Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

EDITOR'S PICK

Give Me Mona: Nostalgia Pop Punk 90an Di Debut Albumnya

Published

on

Butuh waktu hingga 8 tahun bagi Give Me Mona untuk merealisasikan hadirnya album pertama mereka. Terhitung sejak awal terbentuknya hingga kini band yang beranggotakan Oscar Pradikta (vokal), Hara Yuda (gitar), Royan Hidayat (bass), Arya Ramadhan (gitar) dan Tommy (drum) ini baru merilis sebuah extended plays ‘Our Story Become Tragedy!’ di tahun 2010. Selebihnya mereka hanya merilis beberapa single tanpa kemasan, cukup ironis karena di Surabaya Give Me Mona merupakan salah satu band yang aktif tampil di berbagai gigs hingga pensi.
Rotasi personil yang terbilang ekstrim nampaknya menjadi jawaban akan tersendatnya laju band ini dalam merilis album. Seluruh personil yang tergabung sekarang ini semuanya merupakan personil baru, kecuali  gitaris mereka Hara Yuda, pria yang kerap disapa ambon ini menjadi satu-satunya personil aktif sekaligus pendiri Give Me Mona di tahun 2005 silam. 
Memasukki tahun 2013 ini kabar baik pun datang di mana kuintet pop punk Surabaya ini berencana merilis debut Lp mereka. Rencana tersebut ternyata bukan hanya sekadar wacana belaka, awal Juli kemarin akhirnya Give Me Mona melepas single baru berjudul ‘Sebuah Deskripsi’, lagu tersebut sekaligus menjadi tembakan awal akan gambaran debut album mereka.”Rencananya sih 3 single yang bakal kita keluarin sehabis ini” Ucap Hara ketika kami temui Kamis lalu (22/8).
Royan Hidayat, bassis dari Give Me Mona mengungkapkan adanya sebuah kejutan yang mereka siapkan dalam debut album bandnya, melalui interview singkat dengan kami pria yang juga tergabung dengan band hardcore, Raising Down ini menggambarkan album tersebut akan mengajak para pop punk addict untuk bernostalgia dengan suguhan-suguhan pop punk era akhir 90an yang dimana pada masa itu banyak bermunculan band-band seperti Sum 41, Blink 182, New Found Glory, Simple Plan, Good Charlotte, Bowling For Soup dan masih banyak lagi.
“Di album nanti kita kembali ke masa era 90an, kenapa milih gitu karena selain kita pengen beda dari band pop punk lainnya, di masa-masa itu pop punk sangat berjaya di banding dengan genre-genre lain yang bermunculan, jadi kita coba kembali lagi ke masa itu” Jelas Royan.
Masih mengacu pada standar band-band pop punk, Give Me Mona disini menulis tentang kritik sosial, politik hingga motivasi dalam lirik-liriknya, “Kebanyakan lagu yang aku tulis liriknya itu banyak bercerita tentang anak muda, kehidupan sosial hingga sentilan untuk dunia politik, seluruhnya berupa motivator lah” ungkap Oscar Pradikta. Lirik-lirik yang mereka tulis tadi kemudian di suguhkan dengan musikalitas pop punk yang mereka ambil dari masa-masa 90an. “Jadi intinya kita kembali ke pop punk era 90an, kita ceritakan yang terjadi sekarang dan kita bawa ke masa lalu” kembali jelas Royan.
Rencananya debut album mereka nanti akan berisikan 11 lagu yang mayoritas menggunakan lirik berbahasa Inggris, selain itu single lama mereka ‘Again and Again’ juga di remake kembali untuk selanjutnya turut mengisi line up di album yang hingga saat ini masih belum di bocorkan judul dan tanggal rilisnya. Give Me Mona juga mengajak beberapa nama untuk featuring yang salah satunya ialah pentolan dari The Flins Tone, Kiky. Hingga saat ini 11 lagu tersebut sedang dalam proses mixing dan mastering, sedangkan untuk kemasan albumnya masih dalam proses penyelesaian “Untuk sampul kita lebih ke tampilan mosaik kita (personil GMM,red) untuk sekaligus memperkenalkan Give Me Mona yang sekarang” ujar Hara.
Diperkirakan debut album Give Me Mona akan rampung akhir tahun ini, kabarnya juga Oscar, Hara, Royan, Tommy dan Arya akan membuat dua buah klip yang masing-masing diambil dari line up bakal album mereka, yakni ‘Sebuah Deskripsi’ dan ‘Ambisi & Ego’. Baiklah, kita tunggu seperti apa nostalgia pop punk 90an yang akan mereka implementasikan dalam debut albumnya itu.
Foto: Dok. Give Me Mona

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Dialog Ibu & Anak Dalam “Berita Kehilangan” Milik Feast

Published

on

Artwork Berita Kehilangan yang dikerjakan Mikael Aldo & Baskara Putra. (Dok. Feast)

.Feast makin memantapkan posisinya sebagai band yang cukup responsif terhadap lingkungan sosial sekitarnya. Usai klip Peradaban yang cukup frontal, kemarin (10/8) mereka kembali melempar lagu sekaligus klip baru berjudul Berita Kehilangan. Secara lirik, apa yang mereka tuliskan masih cukup sarkas, namun implisit. Bedanya, nuansa musik yang diperdengarkan sangat sesuai dengan klipnya; gelap, berduka, dan pemakaman.

Lagu Berita Kehilangan ini ditulis sendiri oleh vokalis mereka, Baskara Putra. Ia terinspirasi dari beberapa kasus kriminalisasi yang telah terjadi, salah satunya yang menimpa mendiang temannya Raafi Aga Winasya Benjamin tujuh tahun silam. Adapun sebuah surat milik orang tua korban kriminalisasi lainnya juga menjadi sumber inspirasi mereka, sekaligus sebagai bentuk empati terhadap kasus-kasus tersebut.

Selain audio dan video yang cukup membangkitkan ambient lagu, kehadiran Rayssa Dynta sebagai kolaborator justru makin mendramatisir. Tiap bait yang dinyanyikan .Feast dan juga Rayssa Dynta dibuat seperti dialog antara Ibu dan Anak. Dialog itu menggambarkan bagaimana seorang Ibu yang berusaha mengikhlaskan kepergian anaknya. Begitupun sebaliknya, sang anak juga coba menguatkan Ibunya.

Single terbaru milik kolektif rock Ibukota ini sudah bisa dinikmati secara digital melalui layanan streaming Spotify, Joox, Apple Music, Deezer dan sejenisnya. Lalu untuk video klipnya bisa dinikmati lewat kanal Youtube ofisial atau IGTV milik .Feast.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

FEATURES

Ternyata Tidak ‘Selamanya’ Seringai Absen Rilis Video Klip

Published

on

Behind the scene pembuatan klip Selamanya. (Foto: Rigel Haryanto)

Pada era album Serigala Militia yang rilis 2007 silam, saat itu Seringai melempar tiga video klip. Ketiganya ialah Citra Natural, Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan), dan Serigala Militia. Lima tahun berselang, Arian13 cs absen dalam merilis klip meskipun album saat itu mereka punya gaco baru; album Taring yang cukup melejit. Dan sekarang, setelah 10 tahun absen merilis klip, band Ibukota ini akhirnya kembali menyelesaikan klip yang sekaligus jadi single teranyar mereka berjudul Selamanya.

Selamanya, lagu yang rilis pekan lalu itu mengambil konsep ‘Wahana Pesta Seringai’; gambaran minimalis yang seakan menyampaikan ke pendengar jika Seringai masih akan terus menerus menghibur. Ide itu datangnya dari Surya Adi Susianto, sutradara klip yang juga pernah menangani video musik dari Kunto Aji, Morfem, Ramengvrl, dan Lawless Vomit Crew. “(dalam klip ini) Seringai digambarkan bakal menghibur tiap pengunjung yang naik ke bus dan bersenang-senang bersama mereka sembari berkeliling kota, dan begitu seterusnya,” jelas Seringai melalui rilis pers yang Ronascent terima.

Pasca klip ini, Seringai berencana merilis album keempatnya berjudul Seperti Api yang akan dirilis via High Octance Production. Menurut Wendi Putranto, albumnya akan selesai produksi dalam waktu dekat. Pastinya, akan ada 11 lagu yang diproduseri sendiri oleh gitaris mereka, Ricky Siahaan. Selain diproduseri personil sendiri, cover album Seperti Api juga dikerjakan oleh vokalis mereka, Arian13. Tidak jauh berbeda dengan album sebelumnya, Seringai masih gemar berbicara tentang isu sosial, sambil sesekali berbicara tentang sci-fi. Bahkan mereka juga berkolaborasi dengan solois, Danilla Riyadi. Jadi, silahkan ditunggu. Kemungkinan bulan depan.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

BACKSTAGE

RIP Gibson: Salah Satu Ikon Pembentuk Rock and Roll

Published

on

Jimmy Page (kanan) dengan siganture gitar Gibson double neck-nya. (Foto: Laurance Ratner/Wireimage)

Kita punya hutang yang besar pada Gibson; merek gitar legendaris yang memutuskan mengakhiri bisnisnya bulan ini. Tidak akan ada sound menyalak di Whole Lotta Love-nya Led Zeppelin andaikata Gibson tidak terbentuk 1894 silam. Jimmy Page—guitar hero kita semua—adalah pemakai Gibson Les Paul yang taat. Gibson juga sudah jadi signature Slash, Eric Clapton, sampai Pete Townshend dari The Who. Gibson—tanpa disadari—punya peran membentuk rock and roll, membuatnya bisa semacam agama baru yang pernah diimani hampir jutaan populasi.

Kalian bisa mengeceknya di YouTube, sejauh mana Gibson dan sound-nya yang ikonik, sangat cocok dimainkan gondrongers berjaket kulit dan bersepatu Doc-Mart. Satu lagi, bentuknya—ya Tuhan—lengkungan dan teksturnya membuat kamu sebagai budak rock and roll berpotensi horny; seperti maniak GP saat melihat knalpot Yamaha Rossi; seperti The Gooners yang bernafsu saat melihat trofi Liga Primer.

Cerita soal hancurnya bisnis Gibson dimulai saat perusahaan ini berhutang 1 koma 3 triliun rupiah. Gibson lalu memilih menyerah dan mengaku bangkrut; sebuah sikap yang sebenarnya sangat tidak rock and roll. Meski begitu, Gibson berjanji untuk bangkit, dengan merilis produk headphone dan speaker. Perusahaan asal Nashville ini juga segera merombak ulang susunan perusahaan yang kacau, dan akan menjual kembali alat musik; ini baru rock and roll. Tapi pastinya, kita tetap tidak bisa mengkhianati peran Gibson, membentuk dan mempengaruhi apa yang kita dengar saat ini.

Rekomendasi film soal gitar, sound, and anything like that yang bisa disimak di situs streaming kesayangan kalian: Sound City (2013), It Might Get Loud (2008), HBO Vinyl Series (2016).

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya