Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

FEATURES

The Summer East Tour, Perjalanan 10 Hari The Flins Tone di Musim Panas

Published

on

Jika ditanya apa yang menjadi pengalaman paling berkesan selama bertahun-tahun bermusik, mungkin tur adalah jawaban yang paling tepat dari pertanyaan tersebut. “Gila, itu kenangan yang mau sampe kapanpun gak akan pernah tergores gitu, maksudnya kita akan bener-bener tau siapa TFT di dalem dan dalemnya lagi. Semua susah senengnya itu bisa keliatan waktu tur, karena kita ya satu mobil, kita mandi-mandi bareng sampe tidur tuh yang bareng juga” ucap salah satu pentolan sekaligus vokalis dari The Flins Tone, Muhammad Rifqy ketika ditemui seusai latihan kemarin Jumat (31/5).

Ya, The Flins Tone. Band yang beranggotakan Kiky (vokal), Rudy (gitar), Ucup (bass), Jerry (gitar) dan Bimo (drum) ini baru saja menyelesaikan tur tunggalnya yang bertajuk ‘The Summer East Tour 2013’ awal Mei kemarin. Tur tersebut merupakan rangkaian dalam promo album terbaru mereka He’s the Best Actor For This Episode yang rilis November tahun 2012 lalu. Bisa jadi tur yang di support oleh tiga brand lokal dan satu perusahaan advertising ini menjadi puncak kejayaan bagi The Flins Tone, apalagi setelah mereka bergelut dengan berbagai macam problema pasca rilisnya Flinsnopsis dua tahun lalu.

“The Summer East Tour ini merupakan rangkaian tur kita untuk promo album, mungkin tur ini tuh sama dengan yang band-band lain pernah lakukan, cuma yang bikin beda dalam tur ini tuh kita punya tema yang mungkin belum dijalankan band-band lain. The Summer East Tour, East itu menandakan bahwa kita ini band dari timur yang tepatnya di Surabaya yang pas kebetulan melakukan tur-nya di saat musim-musim panas. Itu sebenernya simpel sih, cuma yang bikin kita bener-bener excited dalam tur ini tuh temanya kita yaitu Don’t Forget You Roots.” Jelas Kiky perihal turnya tersebut.

Dengan tema Don’t Forget You Roots, band yang dikenal melalui single ‘Tragedy on September’ ini secara terselubung mencoba untuk mengingatkan pribadi mereka beserta band-band lain untuk tidak melupakan darimana mereka berasal yang sekaligus menjadi bentuk motivator TFT terhadap band-band lainnya. “Don’t Forget You Roots itu bener-bener ngingetin kita lagi bahwa 9 tahun kita hadir di skena musik khususnya di Surabaya. Dan kita berusaha supaya jangan sampai lupa dengan asal lahir kita, yakni komunitas.” Kembali ujar pria yang cukup terinfluences oleh Jordan Pundik ini.

Bukan tanpa alasan, The Flins Tone sendiri cukup menyadari bahwa hastag yang mereka kampanyekan sepanjang jalannya ‘The Summer East Tour’ kemarin merupakan sindiran bagi TFT sendiri maupun band-band Surabaya lainnya yang sempat melupakan akar mereka berasal. Ya, memang kebanyakan skena indie banyak menelurkan band-band berkualitas melalui komunitas-komunitas di dalamnya, namun tidak sedikit pula band yang telah sukses di kedepannya mereka mulai lupa akan komunitasnya. Oleh karena itu, sekalipun tur ini bersifat independen mereka tetap menggalakan hastag tersebut supaya semua pihak paham bahwa The Flins Tone tidak pernah melupakan wadah asal mereka sebelumnya.

Dengan menggandeng beberapa komunitas di tiap kotanya, band yang terbentuk sejak tahun 2004 ini mulai mengekspansi wilayah bermusiknya terhitung mulai 21 April hingga 5 Mei kemarin. The Flins Tone memulai perjalanan estafetnya mengunjungi kota-kota besar yang dimulai dari Surabaya lalu Bekasi, Jakarta, Kediri, Bali, Sidoarjo hingga kembali lagi ke Surabaya. Total tur tersebut memakan waktu 10 hari yang cukup berkesan bagi para personil beserta timnya yang ikut berangkat.

Hasilnya pun juga luar biasa, para penonton di tiap kotanya memberikan sambutan baik akan musik mereka dan bahkan tidak sedikit pula yang sing along sepanjang penampilannya. Salah satu kota yang cukup berkesan bagi kelima pemuda energik ini adalah Kediri, selain mendapat antusias penonton yang sangat baik, pada event yang bertempakan di Gumul Paradise Island ini TFT juga mendapati para penikmat musiknya yang jauh-jauh datang dari Jombang. “Pas di kediri itu, kita bener-bener gak nyangka kalo ada temen-temen dari jombang sekitar 15 orang datang di acara kita, bahkan sampai di acara ‘Subway’ kemaren mereka juga hadir.” ucap Zulfikar, selaku manajer dari The Flins Tone.

Di samping mempromosikan band serta lagu-lagunya di tiap kota, ‘The Summer East Tour’ ini sekaligus semakin membengkakkan link di tiap kota yang telah mereka sambangi, selain itu pula rilisan terakhir mereka He’s the Best Actor For This Episode secara resmi berstatus sold out sejak di rilisnya November tahun lalu. Oleh karena itu, kabarnya band pop punk kenamaan Surabaya ini akan mengabadikan ‘The Summer East Tour’ menjadi sebuah lagu beserta video dokumenter tentang perjalanan mereka selama tur kemarin. Kabar tersebut juga dibenarkan oleh sang manajer, Zulfikar “Setelah ini, lagi proses editing. nanti bakal kita share di media sosial. Untuk lagunya, mungkin akan ada di album selanjutnya.”

Well, kesuksesan The Flins Tone dalam menggelar tur tunggalnya kemarin bisa menjadi motivator bagi band-band selanjutnya untuk bisa melakukan hal serupa. Sekalipun wacana akan keringnya musisi berkualitas masih cukup melekat di kota pahlawan ini, toh beberapa band lokal dari Surabaya sudah mulai membuktikan kualitas dan kuantitas mereka dalam berkarya yang sudah diakui banyak khalayak. Dan yang pasti, tetap berlakukan Don’t Forget Your Roots sebagai pondasi dalam bermusik, agar kelak tidak hanya segelintir nama yang sukses tenar, melainkan keseluruhan.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Anak muda penuh semangat tapi tidak bergairah, suka melakukan banyak hal baru dan sedang berstatus mahasiswa aktif dengan doa semoga lulus tepat waktu dan segera mempunyai penghasilan.

Continue Reading

FEATURES

Not Sad, Not Fulfilled; Album Cinta Anak Muda yang Akan Terbang se-Asia Tenggara

Published

on

Grrrl Gang (Photo: Nadine Hanisya)

Grrrl Gang dengan jiwa mudanya semakin kental terasa. Kita bisa mendengarnya di debut mini album Not Sad, Not Fulfilled yang baru saja di rilis digital pekan lalu (9/10) via label Kolibri Rekords. Angeeta Sentana (vokal, gitar), Edo Alventa (gitar, vokal), dan Akbar Rumandung (bass, vokal) menyebut jika romansa cinta anak muda masih jadi tajuk utama di album mereka. “Album ini berkutat di kehidupan picisan anak muda yang penuh intrik, cinta, dan pencarian jati diri. Begitupun pada departemen musik, di mana pengaruh indiepop, indierock, punk, hingga sentuhan blues serta country diolah jadi balutan nuansa segar dan dekat dengan generasi muda.” tulis mereka di rilis pers yang Ronascent terima.

Proses pembuatan album ini terbilang singkat. Grrrl Gang menghabiskan sekitar lima bulan sejak April kemarin di Lahan Erros Studio. Band asal Yogyakarta ini dibantu Tutoet Daru saat proses rekaman, serta Ferry Kurniawan di bagian mixing dan mastering. Nama terakhir juga punya andil dalam melesatkan single Film Favorit milik Sheila On 7. Total ada lima lagu yang mereka suguhkan, termasuk Dream Grrrl yang digubah ulang. Dari kesemuanya, Grrrl Gang memilih Pop Princess sebagai single pertama yang mengisahkan tentang toxic relationship. “Lagu ini berupaya mendorong para wanita muda untuk berani meninggalkan hubungan yang tidak sehat demi hidup yang lebih bahagia,” ujar penulis lagu Angeeta.

Grrrl Gang beserta Kolibri Rekords pun tidak perlu menunggu lama untuk menyebarluaskan album ini. Kelar berkeliling mengunjungi Semarang, Surabaya, Malang, Malaysia, Singapura, dan Filipina pada semester awal 2018 lalu, trio indiepop ini siap melanjutkan turnya lagi. 20 kota di Indonesia dan Asia Tenggara sudah dipastikan akan menggelar tur promo EP Not Sad, Not Fulfilled selama Oktober hingga November. Grrrl Gang diagendakan tampil untuk jadi pembuka grup indierock muda Amerika Serikat, Snail Mail di Jakarta. Menunggu kemudian, dua pertunjukan di Bangkok, Thailand, serta dua pertunjukan di gelaran rutin Rocking the Region oleh Esplanade, Singapura. Jadwal lainnya pun akan diumumkan dalam waktu dekat.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

Surabaya