akan menjadi rilisan kedua mereka setelah debut I Am Ij Sin A yang rilis empat tahun lalu.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

NEWS

Monkey to Millionaire Sindir Orang Yang Gila Popularitas

Published

on

Artwork Monkey to Millionaire – Envy. (Source: Desire Music)

Monkey to Millionaire sedang melanju dengan kecepatan tinggi. Setahun setelah album Tanpa Koma, Aghan Sudrajat dan Wisnu Aji lanjut tancap gas lewat single baru Envy. Mengamati dengan kritis lalu menyindir dengan sarkartis; MTM masih tetap sama. Di lagu ini, sasaran mereka ada pada orang-orang yang gila popularitas hingga nekat melakukan apapun untuk bisa dikenal. “Bahkan sampai ngejual kehidupan pribadi cuma buat kebutuhan promosi dan naikin nama. Entah itu mengumbar atau diumbar,” ujar Aghan. Mereka mempertanyakan tentang orang-orang yang gila popularitas dengan beragam cara yang bisa dibilang nyaris tidak masuk akal.

Single Envy sendiri dijadikan single pertama yang akan mewakili album keempatnya. Jika dibanding Titik Koma atau Lantai Merah, Monkey to Millionaire terdengar seperti ingin menunjukan betapa easy listening-nya lagu mereka. Nada-nadanya terasa manis dan menyenangkan, tidak sarat emosi atau eksperimen sound seperti beberapa lagu terdahulu. “Kita ngerasain banget berkembang dari segi aransemen untuk lagu-lagu baru. Karena ternyata untuk membuat lagu terdengar sederhana dan catchy itu susah ya. Rasanya udah lama sekali nggak ngelakuin hal itu,” lanjut Aghan seraya tertawa.

Berbicara proses album terbarunya, Monkey to Millionaire memilih untuk fokus dalam penggodokan materinya. Bahkan untuk judul, mereka memilihi untuk tidak membicarakannya lebih dulu. Yang pasti, mereka sudah menyiapkan beberapa hal baru, seperti logo dan juga additional drum.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

FEATURES

Not Sad, Not Fulfilled; Album Cinta Anak Muda yang Akan Terbang se-Asia Tenggara

Published

on

Grrrl Gang (Photo: Nadine Hanisya)

Grrrl Gang dengan jiwa mudanya semakin kental terasa. Kita bisa mendengarnya di debut mini album Not Sad, Not Fulfilled yang baru saja di rilis digital pekan lalu (9/10) via label Kolibri Rekords. Angeeta Sentana (vokal, gitar), Edo Alventa (gitar, vokal), dan Akbar Rumandung (bass, vokal) menyebut jika romansa cinta anak muda masih jadi tajuk utama di album mereka. “Album ini berkutat di kehidupan picisan anak muda yang penuh intrik, cinta, dan pencarian jati diri. Begitupun pada departemen musik, di mana pengaruh indiepop, indierock, punk, hingga sentuhan blues serta country diolah jadi balutan nuansa segar dan dekat dengan generasi muda.” tulis mereka di rilis pers yang Ronascent terima.

Proses pembuatan album ini terbilang singkat. Grrrl Gang menghabiskan sekitar lima bulan sejak April kemarin di Lahan Erros Studio. Band asal Yogyakarta ini dibantu Tutoet Daru saat proses rekaman, serta Ferry Kurniawan di bagian mixing dan mastering. Nama terakhir juga punya andil dalam melesatkan single Film Favorit milik Sheila On 7. Total ada lima lagu yang mereka suguhkan, termasuk Dream Grrrl yang digubah ulang. Dari kesemuanya, Grrrl Gang memilih Pop Princess sebagai single pertama yang mengisahkan tentang toxic relationship. “Lagu ini berupaya mendorong para wanita muda untuk berani meninggalkan hubungan yang tidak sehat demi hidup yang lebih bahagia,” ujar penulis lagu Angeeta.

Grrrl Gang beserta Kolibri Rekords pun tidak perlu menunggu lama untuk menyebarluaskan album ini. Kelar berkeliling mengunjungi Semarang, Surabaya, Malang, Malaysia, Singapura, dan Filipina pada semester awal 2018 lalu, trio indiepop ini siap melanjutkan turnya lagi. 20 kota di Indonesia dan Asia Tenggara sudah dipastikan akan menggelar tur promo EP Not Sad, Not Fulfilled selama Oktober hingga November. Grrrl Gang diagendakan tampil untuk jadi pembuka grup indierock muda Amerika Serikat, Snail Mail di Jakarta. Menunggu kemudian, dua pertunjukan di Bangkok, Thailand, serta dua pertunjukan di gelaran rutin Rocking the Region oleh Esplanade, Singapura. Jadwal lainnya pun akan diumumkan dalam waktu dekat.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

Surabaya