Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS

Paruh Pertama 2014; Tumbangnya Wajah Baru, Bangkitnya Para Veteran

Published

on

 

Tidak seperti tahun lalu yang di dominasi banyak wajah belia, tahun 2014 yang baru menginjak paruh pertamanya ini menyajikan hal yang berbeda. Beberapa nama baru memang masih menghiasai scene bawah tanah, menariknya justru yang lebih intens muncul ke permukaan adalah muka lama yang telah habis masa hibernasinya. Beberapa diantara mereka bahkan sudah sesumbar aktif lagi dengan rilisan baru, namun ada juga yang sekadar comeback sesaat bahkan ada pula yang cukup berwacana saja.

Hingga kini beberapa nama veteran yang terbit di medio akhir 90an mulai bergeliat kembali. Beberapa diantaranya adalah band yang sekitar dua hingga lima tahun lalu redup kini mulai muncul kembali ke permukaan. Sebut saja Crucial Conflict, band yang terakhir merilis album Blood of Sacrifice 2007 silam kini sedang menyiapkan rilisan terbarunya. Banyak yang menuding memang masanya telah habis, namun band yang kini tinggal beranggotakan Xave, Wicax dan Kia ini mantap menatap album ketiganya yang sudah hampir kelar.

Vox juga melakukan hal serupa, 10 besar LA Lights Indiefest 2006 tersebut kini tengah disibukkan pengerjaan materi baru. Lama tak terdengar, awal Juni lalu yang bertempatkan di Rolling Stone Cafe, Jakarta Joseph, Vega, Donnie dan Mayo melakukan showcase minimalis yang di mana mereka membocorkan lagu-lagu terbarunya. Rupanya, band yang merilis debut album Pada Awalnya (2007) ini santer terdengar akan menyelesaikan rilisan keduanya namun entah kapan akan selesai. Selain itu, beberapa grup lain yang menandakan adanya kehidupan lagi adalah Silampukau yang mulai aktif kembali bermain hingga kini serta Screaming Out yang masih tetap hadir sebagai dedengkot hardcore paling disegani di Surabaya. Bersama Fraud, WolxFeet dan Exterminalos mereka baru saja melakoni tur Jawa Timur bertajuk ‘Hardcore Heroes 2014’.

Nuansa reuni turut meramaikan skena Surabaya hingga tengah tahun ini. Friday yang telah vakum delapan tahun lamanya, awal mei kemarin spesial dihadirkan untuk mengisi event rutin Sunday Market. Dalam kesempatan itu pula band beraliran indie pop ini merilis ulang album keduanya Sitting on Anything Cold dengan menyelipkan satu lagu baru. Dalam petikan wawancaranya Friday tidak menutup kemungkinan akan adanya kelanjutan dari reuni tersebut, namun tetap saja kesibukan masing-masing anggota mengharuskan band yang terbit tahun 1996 ini tidak dapat menjanjikan satu hal baru.

Dominasi Tiga Band Penguasa Pensi Masih Berlanjut

Terlepas dari band-band lawas yang redup, tiga nama penguasa Pensi di Surabaya masih tetap stabil dengan alurnya. Mereka adalah Blingsatan, Devadata serta Heavy Monster, tiga band yang berusia lebih dari satu dekade ini sedang berapi-api karena tahun ini mereka akan melempar album barunya.

Devadata start lebih awal dengan albumnya Disrespect bulan Februari lalu yang diikuti dengan rangkaian tur nasional dan internasionalnya. Sekalipun harus menunggu delapan tahun untuk rilisan tersebut, tetap saja album kuartet New School Hardcore ini selalu diminati. Begitu pula dengan gembong ska veteran, Heavy Monster. Band yang terakhir merilis album One Message One Love ini juga melakukan hal serupa, sejak awal tahun mereka sudah menyelesaikan sesi rekaman album ketiganya.

Trio punk yang lebih muda dari band-band sebelumnya, Blingsatan tidak mau kalah. Saka, Arief dan Amir juga dikabarkan segera merilis album ketiga berjudul Berbeda Merdeka yang kabarnya akan didistribusikan lewat salah satu label kondang Ibukota. Sebelumnya, Blingsatan juga sudah melakukan pemanasan jelang albumnya melalui tur 16 kota bersama The Flins Tone, Snickers And The Chicken Fighters, Vertical Jump, Good Morning Avika serta Pee Wee Gaskins.

Bangkitnya para veteran sekaligus menandakan semakin ramainya geliat scene di Surabaya, namun disaat yang bersamaan justru banyak band-band belia yang menggema di 2013 lalu tumbang satu per satu. Faktor penyebabnya tentu tidak jauh-jauh dari kebuntuan akan mengolah materi serta minimnya venue akhir-akhir ini. Namun kembalinya band-band lama juga patut dipertanyakan keseriusannya, wacana belaka atau semangat sesaat?

 

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

BACKSTAGE

RIP Gibson: Salah Satu Ikon Pembentuk Rock and Roll

Published

on

Jimmy Page (kanan) dengan siganture gitar Gibson double neck-nya. (Foto: Laurance Ratner/Wireimage)

Kita punya hutang yang besar pada Gibson; merek gitar legendaris yang memutuskan mengakhiri bisnisnya bulan ini. Tidak akan ada sound menyalak di Whole Lotta Love-nya Led Zeppelin andaikata Gibson tidak terbentuk 1894 silam. Jimmy Page—guitar hero kita semua—adalah pemakai Gibson Les Paul yang taat. Gibson juga sudah jadi signature Slash, Eric Clapton, sampai Pete Townshend dari The Who. Gibson—tanpa disadari—punya peran membentuk rock and roll, membuatnya bisa semacam agama baru yang pernah diimani hampir jutaan populasi.

Kalian bisa mengeceknya di YouTube, sejauh mana Gibson dan sound-nya yang ikonik, sangat cocok dimainkan gondrongers berjaket kulit dan bersepatu Doc-Mart. Satu lagi, bentuknya—ya Tuhan—lengkungan dan teksturnya membuat kamu sebagai budak rock and roll berpotensi horny; seperti maniak GP saat melihat knalpot Yamaha Rossi; seperti The Gooners yang bernafsu saat melihat trofi Liga Primer.

Cerita soal hancurnya bisnis Gibson dimulai saat perusahaan ini berhutang 1 koma 3 triliun rupiah. Gibson lalu memilih menyerah dan mengaku bangkrut; sebuah sikap yang sebenarnya sangat tidak rock and roll. Meski begitu, Gibson berjanji untuk bangkit, dengan merilis produk headphone dan speaker. Perusahaan asal Nashville ini juga segera merombak ulang susunan perusahaan yang kacau, dan akan menjual kembali alat musik; ini baru rock and roll. Tapi pastinya, kita tetap tidak bisa mengkhianati peran Gibson, membentuk dan mempengaruhi apa yang kita dengar saat ini.

Rekomendasi film soal gitar, sound, and anything like that yang bisa disimak di situs streaming kesayangan kalian: Sound City (2013), It Might Get Loud (2008), HBO Vinyl Series (2016).

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Continue Reading

NEWS

Bedchamber Ajak Penonton Tentukan Ending Klipnya

Published

on

Bedchamber. (Foto: George Mundor)

Kurang lebih empat bulan setelah album Geography rilis, kolektif indie pop Ibukota, Bedchamber melempar video klip Moon kemarin (10/5). Video klip tersebut sekaligus jadi yang terbaru setelah empat tahun lamanya. Ya, Bedchamber terakhir kali merilis klip Perennial empat tahun silam. Dalam project ini, Nadine Hanisya dipercaya sebagai sutradara dengan menampilkan aktor senior Jim Adhi Limas. Klip tersebut sudah bisa dinikmati di akun Youtube ofisial milik Kolibri Rekords.

Dalam video ini Bedchamber coba mengisahkan tentang sosok pria feminim yang berusaha keluar dari tekanan. Jim Adhi Limas  yang memiliki simbolisme dan pemaknaan berlapis pun tampak menyatu dengan lagu yang ditulis oleh Ratta cs. Namun di akhir, Bedchamber sengaja memberikan ending yang kabur agar penonton bisa ikut terlibat menentukannya. “Di sini Bedchamber membuka kesempatan penonton untuk menginterpretasi dan menentukan sendiri kisah hidup pria tersebut. Silahkan berbagi, semua teori diterima!” tulis Bedchamber dalam rilis persnya.

Bersamaan dengan rilisnya Moon, Bedchamber juga mengumumkan dua titik turnya di Jatim, yakni Surabaya (11/5) dan Malang (12/5). Untuk yang di Surabaya, Bedchamber akan tampil di launching album terbaru Cotswolds, ‘Tadius Showcase’ akhir pekan ini bersama Closure, Gizpel, dan tentunya Cotswolds.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

NEWS

Winter’s Fault, Dibalik Harapan, Kelahiran & Single Baru Luise Najib

Published

on

Cover single terbaru Luise Najib. (Dok. Luise Najib)

Luise Najib, penyanyi wanita lulusan The Voice Indonesia 2013 ini akhirnya melempar single baru berjudul Winter’s Fault ke publik pada 2 Mei 2018; sekaligus jadi comeback setelah hampir setahun vakum. Winter’s Fault sendiri bercerita tentang harapan, juga seseorang yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan dan merubahnya secara perlahan. “Hari itu, aku melahirkan anak lelakiku”cerita Luise, tepat pada 3 Mei 2017, dan setahun kemudian, lahirlah single ini.

Berbeda dari lagu sebelumnya, Winter’s Fault lebih bernuansa sendu dan tenang. “Pada suatu malam di tahun 2013 aku terbangun, rasanya seperti berusaha mengingat mimpi, tapi semakin kerasa ku berusaha mengingatnya semakin buram ceritanya, hanya melodi-melodinya saja yang samar teringat, malam itu juga langsung aku rekam lagu ini,” lanjutnya.

Alunan piano yang dimainkan oleh Vicky Unggul, selaku co-producer di lagu ini berhasil menyelimuti warna vokal Luise Najib yang membawa perasaan kita ke dalam ruang gelap namun penuh kehangatan. Perpaduan musik elektronik dan pop mereka hasilkan berkat eksplorasi musik antara Luise Najib dan Vicky Unggul selama 2 tahun ini.

Luise mengaku semakin yakin akan jalur yang telah dia pilih. “Aku harap lagu ini bisa mengingatkan siapapun yang pernah atau sedang mengalami depresi, bahwa harapan itu selalu muncul di situasi yang tidak terduga, cinta dan kebahagiaan pasti akan selalu ada”, imbuh Luise mengenai harapannya di lagu ini.

Bersamaan dengan perilisan single terbarunya di berbagai platform seperti iTunes dan Spotify, Luise juga merilis official music video Winter’s Fault di YouTube. Dalam pembuatannya, ia menyutradarai sendiri video klip ini dengan dibantu Risky Jusuf sebagai DOP.

Rakjat Djelatah yang tak segan untuk mengepul ilmu dari panggung ke panggung bebunyian. Suka menggagungkan katakata pada limit kepsyen instagram belaka. Akhir-akhir ini, ia sedang belajar menulis yang baik dan benar untuk kemaslahatan umat.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya