Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

FEATURES

1 Dekade American Idiot: Kisah Dibalik Munculnya Album Punk Rock Terheboh dan Terburuk

Published

on

Andaikata sesi rekaman Cigarettes And Valentines tak hilang, mungkin American Idiot takkan pernah ada. 10 tahun yang lalu, tepatnya di pertengahan 2004, Green Day merekam semuanya dengan serba cepat. Sadar bahwa sesi rekaman sebelumnya hilang, mereka menulis ulang part-part lagu baru yang kebanyakan terdiri dari bagian-bagian pendek untuk kemudian menyatukannya kembali menjadi satu album punk rock paling signifikan.

Kejutan demi kejutan hadir pasca album itu dirilis. Tahun 2005, American Idiot masuk nominasi dan menjadi album punk pertama yang memenangkan Grammy Award; menerima ‘Kids Choice Award’ dan banyak penghargaan lain sampai beberapa kali masuk dalam jajaran album terbaik versi media musik ternama. Tak perlu diragukan lagi, memang album tersebut diyakini jadi salah satu album pemberontak bersejarah baik bagi punk rock juga Green Day. Namun disaat yang bersamaan, hujatan pun datang bertubi-tubi pada mereka; Media besar seperti Rolling Stone, The Guardian, Slant Magazine hingga Robert Christgau dari The Village Voice mengkritik habis-habisan yang menilai album tersebut sangat biasa dan berantakan dengan konten sosial politiknya yang kaku, ditambah lagi style gothic ala Billie Joe cs yang kini masih dipertahankannya.

American Idiot adalah sebuah album konseptual dengan lagu yang seluruhnya saling terkait. Menceritakan seorang junkies pinggiran kota dalam perjalanannya menemukan jati diri. Album ini meramu 13 lagu di mana hampir seluruhnya kental menggambarkan keadaan sosiopolitik. Seperti sebuah opera post punk yang siap ledakkan granat di muka kalian, single pertama American Idiot;  adalah jari tengah pada Bush dan busuknya korporasi media. “Don’t wanna be American Idiot!” –tidak banyak yang bisa mencipta lirik sevokal ini; seperti God Save The Queen-nya Sex Pistols versi millennium. Jesus Of Suburbia; sebuah medley punk gila-gilaan berdurasi 8 menit lebih hingga Boulevard Of Broken Dreams, track favorit anak-anak penggemar Nickelodeon, tentang kesepian dan menyusuri jalan seorang diri. Jangan kaget jika lagu ini meledak sedemikian luas karena ini adalah lagu pop.

Homecoming; 9 menit 20 detik, eksplorasi mati-matian. Seluruh personil all-out sampai Tre Cool pun juga ikut bernyanyi. Sampai pada hits dengan emosi paling intens, Wake Me Up When September Ends: bahwa punk juga bisa sesedih ini. 10 tahun yang lalu, sulit dipercaya band pinggiran kota yang memulai segalanya dengan bermain di gigs-gigs kumuh sambil sesekali berpesta ganja dan menenggak alkohol dapat masuk dalam nominasi Grammy. Sulit juga dipercaya bahwa band yang awalnya merekam demo indie hanya dengan tiga chord dan nyaris tanpa skill yang muluk-muluk akhirnya dapat mengangkat piala Grammy.

Green Day dan American Idiot adalah sebuah bukti nyata bahwa passion, kerja keras dan konsistensi pada akhirnya mampu membawa siapapun pada keberhasilan. Meskipun banyak yang menghujat dan tidak sedikit fansnya hilang, namun fakta tetap berkata lain; American Idiot berhasil terjual hingga 15 juta kopi dan membuat Reprise Records makin menganakemaskan mereka.

 

Satu Kompilasi Konyol Untuk 1 Dekade American Idiot

Kompilasi bertajuk Kerrang! Does Green Day’s American Idiot menjadi peramai euforia 1 dekade album yang rilis 20 September 10 tahun lalu. Sayangnya, album ini seperti layak menemani album terkonyol Justin Bieber. Album tribute yang biasanya menawarkan kesegaran justru malah terdengar asal-asalan.Terdengar lucu saat track American Idiot di cover oleh 5 Seconds Of Summer dengan gaya vokal remaja tanggung yang seperti baru belajar mengacungkan jari tengah, George W. Bush dipastikan akan terpingkal mendengar aksi band ini. Jesus Of Suburbia bukan lagi menjadi lagu terbaik Billie Joe dkk, tapi tak lebih dari sekadar materi percobaan band bernama Rise To Remain yang baru selesai bermain ayunan. “I don’t care if you don’t care,” lirik anthemic di lagu itu secara mengejutkan berubah menjadi super-aneh ketika dibawakan dengan growl setengah hati.

Irama modern rock gencar dimainkan The Blackout pada track Holiday yang dengan seenak udelnya menggubah intro legendaris dengan harapan memberi warna baru justru membuat permainan mereka terdengar amat dipaksakan. Boulevard Of Broken Dream adalah Boulevard Of Broken Song ketika dibawakan dengan tempo tak teratur dan acak-acakan oleh Neck Deep.

You Me At Six yang diharap mampu memberi nuansa segar kerena mempunyai nama yang lebih familiar dibanding lainnya ternyata juga lebih mirip peserta American Idol yang tereliminasi saat membawakan Are We The Waiting. Begitu pula Bowling For Soup dalam St. Jimmy yang memainkannya seperti backsound program komedi. Give Me Novacaine yang dipilih Escape The Fate juga tak melampaui ekspektasi sedikit pun. Kekonyolan lain turut dimainkan Falling In Reverse yang meneriakkan hits pemberontakan She’s A Rebel dengan gaya vokal layaknya bocah yang sedang masturbasi tapi tanpa ejakulasi.

Tampilan tak penting makin terasa saat Frank Iero, mantan gitaris My Chemical Romance membawakan Extraordinary Girl dengan paduan musik disko samar serta remix yang kurang berbakat: memperburuk gendang telinga yang sudah enggan meneruskan ke track-track selanjutnya. Sempat tertarik untuk mendengar Welcome To Paradise dan Basket Case dari album Dookie sebagai bonus track, tapi nyatanya percuma. Secara keseluruhan apresiasi yang coba diberikan oleh Kerrang! rasanya seperti memperburuk suasana 1 dekade yang harusnya lebih manis tanpa kompilasi ini. Hiburan konyol, punker medioker era pop You-Tube yang mencoba meniru band punk rock terbesar di dunia, Life’s Not Too Loud, Kerrang!

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Zorv Dan Secuil Kisah Perantau Grunge Yang Sempat Meliar

Published

on

Berantakan: Wajah Blackbird yang porak-poranda akibat keliaran Zorv saat pesta launching albumnya lima tahun silam. (Foto: Ian Darmawan)

Sepekan lalu, fitur kenangan di Facebook tanpa sengaja menampilkan poster dari pesta perilisan album salah satu band bagus di zamannya. Sebuah gigs yang menjanjikan keliaran; seliar atraksi tong setan, senakal Sasha Grey, dan membabi-buta layaknya mulut netizen saat mengomentari RI 1 dengan stuntman-nya. Pada intinya, semua kebrutalan yang masih manusiawi sudah cukup mewakili flashback sesaat setelah melihat gambar tersebut.

Poster launching album Zorv ‘Savage’.

Album yang rilis dan dipestakan itu bernama Savage. Bersampul hitam, lengkap dengan rusa berakar. Hebatnya, akar yang tersaji secara visual itu juga melebur secara audio dan mendominasi 43 menit durasi album. “Kenapa akar? karena kita gak mau ngelupain dari mana asal kita. Don’t forget the root-lah,” cerita Ragil Herlambang, pembetot bass yang kami temui lima tahun lalu di tempat kerjanya. Ya, secara garis besar Savage bercerita tentang keliaran, namun masih pada batas yang wajar tanpa lari dari akarnya.

Mereka adalah Zorv. Band yang sebenarnya tidak terlalu lama berada di iklim Surabaya. Tapi di waktu yang terbilang singkat, mereka mampu memberikan bercak manis. Jurnallica menyebutnya sebagai duplikasi Nirvana, Jimi Multhazam menyematkan kata canggih untuk mereka, dan Rolling Stone Indonesia menganggap sebagai gairah baru skena Surabaya. “Jujur, Zorv gak terlalu expect banyak juga pada waktu itu. Yang penting kita pengen banget berkarya,” kenang Danishwara beberapa waktu lalu.

Lima tahun silam, berawal dari rekomendasi teman dan majalah impor yang sudah kandas, kami tergiring untuk berkenalan dan mencari tahu tentang siapa itu Zorv, hubungannya dengan Kurt Cobain dan Chris Cornell, optimistisnya terhadap grunge, kemudian membeli debut albumnya yang apik rilisan Wellstain Records. Dan lima tahun silam pula, kami merasakan terbanting-banting akibat mosphit liar saat pesta peluncuran album tersebut. Berlokasi di kafe kecil di Klampis; Blackbird yang sayangnya sudah kandas juga; di sana Zorv pamer seluruh lagu solid yang ada di rilisannya.

Keos: Setlist Zorv malam itu sukses menghantam telinga sampai tembok. (Foto: Ian Darmawan)

Malam itu gitar Danishwara tak seprima suara vokalnya. Tampak berkali-kali ia memutar potensio amplinya. Sesekali riff gitarnya juga terdengar meleset, bahkan beberapa fill terasa tak se-solid rekaman CD-nya. Tapi mau tak mau, tabrak sana-sini masih tetap terjadi. Kami juga berani bertaruh jika penonton yang ada pun tak mempedulikan kesempurnaan penampilan mereka. Toh, selama ketukan drum dan dentuman bass-nya tertib, beat yang terbangun lebih dari mampu untuk memecah keliaran. Terlepas dari gitarnya yang di bawah perform, perlu di highlight tentang vokalnya yang stabil serta aksen jelas, dan di sinilah mereka tampak pandai menyampaikan lirik-liriknya yang sebenarnya lirih.

Surabaya saat itu, malam itu, dan di tahun itu seperti menemukan tambang emas baru. Gairah grunge yang sebelumnya biasa saja, jadi bersahaja. Diikuti juga dengan munculnya warna-warni musik baru dari band seangkatan Zorv. Sebut saja Cotswolds, Taman Nada, Headcrusher, The Ska Banton, atau Humi Dumi. Bahkan hidung kami sebagai media lokal mengendus ada 10 album yang muncul di 2013, capaian yang melebihi tahun-tahun sebelumnya. Jumlah itu membengkak di tahun berikutnya jadi 27 rilisan. Seperti membungkan paradigma pendahulu kita hobi menyebut: “musik di Surabaya itu susah berkembang, gitu-gitu aja”.

—-

Pesta, Pisah, dan Rekaman yang Terbengkalai

Dari balik kaca, Balqi terlihat duduk santai mengamati ramainya ruas jalan Dharmawangsa. Lelah bersantai, dia masuk ke dalam ruangan, menyapa pelanggan sambil mengganti-ganti channel TV kabel. Setahun setelah pesta senang-senang itu, Balqi lebih banyak menghabiskan waktunya di Morven; usaha barbershop dia bersama beberapa rekannya. Di tahun itu juga ia menyelesaikan studi komunikasinya, mulai jarang berbicara tentang Zorv karena saat itu mereka sedang pasif bermusik.  Zorv yang sebelumnya tengah jadi perbincangan berkat materi dan performanya, belakangan mulai surut. Danishwara bertolak ke Inggris, melanjutkan studi. Otomatis, Zorv pincang sesaat. Sementara Ragil tampak masih melakukan rutinitasnya seperti biasa.

Zorv: Balqi (drum), Danishwara (gitar & vokal), Ragil (bass)

Mutlak memang kala di tiap pertemuan selalu ada perpisahan. Pertemuan Danish dan Ragil yang sama-sama perantau, tinggal di satu kos, membentuk band, hingga menelurkan album tampak begitu cepat berlangsung, secepat durasi album Savage berakhir. Dua tahun berselang, mungkin sekitar 2016 Zorv semakin tak bernyawa. Kelar studi di Inggris, Danish kembali ke Ibukota dan memulai karirnya. Begitupun Balqi yang sempat menetap di sana juga. Dan Ragil, pulang ke kampung halamannya di Madiun melanjutkan bisnis kulinernya.

Dari ketiga personil Zorv, Danish-lah yang paling aktif bermusik. Selepas vakum bersama trio grunge-nya, fans The Red Devils itu sempat membangun project ‘iseng’ bernama Hakash. Dan belum lama ini, sekitar tahun lalu ia kembali tergabung dalam Purpla bersama teman-temannya di Ibukota. Praktis, penampilan mereka pada akhir 2013 di Rock In Celebes jadi yang terakhir di masa aktifnya. “Tahun 2017, kita sempet main di nikahannya Balqi hahaha Kita bawain beberapa lagu waktu itu, serunya lagi ada Dul Jaelani yang featuring sama kita. Yah, kapan lagi main grunge di kawinan,” lanjut Danish.

Lalu sekarang, ke mana jejak Zorv berlanjut? Sempat ada isu yang menyebut jika Zorv tengah membuat sesuatu; kami pun tidak tahu itu apa. Tapi jika mengacu pada transkrip wawancara kami dengan mereka lima tahun silam, mereka sempat menyicil beberapa materi baru. Danish membenarkan sekaligus mengungkapkan kebingungannya terhadap materi-materi tersebut. “hahaha.. tadinya udah lupa loh. Bener ada, kita sempet rekaman di Natural Studio tahun 2013, tiga lagu baru dan rencananya waktu itu mau rilis EP judulnya Moonswimmer. Tapi mau dikemanain rilisannya jujur belum ada plan. Ada ide?”.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Dialog Ibu & Anak Dalam “Berita Kehilangan” Milik Feast

Published

on

Artwork Berita Kehilangan yang dikerjakan Mikael Aldo & Baskara Putra. (Dok. Feast)

.Feast makin memantapkan posisinya sebagai band yang cukup responsif terhadap lingkungan sosial sekitarnya. Usai klip Peradaban yang cukup frontal, kemarin (10/8) mereka kembali melempar lagu sekaligus klip baru berjudul Berita Kehilangan. Secara lirik, apa yang mereka tuliskan masih cukup sarkas, namun implisit. Bedanya, nuansa musik yang diperdengarkan sangat sesuai dengan klipnya; gelap, berduka, dan pemakaman.

Lagu Berita Kehilangan ini ditulis sendiri oleh vokalis mereka, Baskara Putra. Ia terinspirasi dari beberapa kasus kriminalisasi yang telah terjadi, salah satunya yang menimpa mendiang temannya Raafi Aga Winasya Benjamin tujuh tahun silam. Adapun sebuah surat milik orang tua korban kriminalisasi lainnya juga menjadi sumber inspirasi mereka, sekaligus sebagai bentuk empati terhadap kasus-kasus tersebut.

Selain audio dan video yang cukup membangkitkan ambient lagu, kehadiran Rayssa Dynta sebagai kolaborator justru makin mendramatisir. Tiap bait yang dinyanyikan .Feast dan juga Rayssa Dynta dibuat seperti dialog antara Ibu dan Anak. Dialog itu menggambarkan bagaimana seorang Ibu yang berusaha mengikhlaskan kepergian anaknya. Begitupun sebaliknya, sang anak juga coba menguatkan Ibunya.

Single terbaru milik kolektif rock Ibukota ini sudah bisa dinikmati secara digital melalui layanan streaming Spotify, Joox, Apple Music, Deezer dan sejenisnya. Lalu untuk video klipnya bisa dinikmati lewat kanal Youtube ofisial atau IGTV milik .Feast.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

FEATURES

Ternyata Tidak ‘Selamanya’ Seringai Absen Rilis Video Klip

Published

on

Behind the scene pembuatan klip Selamanya. (Foto: Rigel Haryanto)

Pada era album Serigala Militia yang rilis 2007 silam, saat itu Seringai melempar tiga video klip. Ketiganya ialah Citra Natural, Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan), dan Serigala Militia. Lima tahun berselang, Arian13 cs absen dalam merilis klip meskipun album saat itu mereka punya gaco baru; album Taring yang cukup melejit. Dan sekarang, setelah 10 tahun absen merilis klip, band Ibukota ini akhirnya kembali menyelesaikan klip yang sekaligus jadi single teranyar mereka berjudul Selamanya.

Selamanya, lagu yang rilis pekan lalu itu mengambil konsep ‘Wahana Pesta Seringai’; gambaran minimalis yang seakan menyampaikan ke pendengar jika Seringai masih akan terus menerus menghibur. Ide itu datangnya dari Surya Adi Susianto, sutradara klip yang juga pernah menangani video musik dari Kunto Aji, Morfem, Ramengvrl, dan Lawless Vomit Crew. “(dalam klip ini) Seringai digambarkan bakal menghibur tiap pengunjung yang naik ke bus dan bersenang-senang bersama mereka sembari berkeliling kota, dan begitu seterusnya,” jelas Seringai melalui rilis pers yang Ronascent terima.

Pasca klip ini, Seringai berencana merilis album keempatnya berjudul Seperti Api yang akan dirilis via High Octance Production. Menurut Wendi Putranto, albumnya akan selesai produksi dalam waktu dekat. Pastinya, akan ada 11 lagu yang diproduseri sendiri oleh gitaris mereka, Ricky Siahaan. Selain diproduseri personil sendiri, cover album Seperti Api juga dikerjakan oleh vokalis mereka, Arian13. Tidak jauh berbeda dengan album sebelumnya, Seringai masih gemar berbicara tentang isu sosial, sambil sesekali berbicara tentang sci-fi. Bahkan mereka juga berkolaborasi dengan solois, Danilla Riyadi. Jadi, silahkan ditunggu. Kemungkinan bulan depan.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya