Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

LIVE REPORT

The 5th Indie Clothing Expo [Day 2]: Seringai pun Unjuk Taring

Published

on

Liar, sesak dan beringas! Tiga kata yang sangat tepat untuk menggambarkan hype yang terjadi saat band stoner rock/heavy metal paling disegani di Nusantara; band dengan kekuatan megabernas serta energi yang meletup-letup; juga prestasi tingkat tinggi nan mumpuni sebagai opening act Metallica Oktober lalu hadir di Surabaya untuk “unjuk taring” sekaligus memanjakan telinga para “Serigala Militia” yang sudah lapar sedari tadi.

Berbicara “Serigala Militia,” kita akan segera tahu bahwa band ini adalah Seringai, yang secara gawat darurat mengubah Surabaya dari kota yang memang panas menjadi luluh lantak karena terbakar. Adalah Indie Clothing, pegelaran tahunan yang memang sudah ditunggu-ditunggu oleh banyak penikmat musik-musik indie keren, brand-brand indie yang bermutu dan menarik, juga komunitas-komunitas seru yang menampilkan berbagai ide-ide kreatif independen seperti Kustom Garage, Indo Runner dan Graffiti yang tahun ini berani menghadirkan unit berat macam Seringai. Dibuka dengan instrumentalia Canis Dirus yang berbunyi lewat speaker besar Indie Clothing.Satu persatu personil Seringai segara menuju ke atas panggung yang diiringi teriakkan massal dari para fansnya yang mayoritas remaja tanggung.

Seperti biasa, vokalis Arian13 datang terlebih dahulu dengan membawa kamera: mungkin crowd Surabaya terlalu fantastis hingga pantas diabadikan. Diiringi gitaris Ricky Siahaan, bassis Sammy Bramantyo dan drummer Edy Khemod. Seringai membuka penampilan dengan Program Party Seringai yang dengan indahnya mampu membuat penonton sing along dan “berpesta.” Pesta masih baru dimulai, Dilarang Di Bandung yang dibuka dengan keras oleh ketukan drum Khemod, membuat crowd makin kesetanan. Crowd liar ini dipicu oleh ucapan Arian pada penonton di awal lagu: “Apakah benar Surabaya memang kota legenda? Apakah benar Surabaya memang kota rock?” Yang kemudian dilanjutkan dengan Citra Natural, hits Seringai di album kedua, Serigala Militia.

Arian mengajak para wanita yang kebanyakan berdiri di belakang dan samping panggung untuk berdiri dan menari bersama: “Ini lagu untuk kalian, para wanita!” Tapi seusai lagu yang turut membesarkan nama Seringai ini, beberapa sifat arogansi pihak keamanan yang suka crowd liar yang makin lama makin menjadi-jadi. Tidak hanya diam, Arian pun berorasi seakan menentang keadaan: “Mohon untuk bapak-bapak keamanan, jangan asal melarang  penonton yang bergoyang! Ini bukan kerusuhan, kita hanya bersenang-senang! Yang lebih pantas dilarang adalah penjahat-penjahat macam koruptor yang ada di Jakarta, betul?” Ucapnya. Tanpa banyak bicara lagi, Skeptikal langsung meluncur dengan ganasnya tanpa kenal lelah. Kemudian dilanjutkan dengan Serigala Militia, yang membuat mereka benar-benar “melupakan tua.”

Mengacak-acak setlist adalah hal yang keren, dan disini Seringai mengumandangkan lagu lama dari album High Octane Rock, yakni Alkohol yang tak direncanakan dalam setlist. Belum saatnya untuk puas, jalan masih panjang. Kilometer Terakhir, lagu para geng motor bengal yang berkendara sembari mabuk dimainkan dengan lugas tanpa basa-basi, dengan gas penuh dan tanpa rem. Tak lupa, Seringai turut mengucap terima kasih pada komunitas Kustom Garage yang stannya berada agak jauh dari stage.

“Apa kalian suka film Star Wars? Bagaimana dengan film Tali Pocong Perawan?” teriak Arian yang sekejap mengingatkan pada sosok dalam film Star Wars yang paling dikaguminya, Boba Fett. “Fett Sang Pemburu,” track berikutnya, yang bercerita tentang galaksi dan perang bintang, meledak seperti roket yang mengancam galaksi. Langit seakan runtuh ketika penonton berteriak bersama: “Galaksi menantimu, habisi semua yang halangi dirimu!” Akhirnya, lagu yang ditunggu-tunggu datang: “Lagu ini ditujukan untuk salah satu Menteri di negeri ini yang fasis! Kita sambut Tragedi, sontak ratusan penonton langsung gegap gempita saat lagu ini dimainkan. Suara Arian seperti tak terdengar karena tertutup suara penonton yang bernyanyi sepanjang lagu.

Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan) menjadi nomor selanjutnya. Lagu yang juga ditujukan kepada kaum fasis sayap kanan ini juga dibawakan dengan dahsyat, seakan mengutuk para penganut ajaran kekerasan atas nama agama. Kemudian secara mengejutkan, lagu legendaris Motorhoead, Ace Of Spades dimainkan, yang sekaligus menjadi penutup sempurna di pergelaran ini sekalipun tanpa encore.

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Galeri Foto: Synchronize Fest 2018

Published

on

Selama tiga hari kami berkelana di tengah padatnya Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Baik di atas atau bawah stage terasa sesak. Mata dan telinga kami kenyang terpuaskan oleh penampilan ratusan musisi lintas generasi. Sebuah kenyataan di mana musik Indonesia memang beragam dan menyenangkan. Silahkan menikmati hasil jepretan fotografer kami.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EVENTS

Brotherground 2018: Beside Primadona, Down For Life Mempesona & Klimaks Death Vomit

Published

on

Mengadakan festival musik hingga edisi ke-5 bukan perkara mudah. Apalagi dengan line up yang konsisten kencengnya. Tahun ini Beside jadi primadona, namun Down For Life tak kalah mempesona, ditambah tenaga Death Vomit yang tak pernah habis hingga tuan rumah Fraud yang selalu beringas. Kami merangkumnya dalam foto-foto yang bisa memanjakan mata kalian.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

Surabaya