Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

LIVE REPORT

Road to Customland: Bangkitkan Kembali Dunia Kustom Surabaya Dari Deklinasi

Published

on

“Dengan customland ini saya banyak berharap ini akan menjadi marking buat perkembangan kustom di kota Surabaya” Ungkap Lulut Wahyudi salah seorang penggiat kustom kulture sekaligus pembicara dalam talk show di Road to Customland. Ungkapan tersebut sekaligus memberikan jawaban akan latar belakang tercetusnya event ‘Road to Customland’ yang juga menjadi hajatan keempat Action Sunday akhir pekan lalu (18/8).

Berawal dari melempemnya dunia kustom mobil, motor & sepeda di kota pahlawan, beberapa builders veteran mulai mengonsep sebuah event dengan tujuan memperkenalkan sekaligus menghidupkan kembali dunia custom di Surabaya yang nyaris lenyap di lebih dari 1 dekade dengan harapan agar budaya kustom ini tak hanya sekadar menjadi tren sesaat. “Surabaya harus berbuat sesuatu, karena Surabaya punya sejarah perihal custom” kembali ucap Lulut Wahyudi dalam gathering singkat sebelum ‘Road to Customland’ dimulai. Praktis, event yang diikuti oleh 15 partisipan ini menjadi penghambat akan merosotnya serta menipisnya (baca: deklinasi) geliat kustom yang sejatinya telah hadir sejak tahun 90an.
Bertempatkan di atrium Surabaya Town Square (Sutos), event tersebut menghadirkan puluhan hasil kustom mobil, motor hingga low rider dari Surabaya yang di pamerkan selama kurang lebih 9 jam. Tidak hanya berhenti disitu, ‘Garage & Accessories Sale’ juga telah memersuasikan pengunjung untuk datang merogoh koceknya, tidak lupa juga ‘Road to Customland’ dibuka dengan talk show dari tiga pembicara, yakni Lulut Wahyudi (Retro Classic Cycles), Agus Sudariswanto (Daritz Desgin) dan Fahmi Freeflow. Pemutaran video tentang budaya kustom pun semakin melengkapi ‘Road to Customland’ yang memang di setting sebagai pemanasan menjelang ‘Customland’ sesungguhnya yang di rencanakan akan hadir bulan November mendatang.
Dari sudut music stage, event yang tersaji melalui kerjasama Customland, Sutos dan Soledad & The Sister Co. ini juga menghadirkan performa duo bersaudara dari Bekasi, The Experience Brothers yang baru kali pertama tampil di Surabaya sejak terbentuknya mereka di tahun 2001 silam. Kedatangan Ibrahim dan Daud dalam event tersebut langsung meriuhkan nuansa Riot terlebih dengan 12 lagu yang berturut-turut digelintir mulai dari ‘The Way I Am’, ‘Stompbox’, ‘Born to be Wild’, ‘Youngmen’, ‘Freedom Anthem’, ‘She’s Aright’ hingga ‘Iron Man’ milik Black Sabbath. Penampilan eksklusif The Experience Brothers sebelumnya juga dibuka oleh band lokal Surabaya, My Mother Is Hero (MMIH) serta DJ Nando dan DJ John Pelenkahu.
Foto oleh: Surabaya Town Square

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EVENTS

Galeri Foto: Synchronize Fest 2018

Published

on

Selama tiga hari kami berkelana di tengah padatnya Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Baik di atas atau bawah stage terasa sesak. Mata dan telinga kami kenyang terpuaskan oleh penampilan ratusan musisi lintas generasi. Sebuah kenyataan di mana musik Indonesia memang beragam dan menyenangkan. Silahkan menikmati hasil jepretan fotografer kami.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

EVENTS

Brotherground 2018: Beside Primadona, Down For Life Mempesona & Klimaks Death Vomit

Published

on

Mengadakan festival musik hingga edisi ke-5 bukan perkara mudah. Apalagi dengan line up yang konsisten kencengnya. Tahun ini Beside jadi primadona, namun Down For Life tak kalah mempesona, ditambah tenaga Death Vomit yang tak pernah habis hingga tuan rumah Fraud yang selalu beringas. Kami merangkumnya dalam foto-foto yang bisa memanjakan mata kalian.

Tukang Foto keliling, yang berusaha segiat mungkin, demi mengisi dompet dan perutnya.

Continue Reading

Surabaya