Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

LIVE REPORT

Pertunjukan Senandung Sore di Tengah Ruang Terbuka

Published

on

Showcase minimalis bernuansa temaram dengan banyaknya tataan barang antik menjadi pemandangan wajib bagi pengunjung Newton Store yang terletak di bilangan Surabaya Pusat akhir mei kemarin (25/5). Tidak mengagetkan memang, pasalnya tempat tersebut merupakan rumah bagi barang-barang antik. Tersaji apik saat kesan vintage membaur dengan lingkungan serta art, Senandung Sore pun menjadi dalang dibalik semuanya.Meskipun acara tersebut bertajuk EP launching, Nurina dkk tak semerta-merta menghabiskan durasi dengan musik. Pameran kaktus dari komunitas Bucape serta eksibisi dari empat talent di bidang fotografi dan art turut memeriahkan acara yang dimulai sejak sore hari itu.

Setelah bermuara sejak 2011, alunan musik syahdu Senandung Sore akhirnya terkemas rapi nan manis dalam pack kecil yang disepakati dengan nama Ruang Terbuka. Berbahagialah karena sejak itu EP mereka sudah dapat dibawa pulang sebagai pemanis senja yang datang sekalipun rilis terbatas. Walau hanya berisikan tiga lagu namun packaging yang unik memaksa para folk untuk bungkam menikmatinya dengan syahdu. Senandung Sore yang mulanya berformat akustik dalam hajatannya tersebut memperkenalkan formasi terbarunya. Sore, Bias Mentari serta nomor baru berjudul Rindu Ruang Hijau mereka bawa dengan paduan konsep folk instrumental (baca: neofolk).

Sebelum itu, Taman Nada dan The Evening Wolf menjadi suguhan pembuka bagi kawan-kawan yang datang. Ada satu keterkaitan antara hadirnya dua musisi tersebut dengan materi album Ruang Terbuka. Secara subjektif kami meyakini dua band tersebut dipilih berdasarkan konsep baru Nurina dkk. Taman Nada sebagai ekspansi folk yang memang menjadi akar dari Senandung Sore sedangkan The Evening Wolves sebagai eksplorasi instrumental yang sedikit terselip. Faktanya kami serahkan pada pendengar dan pembuat acara.

Taman Nada tampil membawakan beberapa materi terbarunya tak ketinggalan beberapa lagu lama macam Marilah Mari serta Suara Bayan. Selanjutnya, one man instrumental, The Evening Wolves bermain tone-tone nakal dengan satu tujuan: menenggelamkan suasana dengan stereo instrumental shoegazenya. Pada akhirnya semua kesenangan tetap harus berakhir, Senandung Sore mengakhiri pertunjukan singkatnya yang memaksa penonton segera pulang untuk memainkan albumnya pada media favorit masing-masing.

Foto: Denantyo Bagus

Pelaku musik yang tak pernah laku di pasaran. Kini sedang belajar menulis demi mencari cerminan diri sendiri.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Galeri Foto: Synchronize Fest 2018

Published

on

Selama tiga hari kami berkelana di tengah padatnya Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Baik di atas atau bawah stage terasa sesak. Mata dan telinga kami kenyang terpuaskan oleh penampilan ratusan musisi lintas generasi. Sebuah kenyataan di mana musik Indonesia memang beragam dan menyenangkan. Silahkan menikmati hasil jepretan fotografer kami.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EVENTS

Brotherground 2018: Beside Primadona, Down For Life Mempesona & Klimaks Death Vomit

Published

on

Mengadakan festival musik hingga edisi ke-5 bukan perkara mudah. Apalagi dengan line up yang konsisten kencengnya. Tahun ini Beside jadi primadona, namun Down For Life tak kalah mempesona, ditambah tenaga Death Vomit yang tak pernah habis hingga tuan rumah Fraud yang selalu beringas. Kami merangkumnya dalam foto-foto yang bisa memanjakan mata kalian.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

Surabaya