Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

LIVE REPORT

Couch to Couch; A Public House Party

Published

on

Tidak hanya sebagai pre-launch, Couch to Couch juga sekaligus menjadi selebrasi bagi scene pop punk Malang yang akhir mei lalu (27/5) berhura-hura. Couch to Couch sendiri ialah launching split EP dari dua band pop-punk besutan Aperoject Records, yakni Story Starry Nite dari Bekasi serta Write The Future yang kemarin berkesempatan menjadi tuan rumah. Lantai dua Houtenhand hari itu bukan lagi beruwujud koridor dengan tataan meja dan kursi melainkan menjadi sebuah ruangan kosong, a homey environment yang erat kaitannya dengan suburban area tempat dimana pop-punk lahir. Berangkat dari situ, Couch to Couch di konsep untuk membawa suasana house party yang sering dijumpai di skena punk luar negeri bahkan negeri jiran Malaysia, Filipina dan Singapura.
Bonuspack menjadi penampil pertama malam itu. Band yang baru saja meluncurkan EP pertamanya The Beginning ini melancarkan serangan riff-riff tajam dan evoking 90s pop-punk ala Rufio dan NOFX. Selanjutnya adalah Not As Bad, band yang mengaku terinfluence oleh The Story So Far dan Portland ini memeriahkan gig tersebut dengan pop-punk yang lebih modern (baca: easycore). Dengan penampilan yang energik, sofa yang terletak di depan stage mendadak jadi taman bermain sekaligus safety device bagi moshpit yang girang.
Sesi berikutnya menjadi milik Brigade07 dan Hot New Camp, dua band ini juga kebetulan menjadwalkan tur di bulan yang sama dengan acara ini. Brigade07 masih sama, mengguyur house guest Couch to Couch dengan elegia pop-punk, balada move on dan melodi-melodi yang menggugah. Begitu pula dengan Hot New Camp yang kembali membawa suasana bengal dengan sedikit cover dari NOFX dan tentunya lagu-lagu dari EP mereka Doin Pop punk, seperti Don’t Pick Up The Phone dan Chasing Rainbow.
Suasana house party sangat terasa di Couch to Couch, ada yang membawa bantal kesana kemari pada akhirnya tidur di lantai karena kelelahan dan ada yang duduk-duduk berjejer di sofa depan stage, bahkan mc kipo dan dandy duduk di sofa layaknya mengobrol di tengah livingroom bersama teman-teman. Malam makin larut, dua band yang punya hajat bersiap untuk pamer materi baru. Namun sebelum Story Starry Nite dan Write The Future tampil, terlebih dahulu Spotlight Tonight menjaga aura crowd yang sedang panas. Sang frontwoman Ayus dengan anggunnya menyanyi ditengah dentuman synth power pop.
Story Starry Nite kemudian memulai sesinya, melalui vokalisnya Gesit Murtiarta mereka sedikit menyajikan brief history dan prologue tentang Couch to Couch. Mereka tampil dengan lagu-lagu dari EP Beginning a Winning serta sedikit preview dari split EP Couch to Couch. Mereka menutup penampilannya dengan tembang yang sedikit twinkly dengan judul Tumbuh Tuk Menjauh. Berikutnya, giliran Write The Future unjuk gigi. Dimulai dengan Consequences yang diambil dari EP baru mereka Bury My Trace Someone Will Take My Place yang dilanjut dengan Details, dan cover dari Basement yaitu Pine. Tidak ada yang tidak ber-sing along pada lagu tersebut. Couch to Couch pun diakhiri dengan Safe To Say yang terkenal dengan outro Bury My Trace Someone Will Take My Place yang begitu heartfelt.
Teks oleh Akhmad Alfan Rahadi & Foto oleh Dedi Widianto

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Gastronout; Menggiring Pegiat Kreatif Sidoarjo Untuk Produktif (Lagi)

Published

on

Penampilan Silampukau di Gastronout. (Dok. AAA)

Selama setahun ke belakang, Sidoarjo terus berbenah. Mempercantik tiap sudut kota dengan taman hingga tempat hiburan. Baru-baru ini malah toko ofisial milik klub sepakbola Persebaya muncul di pusat keramaian kota Udang. Selain itu, dibangunnya mall dengan signature rollercoaster yang menembus kaca ruangan juga punya andil memadatkan salah satu kota Industri di Jawa Timur tersebut. Alhasil, Sidoarjo makin ramai, namun apakah industri kreatif-nya juga demikian?

Ya, mungkin banyak yang bertanya pada ke mana kehidupan seni di Sidoarjo? Coba mengerucut ke musik. Ke mana nama-nama seperti Relics, Remaja Tanpa Cinta, Pingpongdash, Mahkota Jaya Abadi, The Shantoso, Zombie vs Plants, Westfall, atau Dracula Omnivora? Beberapa mungkin memang sudah istirahat dengan tenang, namun ada diantaranya yang masih menggantung tanpa arah. Beberapa waktu silam kami juga sempat menyaksikan gig dari band-band grunge Sidoarjo di JJ Park, yang sayangnya tempat itu sudah ditutup.

Sampai di pekan lalu (13-15 Juli), sebuah acara bertajuk Gastronout digelar di Cannopi; kafe yang berada juga di pusat Sidoarjo tampak menyedot banyak muda-mudi setempat. Tidak kaget memang, pasalnya ada nama Silampukau di sana. Band yang sukses menarik perhatian penyuka folk itu berkesempatan tampil untuk kesekian kalinya di Sidoarjo. Hadir juga The Suku Dalu, pemain lama di skena kota tersebut. Kafe yang seharusnya minimalis pun terlihat sesak. Begitupun keesokan harinya, takkala dua band Malang; Young Savages dan Beeswax berbagi panggung dengan dua band Surabaya; Humi Dumi dan Cotswolds.

Selain pertunjukan musik, terdapat juga aktivitas cukil serta beberapa aktivitas lainnya. (Dok. AAA)

Gastronout sendiri merupakan event yang diinisiasi oleh AAA (Andasih; Alangen; Adamar). Kalau tidak salah, dalam Bahasa Jawa, ketiga kosa kata itu merujuk pada makna mengabdi dan bersenang-senang. Sejak Mei kemarin, AAA mulai membuat pergerakan kecil yang dinamai Palapa. Bukan sekadar pertunjukan musik, tapi juga berbagi ilmu serta pengalaman, mengadakan pameran, hingga workshop dalam satu acara.

Dan Gastronout sendiri ialah event ketiga mereka. Gastronout pun bukan sembarang nama. Kata ini jika dipenggal memiliki dua fonem; yakni Gas sebagai aksen atau kata yang biasanya digunakan untuk mengiyakan, “ayo budal nang sumur welot? gas, budal tok!”. Sementara astronout, tentu memaknai tentang menjelajah jauh melewati batas. Terendus sebercak aroma movement yang tulus dari anak-anak di kota ini. Meskipun di beberapa event ini mereka mendapat dukungan sponsor, tidak menutup kemungkinan ke depannya mereka berani berdiri mandiri meskipun dengan dana seadanya. Memang sudah seperlunya industri kreatif di Sidoarjo mulai mengikuti perkembangan kotanya yang kian maju dan terus berbenah. Mungkin, kolektif AAA inilah insiator barunya, menggiring para pegiat di kota ini untuk kembali produktif.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

EVENTS

Gallery: Patua Youth Crew #4

Published

on

Weekend yang padat. Tim kami harus berbagi waktu dan tempat untuk meliput event-event di Surabaya selama Sabtu dan Minggu kemarin. Salah satunya reunian keempat dari gerombolan Patua Youth Crew yang digelar hari Sabtu kemarin (14/7) di Monkasel. Padatnya line up yang diangkat berdampak pada minimnya menit tampil tiap band. Tapi tetap saja, yang namanya reunian tidak pernah luput dari temu kangen. Dan itu membuat penonton ‘baru’ terlihat linglung, kemudian memilih peduli setan untuk larut saja ke dalam mosphit.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

EVENTS

Silaturockme: Forum Dua Arah Antara Musisi & Media

Published

on

Forum yang mempertemukan antara musisi dan media, kini bukan lagi makanan langka. Apalagi jika membahas hal paling mendasar; tentang bagaimana di publish dan apa saja syaratnya? “Kene goblok-goblokan ae yo, cek podo takok. Mene gak ngisin-ngisini lek ketemu wong media (Kita di sini goblok-goblokan aja ya. Biar pada tanya semua, besok gak malu-maluin kalo ketemu orang media,red)” celetuk Abas, selaku host yang berduet dengan Cak Boker.

Diskusi bertajuk ‘Silaturockme’ yang digelar pekan lalu (1/7) di P-Two Cafe tersebut melibatkan Brian dari Vojo Music, Ian Darmawan (Ronascent), dan Wira (Apresiasi ID & M-Radio). Ketiganya saling berbagi pengalaman mereka ketika menemui berbagai macam musisi. Adapun forum tersebut berjalan dua arah dengan banyaknya pertanyaan silih berganti. Setelah diskusi, acara berlanjut ke gigs, dengan 11 band kolektif yang tampil secara acak berdasar hompimpa.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya