Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

LIVE REPORT

Keos Release Party; Lebih Keos Dari Albumnya!

Published

on

Semenjak memilih Keos sebagai judul EP pertama, terlihat jelas bahwa Headcrusher seperti ingin menciptakan mindset ugal-ugalan. Akhir pekan kemarin (24/8) mereka pun berhasil membabi buta crowd lewat penampilannya yang gila-gilaan. Bahkan venue minimalis yang berlokasikan di Blackbird Surabaya dibuatnya tak berwujud sebagai kafe elegan lagi seperti pada hari-hari biasanya.

Penampilan liar Headcrusher yang menggelontor seluruh materi album barunya itu bukan tanpa sebab. Selain menjadi pesta rilis, tampil dengan formasi lengkap tampak menjadi energi tambahan. Sebelumnya, lebih tepatnya pasca rilis album Headcrusher tampak hanya mondar-mandir di studio gig dengan formasi yang tidak lengkap. Akhirnya, tepat tiga bulan setelah rilis, barisan anthem perang yang ada di EP Keos meluncur dengan pasukan legkapnya satu per satu disertai mosphit sana-sini.

Sesuai dengan tracklist albumnya, AK-47 masih menjadi pembuka setia setelah backsound Hymne Perang dimulai. Sedangkan lagu andalan Molotov disimpan sebagai amunisi terakhir agar ekspektasi crowd terjaga. Tidak hanya tampil prima di depan puluhan penontonnya, band yang dimotori Tempes (vokal), Ganis (gitar), Arya (gitar), Dimas (bass) dan Goyco (drum) ini juga mengonsep sedemikian rupa hajatannya dengan showcase minimalis yang menampilkan seluruh foto dan artwork mereka sejak awal dibentuk hingga kini.

Headcrusher tidak sendiri, dua kolektif underground yang albumnya masih hangat berkeliaran juga tidak kalah ganasnya. Kelompok hardcore WolfxFeet, unit stoner Bvas serta band belia dengan armada kawakan juga hadir, yakni Jodum. Tiga band cadas tersebut sukses jadi sajian pembuka di acara yang berdurasi kurang lebih empat jam. Tidak ada band yang tidak tampil maksimal, terlebih dengan segmentasi penonton yang cukup representatif. Suasana ugal-ugalan secara konstan menjaga atmosfer gig. Akhirnya, Headcrusher benar-benar membuktikan kapasitasnya sebagai band Keos lewat acara yang jauh lebih Keos dari albumnya.

Foto: Dok.Headcrusher

Pelaku musik yang tak pernah laku di pasaran. Kini sedang belajar menulis demi mencari cerminan diri sendiri.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Brotherground 2018: Beside Primadona, Down For Life Mempesona & Klimaks Death Vomit

Published

on

Mengadakan festival musik hingga edisi ke-5 bukan perkara mudah. Apalagi dengan line up yang konsisten kencengnya. Tahun ini Beside jadi primadona, namun Down For Life tak kalah mempesona, ditambah tenaga Death Vomit yang tak pernah habis hingga tuan rumah Fraud yang selalu beringas. Kami merangkumnya dalam foto-foto yang bisa memanjakan mata kalian.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

EVENTS

Galeri Foto: Mlete Sejak Maba

Published

on

Istilah gigs kampus saat ini lebih sering dijadikan obrolan saja, sebab sudah jarang dilakukan. Sampai akhirnya, dua edisi Mlete Sejak Maba berupaya membangkitkan lagi semangatnya. Masih bertempatkan di area FISIP UNAIR Kampus B Surabaya, kali ini spirit sosial-lah yang memanggil mereka. Sembari ngegigs, acara ini juga mengumpulkan donasi untuk tragedi gempa Lombok. Dari harga tiket kemarin, terkumpul sekitar Rp. 2.210.000 yang akan dibelikan kebutuhan logistik untuk dikirim ke Lombok.

Didukung oleh Plester-X, Wolf Feet, Kuda Poni 168, Hold, Taman Nada, Ndemo & Pepet, Relics, serta Starving Nomad yang tampil. Dan, satu kata untuk acara ini; keos! Yah, buat kalian yang familiar dateng ke gigs-gigs kampus pasti paham betul bagaimana situasinya. Dan acara kemarin, mungkin  jauh lebih ganas dari biasanya. Silahkan menikmati foto-foto dari rekan kami, Luqman Darwis.

Anak muda penuh semangat tapi tidak bergairah, suka melakukan banyak hal baru dan sedang berstatus mahasiswa aktif dengan doa semoga lulus tepat waktu dan segera mempunyai penghasilan.

Continue Reading

EVENTS

Jazz Traffic, Masa Depan dan Eksperimennya

Published

on

Malam ini dan malam selanjutnya adalah pesta. Dan pesta malam ini dan malam selanjutnya punya definisi yang berbeda. Kesimpulan ini didapat saat menghadiri Jazz Traffic Festival 2018, yang digelar di Grand City Surabaya 25 dan 26 Agustus lalu. Masih teringat dengan jelas bagaimana antrian panjang di pintu penukaran tiket yang mengular-memanjang sampai hampir ke jalanan depan Gubeng. Ini jelas bukan acara main-main. Animo masyarakat cukup besar, sebesar puluhan ampli yang bertumpuk-tumpuk di lima panggung besar yang tersebar di area parkir, Convention dan Exibition.

Sebenarnya festival agak sedikit menghambat kita dalam menghayati memori dan ingatan. Ini karena penampilan demi penampilan demi penampilan dari sekitar 400 musisi langsung dihantamkan ke otak tanpa permisi. Rundown yang tahun ini tidak dicetak tapi dalam versi aplikasi resmi Jazz Traffic, membuat kita sebagai pengidap panic disorder tiba-tiba gelisah karena banyak sekali penampilan bagus di semua lini; jazz, pop, rock, metal, bahkan dangdut. Jazz Traffic sudah berevolusi dari sebuah acara reguler di Suara Surabaya sejak 1983—dengan Bubi Chen sebagai sosok musisi yang paling bertanggung jawab—menjadi festival musik besar-besaran tahunan sejak 2011 lalu. Kalau awalnya jazz, kali ini melebarkan sayapnya di berbagai macam genre dan aliran, yang tentu saja masih punya benang merah dengan jazz. Kata Errol Jonathans Chairman Jazz Traffic sekaligus CEO Radio Suara Surabaya, festival tahun ini mengusung tema The Future Is Now.

Tapi sekali lagi hidup adalah pilihan. Sekalipun itu sulit, yang penting adalah terus berjalan dan menjalaninya, dengan gila-gilaan dan tertawa. Mari sedikit kita deskripsikan pilihan-pilihan apa yang tersedia di festival legendaris ini. Ada Jazz Traffic Stage yang indoor di area Convention, juga Suara Surabaya Stage di area Exhibiton. Lalu mendongak keluar, ada MLD Stage dan Indihome Stage, yang disekitarnya berputar berbagai macam arena yang bisa disambangi. Termasuk Studio Mini Suara Surabaya yang mengudara di FM 100 saat membawakan siaran langsung dari venue. Selanjutnya menyatu dengan area F&B, ada Kolaborasik Stage yang diatur sedemikian rupa oleh punggawa M Radio dan anak-anak Kolektif Kolaborasik. Hidup adalah pilihan dan kepala kami terus berdenyut kencang mengingat pilihan-pilihan semacam ini.

Kami yang datang di hari pertama pada Sabtu sore, akhirnya memilih menonton penampilan Adhitya Sofyan, yang sekarang berpenampilan eksotis; memelihara rambutnya sampai gondrong dengan kumis yang lumayan tebal. Siapa mengira dia sudah berumur empat puluh tahun. Setiap orang punya waktu terbaik untuk menonton sebuah pertunjukan musik. Tapi menurut penulis kami saat ini, waktu favoritnya adalah sore menjelang pukul setengah lima. Pasca terik dan pra-senja di mana matahari sudah tampak sayu dan hangat, kuning orange tidak lagi merah membakar, menerpa panggung yang polosan tanpa perlu pakai lighting dan tata cahaya yang bejibun, dengan semilir angin empat sore yang menghembuskan rambut terurai Adhitya Sofyan yang saat itu sedang membawa gitar kopong.

Si Adhit melempar sejumlah kidungnya yang menggubah pop menjadi sedemikian harmonis. Musik semacam begini penting didengar saat suara-suara di luaran sana punya pola yang sama; kebanyakan khianat dan susah dipercaya. Adhit menggunting pikiran sadar dan bawah sadar kita seketika, membawa kita masuk dalam setlist yang dia bawakan. Agak lupa memang dia membawakan lagu apa saja, tapi nomor Adelaide Sky yang disenandungkan jadi penutup, seolah jadi transisi ketidaksadaran itu tadi. Langit perlahan mulai menghitam dan Adhit pamitan dengan sopan sementara penonton terus bertepuk tangan sambil sedikit berkaca-kaca sambil sedikit mengasihani kisah romantisme diri sendiri sambil mengingat-ingat pikiran-pikiran soal sesuatu yang kemudian dicerna sebagai rekaman ingatan yang suwung. Adhit adalah penghiburan yang menawarkan rasa sedih sekaligus gembira, atraktif sekaligus kontemplatif, meditatif sekaligus adiktif. Dan sekarang kita adalah manusia-manusia yang tiba-tiba saja menjadi naif. Sebegitunya vibe acara musik live memengaruhi kita.

Selanjutnya adalah keramaian demi keramaian yang terus menghantam kepala. Dua panggung yang disusun berhadap-hadapan seperti layaknya festival, agaknya diatur sedemikian rupa supaya tidak saling bertempur. Pasca Adhitya Sofyan yang memukau sampai lima sore, kami melanjutkan destinasi telinga berikutnya masih di panggung yang sama: MLD Spot Stage. Bedanya saat ini hawa sudah mulai menusuk, nuansa mulai gelap dan senja sudah tidak tampak batang hidungnya. Kami beruntung karena si penulis naskah ini kedapatan membawa gelang all access. Tanpa peduli malu langsung menerobos ke backstage tempat penampil selanjutnya yang akan memulai aksi sedang memanasi motor peralatan. Wajah itu. Kaus itu. Perangai itu. Tidak salah lagi: Eet Sjahranie. Benar, kami sedang berada di depan legenda rock kenamaan yang membentuk salah satu eksponen rock paling panas bernama Edane. Eet sendirian mengawasi penonton di belakang panggung sambil terus mengisap rokoknya. Sesudah basa-basi super penting soal pengakuan penulis sebagai fans berat Edane yang beruntung bisa bersama Eet saat ini, Eet membeberkan sedikit rahasia soal penampilannya kali ini: “Masih memainkan rock. Itulah kenapa dinamakan Eet Sjahranie Black.” Tandem penampilan si mata eyeliner ini tidak lain tidak bukan: Gilang Ramadan. “Gilang lebih ke blues. Maka dari itu namanya Gilang Ramadan Blue.” Kata Eet. Ya benar, mereka berdua membuat satu proyekan yang baru pertama kalinya ditampilkan, bahkan satu-satunya di Indonesia. Dan Surabaya dengan Jazz Traffic-nya beruntung mendapatkan kesempatan emas yang dinamakan Gilang Ramadan Blue dan Eet Sjahranie Black ini. Dengan dibantu Novi dari Voodoo—unit slow rock legendaris 90-an.

Yang dilemparkan dari tembang pertama adalah Fire punya Jimi Hendrix. Di lagu yang berulang-ulang dicover menjadi gubahan yang tidak main-main oleh sejumlah musisi (bahkan DeadSquad di album Profanatik), kali ini digeber dengan nuansa yang sama sekali lain. Hard rock keras tanpa ba-bi-bu dengan pertunjukkan gitar solo-drum solo-gitar solo-drum solo secara konstan demi mempertegas nama Gilang dan Eet sebagai si empunya show. Novi seperti biasa, masih kuat melingking meskipun hanya sampai begitu saja: tidak ada yang terlampau istimewa. Dilanjutkan dengan beberapa tembang lawas evergreen slow rock dari band 80-an seperti Heart. Lalu yang sempurna adalah Highway To Hell dari AC/DC yang membuat Eet semakin memposisikan dirinya sebagai pengagum berat Angus Young si tua-tua keladi yang doyan memakai seragam sekolah. Pengunjung juga merespons secara histeris dan antusias. Bercampur lebur dari bapak-bapak ibu-ibu berumur sampai anak-anak mahasiswa. Ini gila. Bahkan banyak di antara mereka yang mungkin belum lahir saat The Beast-nya Edane dirilis. Tapi pesona seorang rockstar memang seberbahaya itu. Membuatnya sampai kapanpun akan terdengar keren dan mendatangkan massa. Apalagi di panggung Jazz Traffic ini, ada dua sosok yang bisa dikategorikan sebagai rockstar. Sekaligus!

Malam semakin biru dan kami melompati beberapa penampilan selanjutnya dalam naskah ini. Bukan apa-apa, akan terlalu banyak deskripsi yang bisa kami beberkan yang dikhawatirkan akan memusingkan kepala kalian. Karena itu kami langsung mengajak kalian ke tempat di mana hal spesial soal Jazz Traffic ini ditawarkan: Via Vallen Jazz Traffic Project. Ini membuat kalian sedikit gila pada akhirnya karena Via bukan sosok yang lumayan bisa diterima di kalangan pencinta music arus pinggir. Kebanyakan mereka yang suka dan doyan, malu-malu menyetelnya di kamar, atau hanya hafal lagunya yang memang sangat catchy itu tanpa sadar. Tapi selebihnya lagu-lagu Via Vallen—sebagus apapun hanya numpang dengar dan numpang lewat saja. Tidak untuk dihayati dan dibuat hiburan—atau bagi kalian yang menemukan jalan damai lewat musik, lagu Via jelas tidak bisa dipakai bahan renungan atau kontemplasi. Seharusnya kalian juga menyadari juga kalau kebanyakan lagu Via adalah cover song. Dan dengan itu kalian juga harus mengerti kalau cover song itu berhaluan dangdut yang di Jazz Traffic ini dicover lagi jadi bebunyian jazz. Saat mendengarnya memang nuansa dangdutnya agak hilang. Tapi juga tidak jazz-jazz amat. Bagaimana ini? Atau mungkin kimiawi dangdut kalau ditemukan dengan jazz akan bertemu di satu titik tengah bernama pop? Begini saja, kami akhiri tulisan ini biar kalian yang kebingungan bisa mengobrol langsung dengan redaksi kami soal Jazz Traffic. Entah itu soal seberapa hitam eyeliner Eet, kostum Via Vallen, atau… Marion Jola?

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya