Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

LIVE REPORT

Melodic Fest 2K13 [Day 2]: Bersatu Dalam Melodic

Published

on

Suasana malam minggu dan sebuah event yang tergolong besar disertai guest star menjanjikan: Snickers And The Chicken Fighters, gerombolan punk rock Malang yang kini sedang di gandrungi para remaja dan Blingsatan, trio streetpunk Surabaya dengan kawan blings-nya yang terus bertambah dari waktu ke waktu. Dua band uzur yang tak lekang termakan zaman ini menjadi magnet tersendiri bagi gelaran kedua Melodic Fest 2K13 yang berlangsung kemarin malam (7/9) di Monkasel.

Selain Snickers And The Chicken Fighters dan Blingsatan, di hari keduanya Melodic Fest 2k13 turut menghadirkan pula headliner yang datang dari ibukota dengan nama mentereng, Jakarta Boomblast. Dengan suguhan musik yang kekinian beserta tema-tema percintaan yang dibalut dalam musik pop punk upbeat, Jakarta Boomblast sukses mengguncang penonton yang banyak di dominasi para remaja tanggung. Penampilan Jakarta Boomblast sebelumnya juga dibuka oleh banyak band-band ‘melodic’ yang mayoritas datang dari Jawa Timur, seperti Give Me Mona, Angry Birds, Time To Change, Someday At Heaven, The Frankenstein dan masih banyak lagi.

Blingsatan melanjutkan acara dengan mempertunjukkan musik streetrock-nya melalui lagu-lagu yang kerap menjadi setlist dari album terakhirnya, Melodi Emosi, seperti Belia, I Miss You, Matahari Pagi. Dengan umur yang tak lagi muda, nyali yang sekeras kapal selam pasopati serta semangat mereka yang masih bisa di adu dengan anak-anak muda yang meramaikan crowd. Band yang sedang dalam proses pengerjaan album baru ini juga tak lupa menyajikan bocoran-bocoran lagunya yang kabarnya akan rilis di akhir tahun nanti.

Para Chicken Fighters Surabaya akhirnya terhenyak seketika saat band idola mereka Snickers And The Chicken Fighters (SATCF) memporak-porandakan panggung Melodic Fest 2K13 melalui lagu pertamanya, Party Line. Dengan lengkingan suara Adit sang vokalis yang membaur dengan semangat para Chicken Fighters, lagu yang bernuansa rap-punk tersebut sekaligus membuka penampilan band yang telah terbentuk sejak tahun 1999 ini. “Kita buktikan kita bisa bersatu dalam Melodic Fest kawan-kawan, tak peduli darimana kalian berasal” himbau Adit yang mengajak penonton agar kian merapat kedepan.

Selepas lagu pertama Aditya Kurniawan, Jefry Triharto, Cahaya Satya Andhyka, Jaka Satya dan Nedink kembali menggebrak dengan lagu-lagu andalannya seperti Nothing’s for real, Heroes serta Hilang, dan tak lupa juga beberapa lagu baru yang kemungkinan akan mereka rilis akhir tahun ini. Setelah menggelintir 12 lagu tanpa henti, penampilan kuintet punk rock Malang ini ditutup dengan single berjudul Salah yang mereka mainkan dengan semangat ayam aduan. Lagu tersebut sekaligus menyudahi hari kedua Melodic Fest 2K13 yang tak kalah padatnya seperti  kemarin (6/9).

Dengan adanya Melodic Fest ini, Surabaya membuktikan bahwa musik dengan ciri khas melodic masih mampu bersaing dengan genre-genre lainnya, terbukti dengan ramainya penonton hingga memasukki hari kedua. Namun sayangnya lagi-lagi dan seringkali terjadi, para penonton yang di dominasi para remaja tanggung ini masih belum mengerti bagaimana cara menghargai sebuah pertunjukkan musik.

Masih kurangnya applause atau bahkan hanya sekadar berdiri untuk menikmati band-band semenjana yang bermain di Melodic Fest menjadi fenomena turun menurun dan kian mengakar. Sedikit bukti bahwa apresiasi dari penikmat musik untuk mereka yang bermusik masih sangatlah kurang. Sekalipun demikian, hari kedua Melodic Fest semalam terbilang cukup sukses dengan melihat penuh sesaknya crowd dan hadirnya band-band yang kompeten.

Sarjana strata satu jurusan sastra indonesia di Universitas Negeri Surabaya. Penikmat punk yang juga mantan penyiar di stasiun radio campursari.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Folk Music Festival 2018: Beradaptasi Dengan Cuaca, Berkontemplasi Dengan Musik

Published

on

Tampak seorang penonton menggosokkan kedua tangan, sambil sesekali ditiup dengan nafasnya agar terasa hangat. Terlihat dari kejauhan, ia berbicara dengan rahang sedikit bergetar. Lawan bicaranya pun demikian, lipatan syal berbahan katun tampak memenuhi lehernya. Lalu kedua tangannya masuk ke kantung jaket tebal. Kemudian dari atas panggung, terdengar rintihan Danilla; “Awali dengan merintih dan tertawa/Menuai kenangan yang tak hentikanku jua”. Musiknya lirih, seketika membius semua penonton bersama cuaca yang mencapai 13° menyelimuti malam di kawasan Kusuma Agrowisata, Batu-Jawa Timur akhir pekan kemarin di Folk Music Festival (FMF).

FMF ke-4 berlangsung dingin. Bagi penikmat musik non-folk, pop atau sejenisnya, bisa dipastikan mereka akan membeku. Sebaliknya, para pengikut musikalisasi puisi-nya Reda, orasi Jason Ranti, Instrumentalia Gerald Situmorang, atau melankolisnya Mondo Gascaro tentu berasa hangat. Namun di situlah esensinya. FMF keempat masih konsisten menawarkan pengalaman menikmati musik yang beda; berada di dataran tinggi, dua panggung berjejer seperti menikmati festival dalam headphone, hingga bertemunya musik dan literasi; kandungan gizi yang pas dikala cuaca dingin seringkali membekukan daya intelektual. Selain itu, festival ini benar-benar mengajak penontonnya untuk beradaptasi dengan cuaca demi berkontemplasi bersama deretan menu-menu musik yang syahdu.

Kesampingkan ego lokalitas yang mengharapkan tumpukan musisi lokal kota setempat tampil di dua panggung megah, itu sudah terlalu butut. Kali ini FMF punya rekomendasi baru dalam Gang of Folk yang berhasil mendatangkan empat musisi potensial. Mereka datang cukup jauh, ada Diroad (Palembang), Sepertigamalam (Palembang), Holaspica (Bandar Lampung), dan Arief S. Pramono (Parepare). Keempatnya bisa disebut sebagai jati diri festival folk satu ini. Sementara lainnya, mulai dari Efek Rumah Kaca, Pohon Tua, Fourtwnty, dan juga White Shoes & Couples Company telah menjadi nyawa yang paling pandai membuat penonton melupakan dingin.

Tahun ini Folk Music Festival berbicara tentang segala macam pertemuan. Dan akhir pekan kemarin, tim kami dipertemukan kembali oleh Folk Music Festival, dan kami merekam beberapa pertemuan, perbincangan, hingga pertunjukan yang tersaji di sana. Silahkan menikmati!

Teks: Rona Cendera
Foto: Adven Wicaksono

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading

EVENTS

Pesta Anak-Anak Bunga Yang Berusaha Jaga Lingkungan

Published

on

Tampilan mereka tidak rapi. Omongan mereka juga seenak udelnya. Mereka pemabuk, bermain musik keras, dan sarat akan konten dewasa. Ya, Dandelions sebenarnya bukan band yang ramah lingkungan, justru sebaliknya. Murni rock n roll, slengean. Seringkali, vokalis mereka, Njet menyuarakan “koruptor itu anjing” di tiap performnya. Bukan tanpa sebab, karena dari perilaku para tikus itu mereka menghasilkan beberapa lagu, sebut saja Impor. Suara-suara itulah yang jadi power bagi mereka untuk menyelematkan lingkungannya agar bebas doktrin dari segala perbuatan negatif.

Album penuh pertamanya Anak-Anak Bunga yang baru dirilis kemarin bermuatan pesan-pesan moral yang bagus untuk dicerna. Maka dari itu, akhir pekan kemarin (29/7) Dandelions berinisiatif menyambangi tiga tempat krusial; yakni Kampung Dupak Bangunrejo yang bekas lokalisasi, kemudian Kampung Seni THR dan puncaknya di tanah sengketa Tambak Bayan Tengah. Di tempat terakhir, band yang belum lama ini baru melempar klip (Bukan) Playboy tersebut benar-benar jadi tuan rumah yang baik. Selain mengundang tuan rumah yang sesungguhnya (warga Tambak Bayan), mereka juga mengundang beberapa gitaris untuk berkolaborasi, seperti Bima (Timeless), Rasvan (Rasvan Aoki), Wawa (Ampun Women), Adiee (Portal Addict/ex Dandelions), serta Happy Arabika (Pig Face Joe).

Tambak Bayan, tempat ini mengingatkan kita pada titik awal Silampukau yang melaunching debut albumnya Dosa, Kota, & Kenangan tahun 2015 silam. Penuh kesederhanaan, namun lagu-lagunya bermuatan banyak kritik yang satire, begitupun Dandelions. Dan semoga Tambak Bayan juga bisa menjadi titik awal yang bagu dari album terbaru mereka.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading

EVENTS

Holy Skateboard Video Premiere; Wahana Skate Yang Multisegmen

Published

on

Akibat tragedi bom yang terjadi di tiga Gereja di Surabaya Mei silam, pemutaran perdana video dari Holy Skateboard ikut kena imbasnya. Event yang seharusnya berlangsung beberapa jam setelah kejadian itu harus dibatalkan, lantaran venue M-Radio yang berdekatan dengan lokasi peledakan.

Dua bulan setelahnya, tepatnya kemarin Sabtu (28/7), acara tersebut akhirnya dilaksanakan. Venue pun bergeser ke Grand Dharmahusada Lagoon. Pergeseran cemerlang, karena vibes acara lebih terasa. Mulai dari anak-anak hingga orang tua melebur jadi satu di taman yang luas, hijau, dengan cuaca mendukung, serta lingkungan perumahan yang nyaman; seperti berada di taman keluarga, menikmati akhir pekan, berburu keringat agar sehat. Ada yang bermain skate, atau sekadar lari-lari kecil mengejar anaknya, atau cuma duduk malas dengan mulut berasap sambil menunggu pemutaran video skate dari Holy Skateboard.

Jadi, skate itu bukan lagi tentang anak muda yang energik, tapi sangat multisegmen. Sekalipun band model The Gamblezz, Timeless, hingga Egon Spengler yang atraktif dengan kostum yang … (lihat di foto), pada intinya, semua membaur dalam wahana skate yang multisegmen ini.

Seorang mahasiswa hampir abadi yang menghabiskan sebagian besar waktu di kehidupanya dengan hal hal penuh manfaat seperti mengabadikan wajah wajah ekstase para pemuda pemudi bangsa di atas panggung.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya