Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EDITOR'S PICK

Methiums (EP): Proyek Solo Berat Sarat Progresi

Published

on

MethiumsBayangkan jika Dream Theater tanpa James LaBrie, dan Metallica tanpa James Hetfield. Sound heavy, distorsi berisi, musik atraktif penuh progresi: bentuk instrumentalia yang mungkin terdengar jika dua band tersebut berjalan tanpa vokal. Tak perlu jauh-jauh ke luar sana untuk menikmati sensasi itu. Arya Akbara, pentolan Athenian dan Headcrusher ini menggagas sebuah proyek berkonsep instrumental dengan musik yang condong pada Progressive Metal. Proyek itu bernama Methiums, sebuah proyek solo penuh ambisi yang kesemuanya tercipta lewat tangan Arya.

“Methiums adalah proyek sampingan di luar Headcrusher dan Athenian. Ya kurang lebih buat nyalurin nafsu bermain gitar yang nggak kesampaian di Headcrusher dan Athenian,” terang Arya kepada Ronascent. Klimaksnya adalah lima track dengan akar progressive yang kuat dan terangkum dalam Methiums (EP). Bouyanci membuka EP ini dengan ketukan-ketukan berat, kombinasi yang dinamis antara energi drum yang terus memburu dengan sound gitar mengingatkan pada John Petrucci. Semacam soundtrack yang pas di kala memainkan game masa kecil yang penuh ketegangan, Mortal Kombat.

Ketegangan yang sama dilanjutkan dengan track kedua Buster Rancher; penuh energi, bermain Mortal Kombat tak pernah setegang ini!. Terus melaju dengan Dank, track terpendek dalam Methiums. Dibandingkan dengan track lainnya yang berkisar empat menit, Dank seakan menyoraki kita untuk segera menghabisi lawan dan menyudahi permainan. Jika kita memilih Rayden, maka tak butuh waktu lama untuk melempar caping maut; memotong urat leher lawan. Tapi Mortal Kombat belum usai, begitu juga dengan Methiums (EP). Effluvium menghajar telak, diteruskan dengan Liu Kang yang merangsak ganas menyudahi permainan lewat track terakhir Nelipot. “You Win!” seketika meluncur dari layar SEGA.

Menurut Arya, Methiums mencoba mengikuti jejak para musisi solois international dengan aliran semacam ini, sebut saja B.M Sharp (Cloudclicker), Misha Mansoor (Bulb) dan Paul Ortiz (Chimp Spanner). “Aliran semacam ini di scene luar sudah cukup dikenal, baik soloist ataupun band.” jelasnya. Proses dibalik Methiums (EP) ini juga amat sederhana, tak serumit musik mereka, “Rekaman di kamar dengan laptop, gitar dan bass direkam sendiri, untuk drum sementara ini masih memakai software,” lanjut pria kelahiran Jakarta tersebut.

Meskipun EP ini cukup bagus dari segi musik dan recording, tapi kurangnya beberapa hook atau bagian yang menyentil dalam lagu ini membuat isi album secara keseluruhan terasa monoton. Teknik dan musik dari keseluruhan lagu hampir terdengar sama, tanpa selingan “sesuatu” yang segar. Apalagi EP ini hanya mengandung instrumentalia tanpa vokal, sehingga kekuatan lagu belum sepenuhnya nampak. Mungkin di EP selanjutnya Methiums bisa menonjolkan raungan melodi yang lebih berwarna-warni sebagai pengganti daya magis vokal. Tapi, terlepas dari itu semua, Methiums (EP) sungguh sangat pas untuk sekadar didengarkan ketika telinga membutuhkan suguhan semangat berapi-api dari rock progressive, tentunya di saat bermain Mortal Kombat.

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Dialog Ibu & Anak Dalam “Berita Kehilangan” Milik Feast

Published

on

Artwork Berita Kehilangan yang dikerjakan Mikael Aldo & Baskara Putra. (Dok. Feast)

.Feast makin memantapkan posisinya sebagai band yang cukup responsif terhadap lingkungan sosial sekitarnya. Usai klip Peradaban yang cukup frontal, kemarin (10/8) mereka kembali melempar lagu sekaligus klip baru berjudul Berita Kehilangan. Secara lirik, apa yang mereka tuliskan masih cukup sarkas, namun implisit. Bedanya, nuansa musik yang diperdengarkan sangat sesuai dengan klipnya; gelap, berduka, dan pemakaman.

Lagu Berita Kehilangan ini ditulis sendiri oleh vokalis mereka, Baskara Putra. Ia terinspirasi dari beberapa kasus kriminalisasi yang telah terjadi, salah satunya yang menimpa mendiang temannya Raafi Aga Winasya Benjamin tujuh tahun silam. Adapun sebuah surat milik orang tua korban kriminalisasi lainnya juga menjadi sumber inspirasi mereka, sekaligus sebagai bentuk empati terhadap kasus-kasus tersebut.

Selain audio dan video yang cukup membangkitkan ambient lagu, kehadiran Rayssa Dynta sebagai kolaborator justru makin mendramatisir. Tiap bait yang dinyanyikan .Feast dan juga Rayssa Dynta dibuat seperti dialog antara Ibu dan Anak. Dialog itu menggambarkan bagaimana seorang Ibu yang berusaha mengikhlaskan kepergian anaknya. Begitupun sebaliknya, sang anak juga coba menguatkan Ibunya.

Single terbaru milik kolektif rock Ibukota ini sudah bisa dinikmati secara digital melalui layanan streaming Spotify, Joox, Apple Music, Deezer dan sejenisnya. Lalu untuk video klipnya bisa dinikmati lewat kanal Youtube ofisial atau IGTV milik .Feast.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

FEATURES

Ternyata Tidak ‘Selamanya’ Seringai Absen Rilis Video Klip

Published

on

Behind the scene pembuatan klip Selamanya. (Foto: Rigel Haryanto)

Pada era album Serigala Militia yang rilis 2007 silam, saat itu Seringai melempar tiga video klip. Ketiganya ialah Citra Natural, Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan), dan Serigala Militia. Lima tahun berselang, Arian13 cs absen dalam merilis klip meskipun album saat itu mereka punya gaco baru; album Taring yang cukup melejit. Dan sekarang, setelah 10 tahun absen merilis klip, band Ibukota ini akhirnya kembali menyelesaikan klip yang sekaligus jadi single teranyar mereka berjudul Selamanya.

Selamanya, lagu yang rilis pekan lalu itu mengambil konsep ‘Wahana Pesta Seringai’; gambaran minimalis yang seakan menyampaikan ke pendengar jika Seringai masih akan terus menerus menghibur. Ide itu datangnya dari Surya Adi Susianto, sutradara klip yang juga pernah menangani video musik dari Kunto Aji, Morfem, Ramengvrl, dan Lawless Vomit Crew. “(dalam klip ini) Seringai digambarkan bakal menghibur tiap pengunjung yang naik ke bus dan bersenang-senang bersama mereka sembari berkeliling kota, dan begitu seterusnya,” jelas Seringai melalui rilis pers yang Ronascent terima.

Pasca klip ini, Seringai berencana merilis album keempatnya berjudul Seperti Api yang akan dirilis via High Octance Production. Menurut Wendi Putranto, albumnya akan selesai produksi dalam waktu dekat. Pastinya, akan ada 11 lagu yang diproduseri sendiri oleh gitaris mereka, Ricky Siahaan. Selain diproduseri personil sendiri, cover album Seperti Api juga dikerjakan oleh vokalis mereka, Arian13. Tidak jauh berbeda dengan album sebelumnya, Seringai masih gemar berbicara tentang isu sosial, sambil sesekali berbicara tentang sci-fi. Bahkan mereka juga berkolaborasi dengan solois, Danilla Riyadi. Jadi, silahkan ditunggu. Kemungkinan bulan depan.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

BACKSTAGE

RIP Gibson: Salah Satu Ikon Pembentuk Rock and Roll

Published

on

Jimmy Page (kanan) dengan siganture gitar Gibson double neck-nya. (Foto: Laurance Ratner/Wireimage)

Kita punya hutang yang besar pada Gibson; merek gitar legendaris yang memutuskan mengakhiri bisnisnya bulan ini. Tidak akan ada sound menyalak di Whole Lotta Love-nya Led Zeppelin andaikata Gibson tidak terbentuk 1894 silam. Jimmy Page—guitar hero kita semua—adalah pemakai Gibson Les Paul yang taat. Gibson juga sudah jadi signature Slash, Eric Clapton, sampai Pete Townshend dari The Who. Gibson—tanpa disadari—punya peran membentuk rock and roll, membuatnya bisa semacam agama baru yang pernah diimani hampir jutaan populasi.

Kalian bisa mengeceknya di YouTube, sejauh mana Gibson dan sound-nya yang ikonik, sangat cocok dimainkan gondrongers berjaket kulit dan bersepatu Doc-Mart. Satu lagi, bentuknya—ya Tuhan—lengkungan dan teksturnya membuat kamu sebagai budak rock and roll berpotensi horny; seperti maniak GP saat melihat knalpot Yamaha Rossi; seperti The Gooners yang bernafsu saat melihat trofi Liga Primer.

Cerita soal hancurnya bisnis Gibson dimulai saat perusahaan ini berhutang 1 koma 3 triliun rupiah. Gibson lalu memilih menyerah dan mengaku bangkrut; sebuah sikap yang sebenarnya sangat tidak rock and roll. Meski begitu, Gibson berjanji untuk bangkit, dengan merilis produk headphone dan speaker. Perusahaan asal Nashville ini juga segera merombak ulang susunan perusahaan yang kacau, dan akan menjual kembali alat musik; ini baru rock and roll. Tapi pastinya, kita tetap tidak bisa mengkhianati peran Gibson, membentuk dan mempengaruhi apa yang kita dengar saat ini.

Rekomendasi film soal gitar, sound, and anything like that yang bisa disimak di situs streaming kesayangan kalian: Sound City (2013), It Might Get Loud (2008), HBO Vinyl Series (2016).

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya