Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

LIVE REPORT

Cak Kartolo dan Orkestra: Kolaborasi Etnik Surabaya

Published

on

Salah satu Gedung pertunjukkan baru yakni Gedung Balai Budaya di komplek Balai Pemuda Surabaya sudah mulai rutin beraktiviats. Sejumlah acara seni mulai sering diselenggarakan selama beberapa bulan belakangan ini, mulai dari Wayang, Tari tradisional, hingga ludruk. Euforia mulai aktifnya gedung pertunjukkan baru ini memang banyak menimbulkan rasa penasaran masyarakat Surabaya, terutama mengenai akustiknya yang terlihat cukup megah dan terlihat ‘mewah’.

Senin malam (31/3), gedung eks Bioskop Mitra tersebut dimeriahkan dengan kolaborasi musik yang bertajuk “Pagelaran Orkestra Etnik Kontemporer” oleh Liwet Orchestra Surabaya. Mereka memainkan sejumlah aransemen dari lagu daerah Suroboyo, seperti Rek Ayo Rek, Semanggi Suroboyo, Tanjung Perak, dan beberapa lagu tembangan lainnya. Sejumlah penyanyi, mulai sinden, penyanyi keroncong, hingga penyanyi blues dan jazz juga ikut memeriahkan konser malam itu.

Salah satu yang paling mencuri perhatian penonton adalah kehadiran Cak Kartolo di komposisi rek ayo rek yang berkolaborasi dengan orkestra parikan khas Kartolo. Sayangnya, durasi kolaborasi dengan Cak Kartolo tidak berlangsung lama, sehingga penonton pun sempat melayangkan seruan “imbuh” (nambah, red.) setelah sajian penampilan beliau. Padahal, kehadiran beliau justru menjadi bagian yang sangat ditunggu oleh penonton, dengan gaya parikan yang menyelipkan ‘kritik’ yang segar di dalamnya.

Dengan konsep gabungan combo band, orchestra (format ensamble), sejumlah alat tradisional, vocal ensamble, dan sejumlah penyanyi cukup menampilkan gaya etnic yang ingin ditonjolkan.  Cukup menghibur, terlepas dari perkiraan durasi yang terlalu singkat, dan kemasan konsep musik yang masih terkesan ngetnic. Sebagai sebuah sajian kolaborasi musik, pertunjukkan tersebut cukup menarik minat banyak masyarakat Surabaya, terbukti banyak penonton yang memadati kursi Gedung Balai Budaya tersebut.

Acara yang berlangsung tidak sampai satu jam ini turut dihadiri oleh Walikota Surabaya, Tri Risma Harini, sebagai upayanya dalam mendukung kesenian di kota Surabaya. “Kami ingin rutin menampilkan sajian kesenian yang tradisional maupun yang non tradisional di Surabaya,” ujar bu Aci, salah satu panitia acara.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Downtown Take Over: Sebuah Upaya Pertemukan Berbagai Generasi

Published

on

Melanjutkan acara sebelumnya, Talk Bus Tour, Paranoise kembali membuat sebuah suguhan yang bermaksud untuk me-recall ingatan kita tentang skena musik di Surabaya. Jika Talk Bus Tour kemarin sempat membawa kita berjalan ke tiga tempat legendaris di dunia permusikan Surabaya, kini acara terbaru mereka Downtown Take Over pun ikut memainkan beberapa band lawas yang tujuannya memperkenalkan dari generasi ke generasi. Ada Noxa, Murphy Radio, Piston, Let’s Go Cmon Baby, Berdikari, Plester-X dan Egon Spengler. Berikut laporan kami.

Continue Reading

EVENTS

Penampilan Golden Mammoth di Surabaya

Published

on

Band bermuatan psychedelic rock asal Malaysia, Golden Mammoth berkesempatan menggelar pertunjukannya di Surabaya. Dalam acara yang digelar di Nens Corner tersebut, band ini berbagi panggung dengan sederet band lokal, mulai dari yang paling muda ada Eisen, kemudian Timeless, Rasvan Aoki hingga Let’s Go Cmon Baby yang kembali bereuni. Berikut foto-foto hasil liputan kami.

Continue Reading

EVENTS

Suaka Karya Sidoarjo: Berkumpulnya Para Penunggang Militia

Published

on

Ricky Siahaan, gitaris Seringai di Soundsations Suaka Karya Sidoarjo akhir pekan lalu (16/3). Foto: Luqman Darwis

Dua hari dihadapkan dengan cuaca mendung dan hujan tidak membuat acara Suakakarya menjadi sepi, pasalnya lineup mereka kali ini cukup untuk memadukan warna nasional dan lokal Sidoarjo. Bertempatkan di Lapangan Parkir Transmart Sidoarjo, Suakakarya kali ini masih membawa konsep kolaboratif. Ada beberapa komunitas yang digandeng, seperti pegiat fotografi Instanusantara dan Explore Sidoarjo yang memamerkan karya mereka sembari menanti tujuan utama dari acara ini: selebrasi bagi para Penunggang Badai dan Serigala Militia.

Penunggang Badai sebagai fans setia dari Barasuara meramaikan acara di hari pertama. Barasuara yang bermain pertama kali di Sidoarjo dapat membawa suasana menjadi sendu dan penuh hikmat untuk para penikmatnya. “Biar Tapi Jadi Bukti” yang jadi tagline Suakakarya kali ini dibuktikan oleh Barasuara yang beberapa waktu lalu baru saja merilis album terbaru mereka. Sebagai selebrasi awal, penampilan dibuka dengan lagu dari album baru yaitu Perjalanan dan Pikiran. Sejak awal pula para Penunggang Badai langsung terhanyut dalam suasana yang syahdu. Selain itu band yang beranggotakan 6 orang ini juga membawakan beberapa lagu dari album sebelumnya seperti Sendu Melagu dan Bahas Bahasa. Sebelum Barasuara tampil pun, lineup sebelumnya yang juga ikut meramaikan seperti Wake Up, Iris!, Espona, dan juga band lokal JR. Smith.

Irama musik keras Seringai menjadi penutup acara pada besoknya (16/3) kemarin. Tetap dengan lineup lagu yang menjadi favorit para Serigala Militia, membuat suasana venue menjadi tegang. Musik keras oleh Seringai disambut hangat dengan gerakan moshing sebagai bentuk luapan Serigala Militia dapat menyaksikan band favoritnya. Terlepas itu hari kedua juga diramaikan dengan penampilan band lainnya seperti Black Rawk Dog, Lepas Terkendali, dan juga Ismasaurus.

Foto & Teks: Luqman Darwis

Continue Reading

Surabaya