Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS UPDATES

Lagi, The Used Kritisi Dunia Lewat Album

Published

on

Tidak perlu diragukan lagi kapasitas The Used yang selama ini sukses memadukan berbagai isu sosial dengan musiknya. Mulai dari album Artwork, Vulnerable hingga yang tahun lalu rilis The Ocean of the Sky semuanya tepat sasaran, sehingga kuartet emo asal Amerika ini berhasil menggiring penggemarnya untuk turut peduli dengan yang mereka suarakan. Sesuai dengan janji Mc Cracken tahun lalu, EP The Ocean of the Sky akan dijadikan jembatan dari album Vulnerable ke album penuh berikutnya. Dan terbukti, belum genap sebulan memasukki 2014, The Used akhirnya mengumumkan detail album keenam mereka.

Adalah Imaginary Enemy yang mereka gadang-gadang akan lebih fenomenal dari album sebelumnya. Jika menilik dari paduan judul album serta cover tentu kita akan dengan mudah merasakan unsur konspirasi yang coba dibangun The Used. George Bush, Che Guevara, Kim Jong Un, Ayatollah Khomeini serta puluhan wajah tokoh dunia lain turut menghiasi sampul depan Imaginary Enemy dengan fokus pada hati yang tergantung.

Seperti yang dilansir oleh loudwire pekan lalu, Bert Mc Cracken akhirnya angkat bicara perihal album keenam bandnya. Baginya, album Imaginary Enemny ini masih terkonsep sama dengan yang sebelumnya di mana mereka terus menyuarakan musik sebagai bahasa yang universal. “Untuk membentuk dunia yang lebih sempurna, tentunya kita harus mempertanyakan cara dunia bekerja. Beberapa orang menganggap seni sebagai cara untuk melarikan diri dari realita, sedangkan yang lainnya melihat seni sebagai cermin yang mencerminkan masyarakat. Terkadang kami sedih, tapi kami percaya bahwa seni bisa menjadi senjata yang digunakan untuk membentuk dunia agar menjadi lebih baik,” jelasnya.

Sementara itu, dari segi musik band yang dikenal lewat single Burried Myself Alive ini tidak banyak mengalami perubahan. Nuansa emo nan progresif masih jadi sajian utama di keduabelas lagu yang tersaji. Untuk pemanasannya, Senin kemarin (27/1) The Used merilis klip pertamanya yang diambil dari track nomor dua, Cry.

Untuk masa pre-order album Imaginary Enemy pun sudah mulai dibuka sejak pekan lalu. Album yang diproduksi oleh Anger Music Group (anak perusahaan dari Hopeless Records) ini akan rilis tepat pada April Fools Day atau biasa kita kenal dengan April Mop yakni tanggal 1 April mendatang. Tentunya sangat menarik untuk ditunggu, terlebih Bert Mc Cracken, Quinn Allman, Dan Whitesides dan Jeph Howard masih belum banyak berbicara lebih detail tentang albumnya tersebut.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

NEWS UPDATES

Dopest Dope Pertanyakan Tujuan Hidup

Published

on

Dopest Dope (dari kiri): Ricky Mahardhika, Rifki Hidayat, Hengki Arisando & Sasmito Prawiro. (Dok. Artventure Management)

Setiap manusia di dunia tentu punya tujuan hidupnya masing-masing. Tujuan itupun beragam, bisa duniawi atau akhirat. Namun jika dimaknai lebih dalam, apakah semua manusia paham dengan tujuan dari kehidupan ini? Sebuah kebingungan pun menghinggapi Dopest Dope. Lewat single barunya Tuju, kelompok alternatif dari Surabaya ini mempertanyakan maksud dari pertanyaan tersebut.

Melalui rilis pers yang kami terima kemarin (30/8), Dopest Dope mengumumkan rilisnya single baru mereka sekaligus bercerita tentang kebingungannya. “Lagu ini (Tuju,red) berisi tentang kegelisahan seseorang yang bertanya-tanya mengenai tujuan sebenarnya dalam hidup. Apakah kematian adalah akhir? atau kehidupan sebenarnya dimulai setelah kematian? atau setelah mati akan dihidupkan kembali ke dunia dan begitu seterusnya?” tulis mereka melalui Artventure Management. Dalam lagu tersebut, Dopest Dope tampak mengajak pendengarnya untuk sedikit merenung dan mendapatkan jawabannya masing-masing.

Selain tentang lagu barunya, band yang tiga tahun lalu bekerjasama dengan Demajors untuk merilis debut album Close to Death ini juga memperkenalkan penggebuk drum barunya. Posisi Oldy Pandu Nugraha kini diganti oleh Hengki Arisando atau Sipenk yang sebelumnya lebih dikenal bersama unit stoner Hawk. Dalam single baru ini, Sipenk langsung terlibar dalam proses rekamannya. Begitupun Rifki Hidayat, gitaris anyar yang masuk setelah Close to Death rilis.

Continue Reading

NEWS UPDATES

Sengatan Electric Bird di RSD 2019

Published

on

Electric Bird, trio garage pendatang baru di Surabaya. (Dok. Electric Bird)

Electric Bird punya kemampuan untuk menyengat. Ya, nama yang mereka miliki bukanlah sekadar tekstual belaka. Dibalik itu, tertanam sebuah representasi musik yang menyengat bagaikan listrik. Dengan tegangan tinggi, musik mereka mampu bertransformasi jadi sebuah musik. Sentuhan garage serta muatan rock yang berapi-api memperlihatkan tiga pemuda energik ini tengah bersiap terbang tinggi seperti pheonix.

Selama ini publik baru mengenal Electric Bird lewat single perdananya Wardogs. Lagu yang dilempar melalui kanal digital streaming akhir tahun lalu itu mendapat respon baik. Ditambah dengan kerinduan Surabaya akan band seperti ini, posisi mereka pun aman. Hingga memasuki awal 2019, tepatnya di Record Store Day (RSD) 2019 kemarin (28/4) Electric Bird memberanikan diri keluar kandang. Sebuah album bertitel Stings You Hard baru saja mereka rilis.

Bersama Let’s Go Cmon Baby (LGCD), Eisen, Rasvan Aoki dan beberapa band lain, momentum RSD 2019 Surabaya kemarin jadi hari perilisan karya fisik pertama Electric Bird, Stings You Hard. Album yang menghadirkan 11 lagu ini sudah mereka kerjakan sejak tahun lalu. Keseluruhannya mereka kerjakan sendiri, mulai rekaman hingga produksi rilisan fisiknya. Bahkan band yang dimotori oleh Danu (vokal & bass); Vicky (gitar); & Ari (bass) ini juga tengah menyiapkan perjalanan tur yang nantinya akan dijadikan alat promo album mereka.

Tidak berbeda jauh dengan single pertamanya, Wardogs. Dalam album yang berdurasi 45 menit ini Electric Bird banyak berbicara tentang situasi sosial yang masih menarik untuk di sentil. Seperti halnya Wardogs, lagu yang menyenggol tentang individu, kritik dan tanpa solusi. “Kami juga menulis beberapa fenomena, salah satunya genosida di Timur Tengah yang kami tuangkan dalam lagi East,” cerita Danu. Lanjutnya, tak luput band ini pun menggambarkan situasi berapi-apinya dalam berkarya lewat lagu Raging Fire. Pengaruh The Datsuns, Wolfmother, Soundgarden, hingga Jimi Hendrix ikut membentuk part demi part lagu mereka.

Pasca RSD, album Stings You Hard ini nantinya akan di distribusikan ke beberapa kota di luar Surabaya. Sementara untuk digital streaming masih bakal menyusul.

Continue Reading

NEWS UPDATES

Looking For, Perkenalan dari Kayman

Published

on

Mira Jasmine dan Kayman. (Dok. Pon Your Tone)

Rasa hambar dalam suatu hubungan, sebuah penantian tak berujung, hingga menunggu kesempatan kedua; ungkapan-ungkapan itu mengendap tersembunyi dalam percakapan antar pasangan yang terasa dingin dan penuh kecanggungan. Seperti halnya Looking For menembus dimensi kedua pasangan itu untuk menentukan ujungnya.

Pekan lalu, produser muda Kayman memperdengarkan karya bernuansa R&B/Neo-Soul dengan menggaet penyanyi muda Mira Jasmine. Kolaborasi keduanya cukup mengena, sekalipun ini merupakan debut bagi Kayman dalam merilis karya orisinil. Selama ini, produser yang dinaungi Pon Your Tone itu lebih dikenal sebagai DJ bergenre House, Afro-Beat dan Baile-Funk, dirinya juga lebih banyak menghabiskan waktu sebagai co-producer Dipha Barus.

Sebelum melempar debut Looking For, Kayman lebih aktif dalam urusan aransemen ulang, seperti lagu How Many Drinks milik Miguel atau Oye Como Va milik Tito Puente yang pernah di remix. Pria yang menekuni bidang Audio Engineering sejak usia 16 tahun ini juga sempat menggubah lagu Chasing Time milik Azelia Banks yang masuk di album kolaborasi antara Pon Your Tine dan De La Hous ‘Tone House’.

Continue Reading

Surabaya