Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS

10 Band Surabaya Akan Bersaing di ICEMA 2014

Published

on

Indonesian Cutting Edge Music Awards (ICEMA) 2014 telah mengumumkan hampir seluruh nominasinya. Dikatakan hampir karena khusus kategori Favorite New Comers masih membuka pendaftaran sehingga kemungkinan nominasi akan terus bertambah sampai batas voting 21 November mendatang. Dari seluruh nominasi yang terdata, hadir pula 10 band lokal Surabaya turut meramaikan persaingan ajang penghargaan musisi non mainstream tanah air tersebut. Sebagian diantaranya merupakan nama baru seperti Methiums, Timeless, The Wise, Hakash, Just! dan Reveur. Sedangkan sisanya Deavdata, Hi Mom!, Dopest Dope dan Headcrusher. Mereka terbagi dalam beberapa kategori berbeda yang akan bersaing bersama banyak musisi se-Indonesia untuk meraih voting dan penilaian tim dewan juri.
Sesuai dengan yang diterapkan, ICEMA 2014 membuka 20 kategori dengan rincian 14 kategori tiap genre, 4 kategori favorit dan 2 kategori khusus. Dopest Dope, Hi Mom!, Methiums, Devadata dan Reveur masuk dalam kategori tiap genre yang penilaiannya akan ditentukan voting tertutup oleh 35 tim juri perwakilan dari 11 kota serta penilaian langsung oleh tim inti dewan juri yang dipimpin jurnalis Rolling Stone Indonesia, Wendi Putranto.
Kategori Best Indie Rock Track menempatkan Dopest Dope dan Hi Mom! sebagai nominasi yang akan bersaing dengan 14 band lain macam Pandai Besi, Barefood, Mata Jiwa, Vague, Monkey To Millionaire, Shorthand Phonetics hingga Ramayana Soul. Devadata dan Reveur masuk dalam kategori Best Punk/Hardcore/Post-Hardcore Track dengan tujuh pesaingnya; Begundal Lowokwaru, Senja Dalam Prosa, The Kuda, LKTDOV, Durga, Inlander dan WeThePeople. Sedangkan proyek solo Methiums mewakili Surabaya dalam kategori Best Metal Track bersama Carnivored, Down For Life, SSSLOTHHH, Divine, Krack, Terapi Urine, Percuma, Parau dan Funeral Inception.
Kategori favorit yang di mana publik memiliki peran dalam voting juga menempatkan kelima band tersebut. Dopest Dope dengan single The Luck Song, Devadata dengan Supremacy, Hi Mom! dengan Midnight Float Sunrise For Sara dan Reveur dengan Lamentation bersaing ketat bersama total 118 band untuk mendapat award sebagai The Most Favorite Track ICEMA 2014. Methiums yang merupakan proyek tunggal Arya Akbara melalui singlenya Buster Rancher masuk 30 besar jajaran nominasi The Most Favorite Solo Artist.
Masih dari kategori favorit, Methiums juga terdaftar dalam kategori Favorite New Comers (FNC) bersama band Surabaya lainnya yakni The Wise, Timeless, Headcrusher, Hakash dan Just!. Keenam band tersebut kini berstatus 100 besar setelah menyisihkan ratusan band lainnya. FNC sendiri dihuni oleh musisi-musisi yang berpotensi menjadi bintang baru, sebut saja Atlesta, Rayhan Sudrajat, The Global Stretching, Still Virgin, The Clouds, GERRAM, Ansaphone, Dancing Donuts dan masih banyak lagi. Kategori yang edisi sebelumnya dimenangkan oleh Mooikite, AFFEN, Bvrtan, Fuentes dan Mesa Sinaga ini akan dipilih maksimal 10 terbaik oleh tim dewan juri.

Melihat rekam jejak scene Surabaya yang terus bergejolak selama dua tahun terakhir, tidak berlebihan jika tahun 2014 menjadi bukti bahwa barometer rock yang dulu pernah melekat mulai perlahan kembali. Meski tak lagi berbicara rock, setidaknya Surabaya yang lekat sebagai kota konsumtif berangsur produktif. Bisa dilihat dengan mayoritas hadirnya band-band belia yang masuk nominasi ICEMA 2014. Meski prestasi tak melulu berwujud piala, kami tetap berharap agar Surabaya kembali mengirimkan wakilnya sebagai peraih penghargaan di ajang tersebut.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

FEATURES

Ternyata Tidak ‘Selamanya’ Seringai Absen Rilis Video Klip

Published

on

Behind the scene pembuatan klip Selamanya. (Foto: Rigel Haryanto)

Pada era album Serigala Militia yang rilis 2007 silam, saat itu Seringai melempar tiga video klip. Ketiganya ialah Citra Natural, Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan), dan Serigala Militia. Lima tahun berselang, Arian13 cs absen dalam merilis klip meskipun album saat itu mereka punya gaco baru; album Taring yang cukup melejit. Dan sekarang, setelah 10 tahun absen merilis klip, band Ibukota ini akhirnya kembali menyelesaikan klip yang sekaligus jadi single teranyar mereka berjudul Selamanya.

Selamanya, lagu yang rilis pekan lalu itu mengambil konsep ‘Wahana Pesta Seringai’; gambaran minimalis yang seakan menyampaikan ke pendengar jika Seringai masih akan terus menerus menghibur. Ide itu datangnya dari Surya Adi Susianto, sutradara klip yang juga pernah menangani video musik dari Kunto Aji, Morfem, Ramengvrl, dan Lawless Vomit Crew. “(dalam klip ini) Seringai digambarkan bakal menghibur tiap pengunjung yang naik ke bus dan bersenang-senang bersama mereka sembari berkeliling kota, dan begitu seterusnya,” jelas Seringai melalui rilis pers yang Ronascent terima.

Pasca klip ini, Seringai berencana merilis album keempatnya berjudul Seperti Api yang akan dirilis via High Octance Production. Menurut Wendi Putranto, albumnya akan selesai produksi dalam waktu dekat. Pastinya, akan ada 11 lagu yang diproduseri sendiri oleh gitaris mereka, Ricky Siahaan. Selain diproduseri personil sendiri, cover album Seperti Api juga dikerjakan oleh vokalis mereka, Arian13. Tidak jauh berbeda dengan album sebelumnya, Seringai masih gemar berbicara tentang isu sosial, sambil sesekali berbicara tentang sci-fi. Bahkan mereka juga berkolaborasi dengan solois, Danilla Riyadi. Jadi, silahkan ditunggu. Kemungkinan bulan depan.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

NEWS

Pusakata yang Dirundung Ketakutan & Kecemasan

Published

on

Artwork single ‘Cemas’ milik Pusakata. (Dok. Pusakata)

Sebelum memutuskan hengkang dari Payung Teduh, Muhammad Istiqamah Djamad yang akrab disapa Is sempat punya beberapa ketakutan. Mulai dari kecemasan tidak lagi bisa bermain teater hingga bermain dengan anaknya karena rutinitas bandnya saat itu . Dan kini, setelah bermuara berasma Pusakata, ia kembali dirundung terhadap kecemasan yang tak lain ditumpahkan lewat single keduanya; Cemas. Lagu tersebut baru saja rilis pertengahan Juni ini, bertepatan dengan momen lebaran.

Lagu Cemas ini ia tulis berdasarkan indera perasanya terhadap ketakutan anak-anak. Mulai ketakutan anak-anak yang jadi korban perang, konflik, kekerasan dalam rumah tangga, hingga kekerasan seksual. Mereka cemas karena selalu ingin lari dari tempat yang gelap itu. Akan tetapi, mereka tak tahu harus lari ke mana atau ke siapa. “Saya membuat lagu ini dengan tiga bagian terpecah. Di depan ada kecemasan, di tengah ada melodi manis yang membungkus refrain, dan di bagian akhir tetap ada ketakutan. Soalnya ke mana pun mereka lari, anak-anak akan tetap dihantui,” ungkap Pusakata.

Masalah anak-anak yang menjadi korban konflik disebut sebagai inspirasi dalam pembuatan single ini. kegelisahan, kecemasan yang sempat membuat Pusakata tidak bisa tidur berhari-hari. Merasa ada yang mau keluar dari kepala, tapi sulit. Biasanya, kata Pusakata, kalau gelisah begitu dia mencari studio untuk menyalurkan semuanya. Dengan dibantu kawan dari Makassar, ia menemukan studio. Sambil memetik gitar, Pusakata menyelesaikan aransemen musik dan lirik Cemas hanya dalam dua jam. Pusakata membungkus nuansa lagu tersebut dengan aransemen minimalis, agar setiap bait liriknya bisa diresapi.

Cemas akhirnya menjadi yang kedua setelah debut Pusakata ditandai dengan munculnya single Kehabisan Kata awal tahun 2018 ini. Bedanya, di single pertama, Is banyak dibantu oleh The Panganans; band yang menemaninya di atas panggung dan di balik layar. Sementara di single keduanya ini, Is hanya menggunakan dua gitar dan satu cello. Single ini dirilis melalui label My Music Records dan sudah bisa didengarkan melalui digital platform. Bersiaplah mendengar satu nomor getir yang manis, karena setitik harapan akan selalu ada di tengah masalah yang menghimpit.

Rakjat Djelatah yang tak segan untuk mengepul ilmu dari panggung ke panggung bebunyian. Suka menggagungkan katakata pada limit kepsyen instagram belaka. Akhir-akhir ini, ia sedang belajar menulis yang baik dan benar untuk kemaslahatan umat.

Continue Reading

BACKSTAGE

RIP Gibson: Salah Satu Ikon Pembentuk Rock and Roll

Published

on

Jimmy Page (kanan) dengan siganture gitar Gibson double neck-nya. (Foto: Laurance Ratner/Wireimage)

Kita punya hutang yang besar pada Gibson; merek gitar legendaris yang memutuskan mengakhiri bisnisnya bulan ini. Tidak akan ada sound menyalak di Whole Lotta Love-nya Led Zeppelin andaikata Gibson tidak terbentuk 1894 silam. Jimmy Page—guitar hero kita semua—adalah pemakai Gibson Les Paul yang taat. Gibson juga sudah jadi signature Slash, Eric Clapton, sampai Pete Townshend dari The Who. Gibson—tanpa disadari—punya peran membentuk rock and roll, membuatnya bisa semacam agama baru yang pernah diimani hampir jutaan populasi.

Kalian bisa mengeceknya di YouTube, sejauh mana Gibson dan sound-nya yang ikonik, sangat cocok dimainkan gondrongers berjaket kulit dan bersepatu Doc-Mart. Satu lagi, bentuknya—ya Tuhan—lengkungan dan teksturnya membuat kamu sebagai budak rock and roll berpotensi horny; seperti maniak GP saat melihat knalpot Yamaha Rossi; seperti The Gooners yang bernafsu saat melihat trofi Liga Primer.

Cerita soal hancurnya bisnis Gibson dimulai saat perusahaan ini berhutang 1 koma 3 triliun rupiah. Gibson lalu memilih menyerah dan mengaku bangkrut; sebuah sikap yang sebenarnya sangat tidak rock and roll. Meski begitu, Gibson berjanji untuk bangkit, dengan merilis produk headphone dan speaker. Perusahaan asal Nashville ini juga segera merombak ulang susunan perusahaan yang kacau, dan akan menjual kembali alat musik; ini baru rock and roll. Tapi pastinya, kita tetap tidak bisa mengkhianati peran Gibson, membentuk dan mempengaruhi apa yang kita dengar saat ini.

Rekomendasi film soal gitar, sound, and anything like that yang bisa disimak di situs streaming kesayangan kalian: Sound City (2013), It Might Get Loud (2008), HBO Vinyl Series (2016).

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya