Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS

The Final Tour Akhiri Karir Mötley Crüe

Published

on

Rumor The Final Tour yang dikaitkan dengan bubarnya Mötley Crüe ternyata memang valid. Selasa kemarin (28/1), kuartet Vince Neil, Niki Sixx, Tommy Lee dan Mick Mars akhirnya benar-benar mengumumkan bubarnya band yang mereka besarkan sejak 1981 tersebut. “Semua hal pasti ada akhirnya, tapi kami selalu punya ide untuk membuat karya lain bersama satu atau dua personel asli Motley Crue,” ucap Tommy Lee.
Sekalipun tidak dijelaskan secara terperinci alasan bubarnya band heavy metal ini, tetapi Tommy dkk sepakat bahwa Mötley Crüe telah mencapai puncak karirnya sehingga sudah waktunya untuk diakhiri. “Banyak band yang telah melewati puncak karirnya lalu terperosok, kami tidak ingin seperti mereka,” lanjutnya. Penggebuk drum Mötley Crüe ini juga mengaitkan pada beberapa band besar lain yang setelah bubar lalu melakukan reuni, dan ia membantah jika Mötley Crüe akan melakukan hal serupa. “Apapun yang terjadi kami (Mötley Crüe,red) tidak akan ada lagi setelah ini,” tegasnya.
Walau begitu, faktor yang menyebabkan mereka menyudahi karir bermusiknya bersama Mötley Crüe tidak dilatarbelakangi oleh emosi atau konflik antar personil. Semuanya tampak berakhir baik-baik saja sama seperti ketika mereka kali pertama melepas album Too Fast for Love di tiga dekade silam. Prosesi pembubaran band pelantun Home Sweet Home ini ditandai dengan penandatangan kesepakatan dari empat personil di jumpa pers The Final Tour pekan lalu. 
The Final Tour sendiri akan menjadi tur dunia terakhir bagi Mötley Crüe karena selepas tur tersebut mereka akan resmi bubar. Rencananya The Final Tour akan berlabuh di 72 venue bersama Alice Cooper yang dimulai bulan Juli mendatang hingga 2015. Selama 35 tahun berkarir, Mötley Crüe telah merilis sembilan album studio, yakni Too Fast for Love (1981), Shout at the Devil (1983), Theatre of Pain (1985), Girls, Girls, Girls (1987), Dr. Feelgood (1989), Mötley Crüe (1994), Generation Swine (1997), New Tattoo (2000) dan terakhir adalah Saints of Los Angeles (2008).

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

NEWS

Monkey to Millionaire Sindir Orang Yang Gila Popularitas

Published

on

Artwork Monkey to Millionaire – Envy. (Source: Desire Music)

Monkey to Millionaire sedang melanju dengan kecepatan tinggi. Setahun setelah album Tanpa Koma, Aghan Sudrajat dan Wisnu Aji lanjut tancap gas lewat single baru Envy. Mengamati dengan kritis lalu menyindir dengan sarkartis; MTM masih tetap sama. Di lagu ini, sasaran mereka ada pada orang-orang yang gila popularitas hingga nekat melakukan apapun untuk bisa dikenal. “Bahkan sampai ngejual kehidupan pribadi cuma buat kebutuhan promosi dan naikin nama. Entah itu mengumbar atau diumbar,” ujar Aghan. Mereka mempertanyakan tentang orang-orang yang gila popularitas dengan beragam cara yang bisa dibilang nyaris tidak masuk akal.

Single Envy sendiri dijadikan single pertama yang akan mewakili album keempatnya. Jika dibanding Titik Koma atau Lantai Merah, Monkey to Millionaire terdengar seperti ingin menunjukan betapa easy listening-nya lagu mereka. Nada-nadanya terasa manis dan menyenangkan, tidak sarat emosi atau eksperimen sound seperti beberapa lagu terdahulu. “Kita ngerasain banget berkembang dari segi aransemen untuk lagu-lagu baru. Karena ternyata untuk membuat lagu terdengar sederhana dan catchy itu susah ya. Rasanya udah lama sekali nggak ngelakuin hal itu,” lanjut Aghan seraya tertawa.

Berbicara proses album terbarunya, Monkey to Millionaire memilih untuk fokus dalam penggodokan materinya. Bahkan untuk judul, mereka memilihi untuk tidak membicarakannya lebih dulu. Yang pasti, mereka sudah menyiapkan beberapa hal baru, seperti logo dan juga additional drum.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

FEATURES

Not Sad, Not Fulfilled; Album Cinta Anak Muda yang Akan Terbang se-Asia Tenggara

Published

on

Grrrl Gang (Photo: Nadine Hanisya)

Grrrl Gang dengan jiwa mudanya semakin kental terasa. Kita bisa mendengarnya di debut mini album Not Sad, Not Fulfilled yang baru saja di rilis digital pekan lalu (9/10) via label Kolibri Rekords. Angeeta Sentana (vokal, gitar), Edo Alventa (gitar, vokal), dan Akbar Rumandung (bass, vokal) menyebut jika romansa cinta anak muda masih jadi tajuk utama di album mereka. “Album ini berkutat di kehidupan picisan anak muda yang penuh intrik, cinta, dan pencarian jati diri. Begitupun pada departemen musik, di mana pengaruh indiepop, indierock, punk, hingga sentuhan blues serta country diolah jadi balutan nuansa segar dan dekat dengan generasi muda.” tulis mereka di rilis pers yang Ronascent terima.

Proses pembuatan album ini terbilang singkat. Grrrl Gang menghabiskan sekitar lima bulan sejak April kemarin di Lahan Erros Studio. Band asal Yogyakarta ini dibantu Tutoet Daru saat proses rekaman, serta Ferry Kurniawan di bagian mixing dan mastering. Nama terakhir juga punya andil dalam melesatkan single Film Favorit milik Sheila On 7. Total ada lima lagu yang mereka suguhkan, termasuk Dream Grrrl yang digubah ulang. Dari kesemuanya, Grrrl Gang memilih Pop Princess sebagai single pertama yang mengisahkan tentang toxic relationship. “Lagu ini berupaya mendorong para wanita muda untuk berani meninggalkan hubungan yang tidak sehat demi hidup yang lebih bahagia,” ujar penulis lagu Angeeta.

Grrrl Gang beserta Kolibri Rekords pun tidak perlu menunggu lama untuk menyebarluaskan album ini. Kelar berkeliling mengunjungi Semarang, Surabaya, Malang, Malaysia, Singapura, dan Filipina pada semester awal 2018 lalu, trio indiepop ini siap melanjutkan turnya lagi. 20 kota di Indonesia dan Asia Tenggara sudah dipastikan akan menggelar tur promo EP Not Sad, Not Fulfilled selama Oktober hingga November. Grrrl Gang diagendakan tampil untuk jadi pembuka grup indierock muda Amerika Serikat, Snail Mail di Jakarta. Menunggu kemudian, dua pertunjukan di Bangkok, Thailand, serta dua pertunjukan di gelaran rutin Rocking the Region oleh Esplanade, Singapura. Jadwal lainnya pun akan diumumkan dalam waktu dekat.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

NEWS

Suara Rekah Tentang Fenomena Perisakan dan Perundungan

Published

on

Rekah, kolektif post-hardcore Jakarta yang baru saja melempar klip terbarunya.

Pernahkah kalian mengalami perisakan atau lebih dikenal sebagai bully? Jika pernah, maka kalian tidak sendirian. Unit Post-Hardcore asal Ibukota bersama Hantu Records & Publishing baru saja mengeluarkan karya terbaru berupa video musik dan zine.

Video musik yang disutradari oleh drummer Rekah sendiri, yaitu Johan Junior dan diproduseri oleh vokalis Nonanoskins, Zara Zahrina ini menjadi manifestasi dari pengalaman Faiz Alfaresi (vokalis Rekah) tentang perisakan yang pernah ia alami. Dibintangi juga oleh sang vokalis, video ini mengilustrasikan bagaimana perisakan dan perundungan bisa mendarah daging di ingatan para korbannya.

Video ini diisi dengan gambaran kehidupan seorang pemuda yang terlihat biasa saja sedang memasak mie instan ala anak kost di tanggal tua, menyeduh kopi untuk mencari inspirasi, dan menonton televisi untuk membunuh kebosanan. Dibalik normalnya rutinitas tersebut ternyata terdapat memori buruk yang masih menghantui. Sesekali memori itu muncul ke permukaan dan seakan menjadi nyata. Di sinilah pesan bahwa ingatan tentang pengalaman perisakan dan perundungan itu masih dapat tersimpan dan diingat oleh korbannya.

Sebagai klimaks, di video musik ini disajikan adegan di mana Faiz berada di satu ruangan dan disiksa. Adegan penyiksaan berdarah-darah ini disajikan dengan warna hitam putih seperti scene berdarah-darah yang ditayangkan di televisi agar tidak di permasalahkan KPAI. Di scene ini sepertinya representasi “GULAG” itu dijelaskan, bahwa perisakan dan perundungan yang masih banyak terjadi bisa diindikasikan sebagai “the next GULAG”. Jadi jika jaman dahulu “GULAG” merupakan salah satu sistem birokrasi milik Uni Soviet, sekarang “GULAG” bisa diartikan menjadi fenomena perisakan atau perundungan.

Selain itu, Rekah bersama Hantu Records & Publishing juga merilis zine yang bisa dipesan lewat Instagram @hanturecs. Zine ini memuat beberapa cerita tentang perundungan dan melalui zine ini diharapkan meberikan ruang untuk mengamplifikasi suara para korban. Lewat zine tersebut, kalian juga bisa mengunduh lagu terbaru rekah ini.

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

Surabaya