Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

REVIEW

Thirty Seconds to Mars – Love Lust Faith + Dreams

Published

on

love-lust-faith-dreamSudah menjadi rahasia publik jika band perfeksionis yang digawangi oleh pria ambisius, Jared Leto dengan dua rekannya Shannon Leto dan Tomo Miličević ini selalu hadir dengan album yang sangat konseptual, live perform megah, sound spektakuler hingga konsep video klip layaknya film layar lebar. Jadi, jangan berharap jika Thirty Seconds to Mars hadir dengan suatu hal yang nampak biasa, bagitulah perasaan kami ketika kali pertama mendengarkan ‘Love Lust Faith + Dreams’, album keempat dari Thirty Seconds to Mars.
Keluarnya Matt Wachter dari band serta vakumnya mereka menulis lagu pasca rilisnya ‘This Is War’ tahun 2009 lalu membuat banyak pihak berasumsi jika band ini telah habis. Namun pada kenyataannya toh album ketiga mereka cukup mengigit dengan menyandang sertifikasi platinum di lima negara. Lalu bagaimana dengan ‘Love Lust Faith + Dreams’? kami rasa rilisan ini cukup konseptual dan (mungkin) tidak kalah serunya dengan album-album terdahulu. Menarik untuk disimak, terlebih proses penyelesaian album ini sendiri memakan waktu yang cukup lama terhitung sejak tahun 2011 lalu.

Jared Leto, frontman sekaligus produser dari album ini cukup brilian mengambil daya pikat pendengar, terbukti dengan pemakaian cover album ‘Love Lust Faith + Dreams’ yang begitu mencolok, background putih dengan puluhan simbol polka warna-warni. Dan semua polka yang tersaji di cover sejatinya terdapat empat warna dasar yang masing-masing mewakili titel album mereka (Love, Lust, Faith & Dreams). warna-warna tersebut ialah merah untuk love, hijau untuk lust, kuning untuk faith dan biru/ungu mewakili dreams. Mendasarnya tema album yang disajikan Thirty Seconds to Mars adalah mengenai cinta, nafsu, kepercayaan dan mimpi yang dimana empat elemen dalam kehidupan tersebut sangatlah mewakili pikiran manusia.

Selain mewakili dari segi warna di cover, empat elemen tadi juga masing-masing menjadi pemisah di antara 12 lagu yang terdapat dalam album ‘Love Lust Faith + Dreams’, tiga track pertama, ‘Birth’, ‘Conquistador’ dan ‘Up In The Air’ adalah wakil untuk elemen love yang dimana lirik dari ketiga lagu tersebut menuhankan cinta sebagai alasan untuk mempertahankan kehidupan. Berikutnya ‘City of Angels’, ‘The Race’ dan ‘End of All Days’ menjadi perwakilan untuk lust. ‘Pyres of Varanasi’, ‘Bright Lights’, dan ‘Do or Die’ menjadi bagian dalam faith dan dreams diwakili oleh tiga track penghujung ‘Convergence’, ‘Northern Lights’ dan ‘Depuis Le Début’.

Sampai pada tahap ini, kemasan yang disajikan oleh band kenamaan Los Angeles dan California ini terasa cukup tematik, lalu bagaimana dari segi musikalitas? nuansa musik digital pada album ini semakin mengekspansi karakteristik Thirty Seconds to Mars yang tahun ini sudah menginjak usia ke-15. Bahkan tidak hanya musik digital, nuansa orkestra hingga bollywood pun juga hadir dalam album ini seperti pada track pembuka ‘Birth’ yang menghadirkan nuansa orkestra yang kelam serta ‘Pires of Varanasi’ yang memuat unsur bollywood pada intro-nya.

‘Up In The Air’ yang dirilis pertama kalinya di luar angkasa menjadi jagoan pertama dalam album ini, lagu tersebut sekaligus menggambarkan keseluruhan isi dari ‘Love Lust Faith + Dreams’ yang dimana porsi elektronik dalam album ini cenderung lebih terasa ketimbang porsi distorsi gitar, kesan tersebut seakan pukul rata di tiap track seperti ‘Northern Lights’, ‘End of All Days’, ‘Bright Lights’ hingga ‘Do or Die’. Tidak sejalan pada lagu-lagu tersebut, kami mengamati masih ada lagu yang cukup kompeten dan cukup mewakili 30STM sebelum terbitnya album ini, ialah ‘Conquistador’, ‘The Race’ dan ‘City Of Angels’. Untuk judul terakhir kami rasa adalah lagu terbaik setelah ‘Up In The Air’, walau sekilas terasa seperti hits ‘With or Without You’ milik U2, lagu yang bercerita tentang kota asal mereka (Los Angeles) ini bisa menjadi obat atas kejenuhan konsep instrumental yang banyak hadir pada album ini.

Love Lust Faith + Dreams tracklist:
1. Birth
2. Conquistador
3. Up In The Air
4. City Of Angels
5. The Race
6. End Of All Days
7. Pyres Of Varanasi
8. Bright Lights
9. Do Or Die
10. Convergence
11. Northern Lights
12. Depuis Le Debut

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

REVIEW

We’re The Crew: Bahan Bakar Baru 1234!

Published

on

Cover artwork We’re The Crew garapan Prambudi. (Dok. 1234!)

Di luar dugaan. Sempat berpikir jika band ini hanya jadi project iseng semata, dan meramal usianya tak panjang, nyatanya salah. Pikiran itu sepertinya harus mulai digeser pelan-pelan, lantaran belum ada tanda-tanda 1234! bakal redup. Sebuah temuan di lapak musik salah satu gigs rokok beberapa bulan silam makin menguatkan dengan rilisnya single terbaru mereka, We’re The Crew.

Musik ini juga berisi, bukan dari lirik. Melainkan insturmen. Kehadiran violin, organ, dan perkusi di dalamnya menghidupkan nuanasa balada punk rock yang penuh cerita dan derita. Tapi masih tetap belum bisa mengalahkan kesenduan Baby I Love You-nya The Ramones.

We’re The Crew, lagu ini menarik. Selain konsep musiknya yang tidak melulu kencang, ini terdengar seperti anthem. Pendengar bakal membayangkan sebuah perjalanan tur dengan mobil butut berkeliling dari kota ke kota. Menempuh ratusan kilometer diiringi tracklist The Clash dengan mata perih akibat asap rokok dan alkohol. Berhenti sejenak di pinggir jalan, bernyanyi diiringi gitar bolong, bertemu orang baru, makan seadanya, lalu tidur di jalan. Dan begitu seterusnya sepanjang tur.

And let’s see. Itu bukan cuma teater of mind seorang pendengar. Nyatanya, lagu yang resmi dirilis 15 Juni kemarin itu memang di setting sebagai bahan bakar baru untuk perjalanan tur mereka. Dengan titel yang sama: We’re The Crew Tour 2018, 1234! meluncur ke 9 titik di 8 kota sejak Juni kemarin. Mulai Blitar, Madiun, Solo, Bandung, Jakarta, Bali, Kediri, dan tentunya kota asal mereka, Surabaya.

Dua pentolan band ini; Davin dan Paidun sempat berpesan “kasih review lagu ini yang paling kontra. Gak boleh ada bagus-bagusnya,” Tapi apa daya, kali ini musik mereka masih bagus, sama seperti Don’t Ruin yang menghiasi warna-warni sound di kompilasi keempat Ronascent kemarin. Jadi, satu-satunya yang paling kontra dalam lagu ini ada pada kemasannya. Khusus di kertas bagian lirik, potongannya tidak rata. Untung liriknya masih kebaca.

Melepas lajang di dunia tarik pena dengan menyandang lulusan sastra yang tidak sastrawi, musisi gagal, penimbun berita pil koplo, dan buruh radio.

Continue Reading

REVIEW

Longest – Endless Collide: Realita Rock Dalam Balutan Metropop

Published

on

Sampul album ‘Endless Collide’. (Dok. Longest)

Jika dibanding dengan tiga single dalam EP digital yang dilepas awal tahun lalu, Longest format baru ini terdengar tengah berupaya jadi lebih earcatchy. Nyatanya, mereka seperti menahan potensi musikalnya. Di beberapa part yang seharusnya bisa jadi klimaks, justru malah terdengar payah. Penggunaan tone-tone rendah seperti membunuh karakter si vokalis. Alhasil, tujuh lagu yang mereka suguhkan di album Endless Collide terdengar kurang fit sekalipun pendengar berkali-kali mengatur settingan equalizer.

Tapi tunggu dulu, nomor Alea Song yang ditempatkan pada urutan kedua seakan menjelaskan ‘maksud’ dari musik yang ingin mereka sodorkan. Beat yang santai, distori tipis, dan permainan reff; nampaknya Longest ingin menusuk segmen pendengar remaja yang penuh lika-liku percintaan dengan harapan menjadikan track ini sebagai soundtrack-nya. Make sense, toh kemasan album yang mereka tampilkan juga menyerupai deskripsi tadi. Simple dan minimalis merujuk pada realita perkotaan, percintaan, perselingkuhan, pertemanan, dan semua  elemen menarik yang bisa kita temui pada novel-novel metropop atau sinema remaja.

Coba dengar juga So High, Can High, genjrengan overdrive berpadu clean memang sedikit monoton, namun olah vokal dan lirik yang cukup menyatu seperti jadi part yang ditunggu-tunggu; karena musiknya yang terlampau santai sehingga pendengar sulit menikmatinya. Begitupun Toothless Moron, hanya saja lagu ini terdengar lebih berisi dan (mungkin) jadi satu-satunya yang menyambung benang merah dari lagu-lagu awal mereka. Selebihnya, coba kalian nikmati sendiri berdasarkan persepsi masing-masing. Masih ada single pertama mereka First, Strawberry Frost, Mistake and the Beautiful Sin, dan Leader Syndrome.

Terlepas dari itu semua, album yang dirilis pada momen Record Store Day (RSD) 2018 kemarin ini setidaknya sudah menunjukkan keseriusan Longest, yang merupakan pendatang baru dengan wajah lama di skena Surabaya. Hebatnya, album ini rilis setahun setelah mereka melempar demo EP berisi tiga lagu di awal tahun 2017 kemarin, di mana album itu rilis hanya berselang beberapa bulan setelah band ini dibentuk. Satu tahun bukan waktu yang singkat bagi Longest untuk merampungkan full album perdananya. Sempat beberapa kali bongkar-pasang personil jadi salah satu kendala dalam proses penggodokan materi. Namun Longest tetap mencoba konsisten berada dalam jalur alternative/indie rock yang mereka usung.

Perlu digarisbawahi, seburuk-buruknya album ini, Longest masih punya porsi instrumen yang terdengar meriah, meski beberapa kali terdengar false. Disarankan menggunakan headset berkualitas agar detail-detail apik dari gitar dan bass terdengar jelas. Last but not least, pelafalan lirik Bahasa Inggris tampaknya juga perlu dilatih karena dibeberapa track terdengar kurang pas. Overall, album ini cukup fresh dan cocok bagi kalian-kalian yang familiar dengan Basement maupun Foo Fighters.

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

REVIEW

Egon Spengler – Hijaunya Neraka; Manuver Horror ke Green Force

Published

on

Cover Album Single Hijaunya Neraka yang di desain oleh Albert. (Dok. Egon Spengler)

Seperti sebuah anomali. Hijau dan neraka; wajar jika banyak pertanyaan muncul seketika untuk menanggapi single baru Egon Spengler ini. Apakah mereka bercerita tentang ganja? kebakaran hutan? atau mungkin darah vampir? Pastinya, jika berkaca dari latar belakang dan album debutnya, Egon Spengler tidak pernah jauh dari pembahasan horror. Segala macam penyebutan mayat hidup selalu jadi nyawa band guyon yang belakangan mulai serius ini.

Aku bernyanyi walau suaraku parau / aku bernyanyi bersama temanku D.S.M / aku berlari bersama temanku Viking / aku berlari bersama anak-anak Greenforce /

Hingga pada akhirnya petikan lirik di atas menyegel rasa penasaran. Sesuatu yang tidak dikira-kira, Egon Spengler berbicara tentang Sepakbola! Oke, bagaimana ceritanya sosok Egon Spengler yang berkursi roda harus bermain bola? Sesuatu yang nyaris tak terduga seperti ketika Albert dkk memilih topik Persebaya di lagu terbarunya.

Gerombolan alumni ITS ini memang tidak lekat dengan olahraga lapangan hijau tersebut, tapi mereka mengakui jika lagu ini terinspirasi dari band seangkatannya; Deskripsi Sebuah Mahasiswa (DSM). Berawal dari lagu Green Force 1927 milik DSM, tahun 2016 Egon Spengler mulai mengerjakan lagu Hijaunya Neraka yang direkam di L-One Studios dua tahun lalu.

Bulan April kemarin, di momen Record Store Day (RSD) 2018, Egon Spengler pun merilis single tersebut ke dalam bentuk fisik sederhana yang dikerjakan ekspres. Kurang lebih sepekan sebelum RSD Surabaya bergulir, produksi CD di mulai. Di dalamnya, hanya ada dua lagu, yakni single Hijaunya Neraka itu sendiri, serta bonus track Green Force 1927 dari Deskripsi Sebuah Mahasiswa.

Perlukah membahas esensi lirik di lagu ini? Dari debut Ecto 1, Egon Spengler memilih jadi band yang tidak terlalu ambil pusing tentang lirik. Apalagi musik punk yang mereka bawa tidaklah menuntut kerumitan lingustik, yang penting ritmik dan mistik. Secara komposisi, Albert, Besta, Ikang, Tebo, dan Rombe juga masih terasa senada dengan benang merah mereka di awal. Hanya saja, track ini bisa jadi memberikan sedikit gambaran tentang lanjutan karya mereka. “Bisa jadi kita gak bercerita horror lagi, tapi bisa juga tetep horror. Liat nanti aja deh,” cerita Albert.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya