Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

LIVE REPORT

#GigSeadanya [Day 2]: The Wise Menghipnotis, GRIBS Membaptis, Sisanya Memberontak

Published

on

Kampus Unesa Lidah Wetan yang terasa seperti di hutan kota nan primitif mendadak menjadi eksotis. Pasalnya, hari kedua #GigSeadanya berlangsung cukup intim dan menyenangkan di sana. Lagi, aksi hair metal revival asal Jakarta, GRIBS mengobrak-abrik gigs ini dengan line up band lokal Surabaya yang berbeda dan tentunya masih dengan nuansa temaram yang menemani glamournya musik mereka. ”Yeah! Saya suka penonton Surabaya! Selalu suka!” ungkap vokalis GRIBS, Rezanov sesaat sebelum tampil.

Tuan Tanah, band pembuka, membuka waktu menuju senja dengan musik Ambient yang mereka usung: semacam soundtrack yang pas menjelang Adzan Maghrib. Tuan Tanah tampil prima dengan instrumentalia gelap nan misterius yang hanya tersembur dari synthytizer dan melodi gitar. Menjelang malam hari, suguhan istimewa datang dari Edso Coustic, yang meramu konsep pop dengan akustik. Mereka sempat membawakan lagu Unconditional dari Katy Perry selain lagu-lagunya sendiri. Grup pop-punk dari Unair, Nevermore berhasil melumat habis tatanan kesenduan yang dilakukan oleh dua band sebelumnya. Di sini mereka bermain blak-blakan, mengingatkan pada musik-musik ala Sum 41

Makin larut gig pun semakin ramai ini ketika mulai mengencangkan ikat pinggang untuk ber-moshing ria via Tiga yang membawakan dengan apik cover lagu dari band post-punk Marjinal. Energi three-fuckin-chord yang termashyur meledak mengiringi Lagu Aku Ingin Sekolah Gratis, lagu yang tepat sasaran sembari mengkritik biaya kuliah yang semakin mahal. Suasana yang berapi-api ini tak begitu saja dilewatkan, muncul Jodum, band anyar gabungan Devadata dan LGCB yang di vokali salah seorang MC kawakan, Keweh. Hentakan Oldskul Hardcore kembali mengajak moshpit lewat lagu berbahaya macam Satpol PP dan Buang Sampah. Kondisi tersebut terjaga hingga Egon Spengler tampil, bahkan band dengan single Molotov Muda ini semakin mengacak-acak crowd tak karuan.

Puas berjingkrakan, The Wise menurunkan tempo sejenak dengan ramuan instrumentalia serta sound yang menghipnotis penonton. Ada nuansa Radiohead yang misterius saat band ini memulai aksinya. Efek delay yang terus menerus dihujani raungan gitar mengawang seketika membuat penonton terbius. Sempat ada rasa berat hati ketika The Wise menyudahi permainan. Tapi semua itu langsung tergantikan oleh munculnya Charlie’s Rum And The Chaplin. Membawakan lagu-lagu punk dengan nuansa etnik, band ini sempat memperolah komentar dari Eben Andreas, gitaris GRIBS yang kebetulan sedang bersiap untuk tampil. “Gila! Musiknya kayak Rancid banget!” katanya. Tak heran karena Charlie’s Rum sendiri mendefiniskan aliran musiknya sebagai irish-folk-punk.

GigSeadanya4Yang dinanti-nanti pun akhirnya tiba. Rezanov (vokal), Eben Andreas (gitar), Gahariden Sukaca (drum) dan  Hugo Singarimbun (bass) langsung disambut dengan gegap gempita penonton. Tanpa di komando, mereka langsung membuat penonton merapat hingga benar-benar dekat. Sinetron Indonesia—lagu pembuka, langsung menyentil penonton untuk headbanging. Salah satu lagu dari dedengkot thrash metal, Shouth Of Heaven dari Slayer yang juga di cover oleh band metal legendaris Indonesia Disinfected turut dibawakan dengan kencang oleh GRIBS.

Hingga akhirnya Sampai Jumpa Di Neraka serasa seperti menyiramkan solar pada api moshpit yang mulai tak terbendung lagi. Dari mulai pogo dancing, slam dance, diving hingga headbanging liar semuanya seakan memuncak di lagu yang versi albumnya direkam dengan bintang tamu Arian13 dari Seringai pada vokal ini Rock Bersatu yang sekaligus menjadi klimaks dari performa mereka.

GRIBS membaptis Surabaya dengan hymne rock andalannya. Jika band legendaris Roxx mempunyai lagu kebangsaan Rock Bergema, maka GRIBS mempunyai Rock Bersatu sebagai anthem. Di akhir lagu, Rezanov, sang vokalis, sempat dipeluk dan kemudian diangkat oleh penonton sembari dielu-elukan ketika lagu tersebut berakhir. Suasana yang sungguh mengharu-biru. Lagu ini menjadi pamungkas pertunjukkan GRIBS malam itu.

Walaupun tanpa encore, GRIBS sudah mampu melampaui ekspekstasi penonton dengan aksi panggung yang memukau.Mooikite, band yang juga ambil bagian dalam Ronascent Compilation #1 tampil sebagai penutup. Dengan formula alternatif yang mereka bawakan, penonton benar-benar merasakan klimaks yang sempurna. Mookite membawakan Agatha, satu lagu dari kompilasi Ronascent yang sekaligus menutup pagelaran #GigSeadannya. Penonton yang puas dan pulang dengan senyum tersungging di mulut, membawa setitik harapan: semoga gigs-gigs seperti ini bisa menjadi acara yang rutin diadakan. See you in the next GIGS!

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Merayakan 14 Tahun Blingsatan & Meroketnya 6 Rilisan Baru Skena Punk

Published

on

14 Tahun Blingsatan (dari kiri): Saka, Amir, Arief. (Foto: Novan Rebellnoise)

Euforia band gaek asal Surabaya, Blingsatan kemarin tak terbendung lagi. Sehari pasca merayakan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-74, trio punk yang beranggotakan Arief, Saka, dan Amir itu juga merayakan hari jadinya yang ke-14. Dengan titel event Merocket #1 yang digelar di M-Radio Surabaya kemarin malam (18/8), mereka sekaligus melempar album The Best of Blingsatan, From The Past For The Future. Di tengah penampilannya, Blingsatan menyematkan seremoni pemotongan kue yang menandakan bertambahnya usia mereka. “Kue ini untuk kita semua, terima kasih yang sudah memberi support buat Blingsatan hingga kini!,” ujar Arief di sela-sela penampilannya.

Dalam setlist semalam, Blingsatan membawakan mayoritas lagu lama, seperti I Don’t Know Where, Belia, Si Sexy, Yang Muda Yang Bercinta, Waiting Is Hard Things To Do dan Berbeda Merdeka. Gigs semalam memang menjadi ajang bersenang-senang. Lupakan sejenak segala kesempurnaan di atas panggung, karena yang ada hanyalah sing along, alkohol, dan colekan kue tart yang menghiasi wajah ketiga personil Blingsatan.

Perayaan ulang tahun Blingsatan pun semakin marak dengan rilisan masal yang dilakukan oleh band-band penampil sebelumnya. Seperti Tulipe de Gezner yang akhirnya merilis album Berdiri Untuk Melangkah. Kemudian Melaju yang memperkenalkan mini albumnya Triakan Kebersamaan serta dua single baru yang meluncur masing-masing dari Dindapobia berjudul Overnow dan  Cheers The Punk dari Radiocase. Dan tentunya juga album digital The Best of Blingsatan, From The Past For The Future yang kabarnya akan menjadi pemanasan bagi Blingsatan untuk merilis album keempatnya.

Merocket #1 akhirnya ditutup lewat penampilan kolaboratif dari Hometown Rockers yang menampilkan musisi-musisi punk dari berbagai band seperti Happy Arabika (Pig Face Joe), Biyan (Plester-X), Paul (Give Me Mona), dan Ucup (Tulipe de Gezner). Menampilkan beberapa hits ala punk rock seperti Blitzkrief Bop, Basketcase, hingga When I Come Arround, mereka pun menutup pesta singkat Blingsatan yang selesai tidak lebih dari jam 9 malam, punk rock yang tertib!

 

Continue Reading

EVENTS

SUBNATION VOL.2: Gigs Penutup Ramadhan Klimaks

Published

on

Bagai oase di tengah padang pasir. Setidaknya frase tersebut lah yang menjadi acuan untuk gelaran Subnation Vol.2! Bulan ramadhan tidak membuat teman-teman diam dan malah terus aktif untuk berkarya. Terlebih lagi kegiatan Subnation kemarin jadi klimaks yang kompleks  sebelum ramdhan berakhir, karena Subnation Vol.2 tak hanya menyajikan performer terbaik tapi lengkap dengan sesi diskusi edukatif, hingga marketplace. Subnation pun melibatkan pasarnoise untuk tenant mereka. Sayang karena keterbatasan gear kami bawa, redaksi pun hanya berhasil menangkap para performer. Selebihnya kalian harus datang sendiri untuk menikmati gelaran event Subnation. Tunggu event mereka selanjutnya dan pantau informasinya melalui akun instagram @subnation031 Selamat menikmati.

Continue Reading

EVENTS

Downtown Take Over: Sebuah Upaya Pertemukan Berbagai Generasi

Published

on

Melanjutkan acara sebelumnya, Talk Bus Tour, Paranoise kembali membuat sebuah suguhan yang bermaksud untuk me-recall ingatan kita tentang skena musik di Surabaya. Jika Talk Bus Tour kemarin sempat membawa kita berjalan ke tiga tempat legendaris di dunia permusikan Surabaya, kini acara terbaru mereka Downtown Take Over pun ikut memainkan beberapa band lawas yang tujuannya memperkenalkan dari generasi ke generasi. Ada Noxa, Murphy Radio, Piston, Let’s Go Cmon Baby, Berdikari, Plester-X dan Egon Spengler. Berikut laporan kami.

Continue Reading

Surabaya