Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

FEATURES

Mooikite ‘Sukses Membuka Soundrenaline 2013’

Published

on

Mungkin nama Mooikite sudah cukup lama menggema di Surabaya, walaupun minim karya namun band yang beranggotakan empat pemuda dari kota pahlawan ini tidak sepi prestasi. Sekurang-kurangnya mereka mampu mengambil perhatian khalayak banyak ketika sukses masuk lima besar kategori ‘Favourite New Comers’ ICEMA Awards tahun lalu bersama A.F.F.E.N, Bvrtan, Fuentes dan Mesa Sinaga.

Setelah itu, band yang dibentuk Oktober 2007 silam ini seakan adem ayem tanpa polemik dan tanpa hingar bingar. Terlintas di pikiran kami bahwa band yang konon gemar memainkan semua genre ini sedang hiatus dimakan oleh kesibukan masing-masing personil. Namun ternyata kami salah kira, Mooikite sesekali masih terlihat aktif bersabda di gigs-gigs lokal dengan intensitas yang tidak rutin memang tapi sedikit terjawab bahwa band ini memang masih bernafas. “Udah dari Maret kita gak manggung gara-gara konsen rekaman, jadi ya emang udah lumayan lama kita gak manggung” ujar Ryan KA.
Hampir tiga bulan sudah Mooikite vakum dari gigs, dan tiba-tiba kami tercengang ketika mendapati mereka sampai di Yogyakarta dengan selamat untuk menghadiri hajatannya di Soundrenaline 2013 pada 29 Juni lalu. Sedikit agak mengangetkan, karena kami mengetahui kabar jika band yang tergabung dalam split album  ‘The Shrimp’s Swamp And Contaminated Beach’ ini akan tampil di Soundrenaline baru 3 hari sebelum mereka tampil (27/6) melalui twitnya yang berbunyi “Yes we goes to #soundrenaline”. Sebuah angin segar untuk scene indie Surabaya yang lagi-lagi harus diakui memang sudah tidak lagi menggema.
“Sebetulnya gak ngira, tadinya tuh gak ada rencana sama sekali. Awalnya kan main di workshop Creative Exchange, trus ternyata itu besok paginya Otis di telpon dan di kabarin kalo kita main disana” jelas Ryan KA selaku vokalis dan gitaris dari Mooikite. Masuknya Mooikite di line up Soundrenaline 2013 sekaligus melengkapi empat slot untuk band-band pembuka yang dimana slot lainnya telah diisi oleh Nok37, Lazyroom dan Answer Sheet.
Tampil kedua di Community Stage, Mooikite berhak merasakan atmosfer satu penggung bersama nama-nama tenar seperti Koil, The SIGIT, Superman Is Dead, Endank Soekamti, Shaggydog hingga Netral. Band yang hingga saat ini telah menelurkan tiga Ep serta tiga kompilasi ini mendapat jatah tampil pukul 2 siang. Karena kesibukan masing-masing personil, akhirnya kuartet rock Surabaya ini merelakan untuk tidak mengambil jatah checksound di malam harinya dan merelakan durasi 30 menitnya untuk checksound terlebih dulu. Bukan sebuah halangan tentunya, toh mereka tetap menunjukkan kualitasnya dalam bermusik dengan menggelintir tiga lagu ganas.

Dengan durasi 30 menit, Gilang Kilot (drum), Yudis Cupu (gitar), Talka Putra (bass) dan Ryan KA (vokal & gitar) memulai penampilannya dengan membawakan lagu-lagu andalannya seperti “Los Muertos”, “24 Old” hingga akhirnya “In Nebula” menutup penampilan singkat mereka di Soundrenaline 2013 yang diadakan di Stadion Maguwoharjo, Sleman. Turunnya Mooikite dari panggung Community Stage yang dipenuhi dengan mural sekaligus mengantarkan Deadsquad untuk perform selanjutnya. Gemuruh applause dari penonton masih cukup terasa bagi seluruh personil yang baru pertama kalinya merasakan atmosfer gigs ekstra besar dengan tatanan band-band veteran yang sudah mengantri untuk tampil setelahnya. “Secara soul, kita puas banget.” jelas Gilang, drummer dari Mooikite.
Dan kini, Soundrenaline telah usai dengan segala cerita-cerita manis di dalamnya. Mooikite yang notabene personilnya memiliki taraf kesibukan yang berbeda-beda harus kembali menjalani rutinitas di kesehariannya. Namun tenang, empat pemuda Surabaya ini akhirnya angkat bicara tentang rencana Mooikite kedepannya dengan sebuah album. Bulan ini mereka baru saja menyelesaikan 6 lagu dan berencana untuk membungkus lagu-lagu tersebut dengan kemasan full album “Kalo aku pengen ngomong ya konsepnya itu sebenernya album (LP) karena konsep lagunya itu unlimited, jadi kalo ditanya ini albumnya berapa menit tuh gak bisa, soalnya kalo di repeat terus gak akan pernah selesai. Jadi kapan album ini selesai? ya kalo udah bosen denger berarti selesai albumnya hahaha” kembali celetuk Ryan KA.
‘A Journey Of Rock Harmony’, begitulah tema yang diangkat untuk Soundrenaline tahun ini, sebuah reward untuk kembali mengintai perjalanan band-band rock yang telah mengalami pasang surut dalam berkelana mencari nama. Mooikite, pada akhirnya sukses menjadi satu-satunya wakil dari Surabaya dan telah membuka helatan rutin Soundrenaline dengan lagu-lagunya. Dan setelah ini patut ditunggu seperti apa kemasan album terbaru mereka yang rencananya akan rilis beberapa bulan kedepan.

Teks: Rona Cendera & Farid Satya | Foto: Denantyo Bagus
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

The Flins Tone dan Sebuah Pembunuhan (Karakter)

Published

on

Formasi terbaru The Flins Tone: Bimo, Ucup, Kiky, Diko & Rudy. (Dok. TFT/Sandy Whisnu)

Sejak pertama melihat artwork dan mendengar intro-nya, Blossom memiliki karakter yang berbeda. Perpindahan chord serta beberapa fill di dalamnya mengingatkan kita pada era kejayaan emo di masa lalu. Bahkan, mereka tak luput menyelipkan sedikit scream di dalamnya. Terbaca sudah, punk yang berlulurkan emo dan rock terpilih jadi karakter baru The Flins Tone (TFT), yang lagi-lagi masih produktif di tahun ke-15 nya. Single Blossom sendiri mereka rilis baru-baru ini (22/2) secara digital. Lagu tersebut merupakan satu dari lima tracklist yang telah disiapkan untuk mini album Epitome.

Jika kita mendengar TFT sejak awal, ada perkembangan referensi dan sound yang terus beranjak dewasa. Dan di EP terbarunya nanti, mereka tampak ingin membunuh karakter lawas-nya yang cenderung energik, jadi lebih dramatik. Hal itu tertuang pada single Blossom, di mana liriknya berkisah tentang pembunuhan Jason Blossom; seorang karakter fiktif dari komik ‘Archie’ yang sempat diangkat ke serial thriller ‘Riverdale’. “Perkenalanku sama komik Archie itu berawal dari Bimo (drummer TFT), penggila sekaligus kolektor komiknya. Nah ketika diangkat ke serial ‘Riverdale’, aku suka banget. Khususnya pas nyari siapa pembunuh si Jason (Blossom),” ujar Kiky, vokalis dari The Flins Tone.

Ketika tercetus mengangkatnya untuk jadi lirik, Kiky pun menggandeng dua rekannya di radio, yakni Hanamay dan Deylon. “Kita bertiga sama-sama suka, dan nyambung. Deylon ngebantu nulis liriknya secara eksplisit, nah si Hanamay banyak bantu untuk perbendaharaan idiom-nya. Sementara di bagian scream, liriknya aku ambil dari dialog di episode terakhir ‘Riverdale’, biar makin klimaks gitu,” sambungnya. Karakter Jason Blossom sendiri muncul di era 90an, tampak pas dengan ambient musik emo punk yang TFT leburkan di lagu, dan juga mini albumnya nanti.

Beberapa nama seperti Alexis on Fire, Story of the Year, The Used, Jimmy Eat World, Billy Talent, Fugazi, hingga The Starting Line menjadi referensi mereka untuk melakuan brainstorm. “Setelah 3 album, sekarang kami mau eksplore lebih jauh. Rudi yang awalnya pengen ngebawa ke vibes emo 2000-an. Nah kebetulan kita semua ini dasarnya anak emo kali ya, akhirnya pas workshop cepet nyambung satu sama lain,” lanjut Kiky. Pria yang juga bersiar di prime time sore salah satu radio di Surabaya itu juga menyebut jika ekspektasi pendengar terhadap Blossom dan deretan track di Epitome bisa saja berubah. “Vibes di tiap lagunya nanti bakalan berbeda, karena cara mengexplore-nya pun beda-beda. Part scream? ada juga hehe,” ucapnya.

 

Siapkan Studio Update, Video Klip & Bersih-Bersih Instagram

Artwork single anyar TFT, Blossom. (Dok. The Flins Tone)

The Flins Tone punya banyak agenda di awal 2019 ini. Beruntung seluruh materi album mereka telah rampung, jadi saat ini tinggal fokus membangun promosi. Belakangan mereka baru saja melempar episode pertama dari Studio Update yang digarap Redixcover. Beberapa pekan sebelumnya malah Kiky, Ucup, Rudy, Bimo dan Diko tampak sibuk melakukan shoot klip Blossom. Dalam klip yang dikerjakan di Skale Creative Space itu, TFT bekerjasama dengan salah satu fotografer panggung Yogie Husein. “Nah, jadi bulan Maret ini kami mau ngeluarin beberapa episode ‘Epitome Studio Update’. Nanti di episode terakhirnya, baru lah kita kasih tanggal rilis video klipnya,” imbuh Kiky.

Selain kesibukan secara audio dan visual, media sosial pun tak luput untuk mereka perhatikan. Instagram milik The Flins Tone yang sudah memiliki lebih dari 5 ribu pengikut itu tiba-tiba di awal Januari nihil postingan. Beberapa pertanyaan dan keheranan sempat menghampiri mereka lantaran akunnya yang tiba-tiba jadi pasif itu. Kiky mewakili rekan-rekannya pun mengakui kalau mereka sengaja ‘bersih-bersih’ Instagram. “Itu cuma buat menyesuaikan sama konsep baru kami sih. Jadi emang kita rebranding gitu lah istilahnya,” perihal apa saja yang akan mereka tampilkan nantinya, Kiky meminta untuk menunggu tanggal mainnya, sembari menikmati gimmick-gimmick yang telah mereka siapkan sampai Epitome resmi dirilis.

Dengan hampir rampungnya mini album Epitome, sekaligus menambah perbendaharaan diskografi mereka. Epitome akan menjadi rilisan keempat The Flins Tone, sekaligus EP kedua setelah debut Flinsnopsis tahun 2010 silam. Sementara dua LP juga telah mereka rilis setelahnya, yaitu He’s The Best Actor For This Episode (2012) yang menjadi album persembahan untuk mendiang drummernya alm. Mahdi dan terakhir ada Good News (2015) yang rilis ke dalam 3 format, CD, kaset dan digital streaming.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Fraud: Release The Beast

Published

on

Fraud ketika tampil di Grand City pertengahan Februari kemarin (16/2) dengan memainkan beberapa materi baru. (Foto: Haryo Bahrul Ilmi)

Seperti yang kita ketahui bersama, selepas album kedua Movement Before Mouthment rilis empat tahun lalu, Fraud tidak berhenti untuk menciptakan karya baru. Dan masuk di 2019 ini, mereka sedikit memberi bocoran tentang album barunya. Mengutip dari statement Kecenk, gitaris dari Fraud, ia sempat mengujarkan niat bandnya untuk tidak lagi menggunakan kata-kata umpatan dalam liriknya.

Lebih lanjut lagi, Kecenk menjelaskan sebagian dari lirik di album ketiganya nanti akan rilis tahun ini. Isinya masih tetap berkutat tentang refleksi mereka terhadap lingkungan sosial dalam bentuk kritik yang membangun. Tak luput beberapa permasalahan yang terjadi di tanah air dalam beberapa waktu lalu, termasuk juga suntikan motivasi untuk para korban bencana alam yang terjadi baru-baru ini. “Jadi di album ketiga ini kami lebih menata kalimat dan diksi. Tidak seperti album-album sebelumnya,” terang Kecenk ketika kami hubungi pekan lalu. Dirinya juga tak lupa menyelipkan pesannya untuk lebih mempertahankan lokalitas Surabaya. “Karena kita harus tetap jadi diri sendiri, mempertahankan esensi kelokalan, supaya bisa memperkuat agar trend dan industrinya tidak tergeser dan berubah-ubah,” sambungnya.

Kini Fraud tengah fokus pada tahap revisi dan evaluasi materi yang telah selesai digarap.  Dengan mengenyampingkan ego, band yang baru saja berpisah dengan drummernya (Edel) akhir tahun kemarin coba memperhatikan hal-hal terkecil untuk album barunya, termasuk urusan menggaet produser. Nantinya, nama produser yang telah mereka pilih akan diumumkan pasca single barunya rilis. Selain itu, pemilihan studio dan sound engineering juga mereka fokuskan. Buktinya, proses rekaman dilakukan di beberapa studio berbeda, khususnya untuk take drum, Fraud menginginkan studio yang nyaman dengan feel akustik yang mumpuni.

Dalam waktu dekat, sembari menunggu menunggu proses album yang berjalan sejak pertengahan 2018 rampung, Fraud akan merilis ulang album pertama dan keduanya. Kali ini, band yang sempat berbagi panggung dengan Sick Of It All ini memlih format kaset untuk merilis kedua album lawas-nya. “Setelah rampung produksinya, kami akan membuat launching atau bahkan secret gigs mungkin,” tutur Kecenk.

Fraud (1)
Fraud (2)
Fraud (3)
Fraud (4)
Fraud (5)
Fraud (6)
Fraud (7)
Fraud (8)
Fraud (9)
Fraud (10)
Fraud (11)
Fraud (12)
Fraud (13)
Fraud (14)
IMG_6929
Continue Reading

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Continue Reading

Surabaya