Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

FEATURES

Zorv : Analogikan Rusa Dengan Grunge Dalam Savage

Published

on

Kemasan awal yang tampak pada debut album mereka dirasa cukup menjanjikan dengan menonjolkan seekor hewan rusa dengan akar-akar dibawahnya yang dimana objek tersebut sekaligus memberikan kesan elegan pada album berjudul ‘Savage’ milik trio grunge Surabaya, Zorv. Lalu, skandal apa yang terjadi antara rusa, grunge dan Zorv?
“Ada dua arti sebenernya, Rusa itu semacam kita mau menganalogikan bahwa kita ini seperti rusa soalnya kan rusa hewan yang keliatan lucu tapi sebenernya dia tuh buas. Kayak kita yang kesehariannya biasa tapi begitu diatas panggung baru liar. Terus akar, kenapa akar karena kita gak mau ngelupain darimana asal kita. Don’t forget the root-lah, pokoknya jangan ngelupain darimana kita berasal” Ujar Ragyl kepada kami ketika ditemui pekan lalu.

Ya, sebuah album ganas dari band yang sedang panas saat ini. Meskipun tergolong baru, namun di tahun keempatnya mengudara, Zorv telah sukses menelurkan album perdananya yang berjudul ‘Savage’. Savage sendiri merupakan kata sifat yang merujuk pada makna keliaran ataupun keganasan. Sebuah abstrak yang pas untuk menggambarkan keseluruhan isi album ini. Album yang secara resmi dirilis pada 31 Januari 2013 ini menawarkan 12 lagu berbahasa Inggris dengan lirik-lirik realis tentang fenomena-fenomena kemanusiaan yang dipadukan kental dengan nuansa rock/grunge 90an ala Nirvana, Alice In Chains, Stone Temple Pilots hingga Pearl Jam.

Album ini dikerjakan sejak tahun 2011 lalu, dan dibuka oleh Savagist, sebuah balada melankolis dengan petikan gitar clean yang selepas itu langsung membawa kita masuk ke single andalan, yakni Believe yang sudah cukup mewakili keseluruhan konsep lagu di album ini. Setelah itu, tatanan lagu garang seperti Wealth, Each, Mud, Lore, Handcuffs, Eternalist hingga Violet semakin mengekspansi album yang berdurasi 43 menit tersebut tanpa jeda. Praktis, album yang di produksi oleh Wellstein records ini langsung membawa kita kepada era ‘Nevermind’ milik Nirvana yang meledak sekitar 20 tahun lalu.

‘Savage’ sekaligus menyudahi dahaga keringnya rilisan musik-musik berkualitas di Surabaya. Bukan kota kecil memang, tetapi eksistensi Surabaya dalam menyuplai band-band di lebih satu dekade terasa nihil jika dibandingkan dengan kota-kota lain. Bahkan Surabaya pantas menyandang gelar sebagai kota konsumen terbaik di tanah air akan hal tersebut. Melihat fenomena ini , hadirnya Zorv seakan membawa angin sejuk bagi musisi-musisi di Surabaya. Yap, band yang sudah terikat kontrak dengan label kawakan Demajors ini menjadi perbincangan hangat sekarang, seakan-akan semua pengamat dan penikmat musik berharap banyak pada eksistensi Zorv.

Zorv sendiri merupakan trio grunge kenamaan Surabaya yang terbentuk pada tahun 2009, hingga sekarang mereka beranggotakan Danishwara (vokal & gitar), Ragyl (bass) dan Balqi (drum). Nama Zorv sendiri diilhami dan dieksplorasi dari salah satu karakter robot gundam, yakni Zorg. Sejak awal terbentuknya, Zorv sudah dengan setia memainkan musik-musik alternative hingga grunge walaupun diantara ketiga personilnya memiliki perbedaan selera musik. “Sebenernya sih anak-anak basic-nya gak ada yang grunge, kalo si dani tuh sukanya metal, kalo si Balqy garage rock trus saya sendiri condong ke punk. Ya akhirnya kita ambil tengahnya nemu di grunge” kembali ujar Ragyl.

Ya, Zorv terbilang medioker ketika dibandingkan dengan band-band Surabaya lainnya yang digdaya selama bertahun-tahun. Namun passion mereka sebagai band terbukti jelas melalui debutan albumnya tersebut. Savage seakan membuka banyak pasang telinga akan musik grunge yang semakin terasingkan dan tenggelam dalam lingkaran elegi musiman di Surabaya. Tidak hanya sampai disitu, Zorv bahkan merengsek keluar Surabaya dengan berbekal kualitas musik mereka tanpa harus sibuk bergelut dengan komunitas. Sebuah bekal wajib yang tampaknya harus dimiliki semua band.

Sekitar dua tahun lalu Zorv masih tergolong band yang aktif bermandikan keringat dari satu gigs ke gigs yang lain tanpa harus repot-repot membicarakan kejelasan konkret tentang masa depan. Namun semua pola pikir tersebut telah sukses berubah ketika Danishwara, Ragyl dan Balqi bertemu dengan Nawi pada event  ruitn, ‘Tuesday Outloud’. Nawi yang juga merupakan frontman dari band lawas, Never Ending Story tertarik akan musik yang ditawarkan Zorv hingga akhirnya memutuskan untuk menjadi manajer Zorv. Setelah itu, kronologi Zorv pun berubah menjadi band dengan integritas yang tinggi hingga sekarang ini. “Dulu tuh si Balqi pernah mimpi bisa main di panggung gede, dan itu mimpinya sekarang udah terpenuhi, trus si Danish mimpi pengen punya album, itu juga udah jadi nyata, dan kalo saya sendiri (Ragyl,red) sih mimpi pengen bisa tur se-Indonesia, nah ini yang masih proses” kembali ucap Ragyl.

Grunge dan keliaran merupakan satu kesatuan yang sedari dulu sangat sulit untuk dipisahkan, menilik dari rekam jejak linimasa grunge ketika pertama kali berkumandang di era 80an yang selalu ‘kotor’ baik itu dari segi intrinsik maupun ekstrinsik band. Namun ketika ideologi tersebut di implementasikan terhadap Zorv tentu kita akan menemukan sebuah benang merah yang dimana Zorv sukses menganalogikan dirinya sebagai hewan rusa yang tampak kilas terlihat lucu walaupun sebenarnya cukup buas dengan grunge-nya.

Sebuah album fantastis yang cukup realistis, dan patut ditunggu kontinuitas dari band garang ini. “Sedikit bocoran aja sih, kita sekarang udah ngumpulin beberapa materi untuk album berikutnya, dan rencananya kita juga bakal featuring sama vokalis dari band lain” jelas Ragyl yang sekaligus menutup perbincangan dengan kami.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Anak muda penuh semangat tapi tidak bergairah, suka melakukan banyak hal baru dan sedang berstatus mahasiswa aktif dengan doa semoga lulus tepat waktu dan segera mempunyai penghasilan.

Continue Reading

FEATURES

Not Sad, Not Fulfilled; Album Cinta Anak Muda yang Akan Terbang se-Asia Tenggara

Published

on

Grrrl Gang (Photo: Nadine Hanisya)

Grrrl Gang dengan jiwa mudanya semakin kental terasa. Kita bisa mendengarnya di debut mini album Not Sad, Not Fulfilled yang baru saja di rilis digital pekan lalu (9/10) via label Kolibri Rekords. Angeeta Sentana (vokal, gitar), Edo Alventa (gitar, vokal), dan Akbar Rumandung (bass, vokal) menyebut jika romansa cinta anak muda masih jadi tajuk utama di album mereka. “Album ini berkutat di kehidupan picisan anak muda yang penuh intrik, cinta, dan pencarian jati diri. Begitupun pada departemen musik, di mana pengaruh indiepop, indierock, punk, hingga sentuhan blues serta country diolah jadi balutan nuansa segar dan dekat dengan generasi muda.” tulis mereka di rilis pers yang Ronascent terima.

Proses pembuatan album ini terbilang singkat. Grrrl Gang menghabiskan sekitar lima bulan sejak April kemarin di Lahan Erros Studio. Band asal Yogyakarta ini dibantu Tutoet Daru saat proses rekaman, serta Ferry Kurniawan di bagian mixing dan mastering. Nama terakhir juga punya andil dalam melesatkan single Film Favorit milik Sheila On 7. Total ada lima lagu yang mereka suguhkan, termasuk Dream Grrrl yang digubah ulang. Dari kesemuanya, Grrrl Gang memilih Pop Princess sebagai single pertama yang mengisahkan tentang toxic relationship. “Lagu ini berupaya mendorong para wanita muda untuk berani meninggalkan hubungan yang tidak sehat demi hidup yang lebih bahagia,” ujar penulis lagu Angeeta.

Grrrl Gang beserta Kolibri Rekords pun tidak perlu menunggu lama untuk menyebarluaskan album ini. Kelar berkeliling mengunjungi Semarang, Surabaya, Malang, Malaysia, Singapura, dan Filipina pada semester awal 2018 lalu, trio indiepop ini siap melanjutkan turnya lagi. 20 kota di Indonesia dan Asia Tenggara sudah dipastikan akan menggelar tur promo EP Not Sad, Not Fulfilled selama Oktober hingga November. Grrrl Gang diagendakan tampil untuk jadi pembuka grup indierock muda Amerika Serikat, Snail Mail di Jakarta. Menunggu kemudian, dua pertunjukan di Bangkok, Thailand, serta dua pertunjukan di gelaran rutin Rocking the Region oleh Esplanade, Singapura. Jadwal lainnya pun akan diumumkan dalam waktu dekat.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

Surabaya