Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

FEATURES

Devadata ‘Antara Stabilitas, Mobilitas dan Integritas’

Published

on

Tingkat eksistensi yang mereka capai terbilang tidak berlebihan, mereka cenderung tidak selalu absen di semua gigs lokal terutama di kota asalnya, Surabaya. Menilik dari hal tersebut bukan berarti mereka cenderung pasif, melainkan lebih kepada menjaga intensitas perfromanya supaya tidak mudah diacuhkan para penikmatnya.
Devadata, publik Surabaya mungkin sudah sangat mengenal kuartet hardcore new school yang terbentuk pada 10 Maret 1998 ini. Nama mereka sudah diperhitungkan di lebih dari satu dekade sejak Devadata terbentuk. Lahir di era rock 90an, Devadata coba membesarkan namanya dengan mungusung genre hardcore style old school-new school yang banyak terpengaruh oleh musik-musik seperti Pantera, Sepultura, Rykers, Hatebreed, Snapcase hingga Sick of it All. Memang bukan yang pertama, tapi musik yang mereka tawarkan saat itu langsung mampu menarik perhatian publik.
Hingga saat ini memasukki tahun 2013, kuartet yang beranggotakan Bodhas (vokal & gitar), Ronald (gitar), Roy (bass) dan Dandu (drum) ini genap menginjak usianya yang ke-15. Sampai saat ini pula loyalitas mereka masih tetap terjaga dalam bermusik walaupun sempat mengalami pergantian personil serta ‘dehidrasi’ karya karena kesibukan masing-masing personil. Oleh karena itu kami mengambil tiga sisi yang paling menarik dari Devadata, yakni stabilitas, mobilitas dan integritas.

Point pertama ialah ‘stabilitas’, dalam kurun waktu 15 tahun Devadata telah mengolah lagu demi lagu yang tetap paten pada jalurnya, Hardcore New School dengan sedikit asahan Trash Metal tanpa ada perubahan yang signifikan. Secara generalisasi, Surabaya merupakan kota yang ekstrim dalam perubahan siklus musik di tiap tahunnya. Hip-Hop, Ska, Punk, Hardcore, Metal silih berganti memainkan peran sebagai trendsetter di kota pahlawan tersebut namun Stabilitas yang dimiliki Devadata membuat mereka semakin kokoh dengan konsep utamanya, hardcore.

Berikutnya ialah ‘Mobilitas’, akhir tahun lalu tepatnya bulan November, Devadata sukses mengadakan tur empat hari di Malaysia bersama Carnivora (Thailand), Wynken Delirium (Malaysia) dan Fear The Setting Sun (Australia). Devadata-pun mengakhiri hajatannya di Malaysia dengan respon yang cukup baik dari para penontonnya disana yang secara tidak langsung membawa mereka tembus untuk ikut meramaikan event tahunan ‘Bandung Berisik’. Sedikit catatan, event ‘Bandung Berisik’ pertama kali digelar pada tahun 1995 dan Surabaya baru satu kali mengirimkan wakilnya disana, yakni Retribeauty pada tahun 1997. Praktis, Devadata menjadi wakil dari Surabaya kedua setelah hampir 18 tahun nihil.

Berawal dari ketertarikan manajemen Burgerkill kepada band yang sukses melejitkan single JTA ini, Devadata akhirnya dengan mulus menjadi line up untuk Bandung Berisik 2013 yang akan digelar 13 April mendatang di stadion Siliwangi, Bandung “Awalnya Manajemen Burgerkill yang ngehubungin Bodhas untuk mengirimkan profil Devadata ke mereka” ujar Dandu ketika ditemui di Warung Klasik-nya.

Point terakhir ialah ‘Integritas’, dapat katakan demikian karena terlihat dari album-album yang telah mereka rilis, yakni ìShutdownî (1998) dan Emotional Breakdown (2006). Di dua album tersebut Devadata tidak banyak sekadar menyampaikan monolog atau kritik belaka justru mereka memaparkan kaleidoskop tentang realita di negara ini. Beberapa lagu Patriarki turut mewarnai kilas linimasa musik Devadata, seperti lagu penuh konflik ‘Timor Leste’, ‘Duka Indonesia’, ‘Social Destruct’, ‘Harakiri’ hingga ‘Revolution’. Tidak berlebihan memang, karena sejak awal konsep lirik yang diangkat ialah tema sosial hingga problematika dalam dunia politik tanah air. Tidak berhenti disitu, sebuah single militan yang juga menjadi anthem bagi arek suroboyo ialah ‘JTA’. Sebuah lagu umpatan yang bisa dibilang menjadi alat untuk melestarikan tiga umpatan terbaik milik Surabaya, yakni Jancok, Taek & Asu.

Pada dasarnya Integritas lebih condong berbicara mutu, dan hal tersebut sudah tidak perlu dibahas lagi karena mutu, kualitas dan kuantitas yang mereka miliki cukup kompeten dan layak menyandang sebagai band veteran di Surabaya dewasa ini. Permainan atraktif, sound yang membunuh, manajemen yang solid serta lagu yang cukup selektif dan emosional membuat Devadata selalu mendapat respon luar biasa dari para penikmat musiknya.

Devadata, salah satu band Surabaya dari generasi akhir 90an yang masih tetap eksis dengan karya-karyanya sekaligus menjadi saksi atas deklinasi merosotnya skena musik di Surabaya dengan kota-kota besar lainnya. Langkah Devadata yang stabil dengan mobilitas tinggi ini bisa menjadi gebrakan untuk mengembalikan paradigma yang selama ini dianggap sebagai ‘kota konsumen’. Well, kalian bisa saksikan performa Devadata di Bandung Berisik bulan ini dan lihat bagaimana karakter mereka yang tidak jauh berbeda dengan line up lainnya.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Anak muda penuh semangat tapi tidak bergairah, suka melakukan banyak hal baru dan sedang berstatus mahasiswa aktif dengan doa semoga lulus tepat waktu dan segera mempunyai penghasilan.

Continue Reading

FEATURES

Not Sad, Not Fulfilled; Album Cinta Anak Muda yang Akan Terbang se-Asia Tenggara

Published

on

Grrrl Gang (Photo: Nadine Hanisya)

Grrrl Gang dengan jiwa mudanya semakin kental terasa. Kita bisa mendengarnya di debut mini album Not Sad, Not Fulfilled yang baru saja di rilis digital pekan lalu (9/10) via label Kolibri Rekords. Angeeta Sentana (vokal, gitar), Edo Alventa (gitar, vokal), dan Akbar Rumandung (bass, vokal) menyebut jika romansa cinta anak muda masih jadi tajuk utama di album mereka. “Album ini berkutat di kehidupan picisan anak muda yang penuh intrik, cinta, dan pencarian jati diri. Begitupun pada departemen musik, di mana pengaruh indiepop, indierock, punk, hingga sentuhan blues serta country diolah jadi balutan nuansa segar dan dekat dengan generasi muda.” tulis mereka di rilis pers yang Ronascent terima.

Proses pembuatan album ini terbilang singkat. Grrrl Gang menghabiskan sekitar lima bulan sejak April kemarin di Lahan Erros Studio. Band asal Yogyakarta ini dibantu Tutoet Daru saat proses rekaman, serta Ferry Kurniawan di bagian mixing dan mastering. Nama terakhir juga punya andil dalam melesatkan single Film Favorit milik Sheila On 7. Total ada lima lagu yang mereka suguhkan, termasuk Dream Grrrl yang digubah ulang. Dari kesemuanya, Grrrl Gang memilih Pop Princess sebagai single pertama yang mengisahkan tentang toxic relationship. “Lagu ini berupaya mendorong para wanita muda untuk berani meninggalkan hubungan yang tidak sehat demi hidup yang lebih bahagia,” ujar penulis lagu Angeeta.

Grrrl Gang beserta Kolibri Rekords pun tidak perlu menunggu lama untuk menyebarluaskan album ini. Kelar berkeliling mengunjungi Semarang, Surabaya, Malang, Malaysia, Singapura, dan Filipina pada semester awal 2018 lalu, trio indiepop ini siap melanjutkan turnya lagi. 20 kota di Indonesia dan Asia Tenggara sudah dipastikan akan menggelar tur promo EP Not Sad, Not Fulfilled selama Oktober hingga November. Grrrl Gang diagendakan tampil untuk jadi pembuka grup indierock muda Amerika Serikat, Snail Mail di Jakarta. Menunggu kemudian, dua pertunjukan di Bangkok, Thailand, serta dua pertunjukan di gelaran rutin Rocking the Region oleh Esplanade, Singapura. Jadwal lainnya pun akan diumumkan dalam waktu dekat.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Menengok Wajah Musik Indonesia di Synchronize Fest 2018

Published

on

Sinkronisasi musisi antar generasi masih jadi issue utama di Synchronize Fest ketiganya. (Foto: Agastiko)

“Jika ada orang tanya, seperti apa sih musik Indonesia? Suruh datang aja ke Synchronize Festival.” Begitulah kira-kira celetuk Iga Masardi di sela-sela set Barasuara di event tersebut. Yap, tahun ini salah satu festival musik terbesar di Indo ini kembali menyapa pemuda-pemudi yang haus akan lantunan musik Indonesia dari generasi ke generasi.

Festival musik yang dikerjakan Dyandra Promosindo dan Demajors ini kembali digelar untuk ketiga kalinya di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta. Seperti tahun-tahun sebelumnya, signature Synchronize Festival ada deretan pengisi acara yang banyak, hingga ratusan. Lelah? memang. Tapi mood yang terbangun untuk melihat segala macam bentuk dan tampilan musik lintas genre mengalahkan segalanya. Hiperboliknya, event ini sudah cukup menggambarkan wajah musik Indonesia dulu dan sekarang.

.Feast di Synchronize Fest kemarin. (Foto: Agastiko)

Hari pertama, kalau dideskripsikan dengan satu kata sih ya “gendheng”. Deretan aksi panggung yang bikin geleng-geleng hingga ngakak sudah tersaji. Aksi dari Mesin Tempur misalnya. Band grindcore Bandung ini nyeleneh dengan membawa ayam jago ke atas panggung.  Tak mau kalah dengan Mesin Tempur, band bernuansa Betawi, Jiung juga menyuguhkan aksi panggung yang gila. Ajul, sang vokalis dengan enaknya turun panggung lalu mandi ditengah-tengah penonton. Sesudah maghrib, insaf sejenak. aksi panggung yang gila sudah berkurang, namun digantikan dengan set-set menawan. Mooner, yang pertama kalinya main di Synchronize Fest disambut antusias oleh penonton yang  menjadi-jadi. Bergeser ke District Stage, ada Reality Club yang tak kalah histeris-nya disambut. Makin malam makin jadi. Kaki sudah lelah, tubuh berkeringat, rambut lepek, baterai gadget mulai lowbatt. Tapi, jam 21.30 masih ada dua penampil yang sayang untuk dilwati. Di Dynamic Stage ada dominasi anak-anak muda sedang “menunggangi badai” dengan Barasuara. Sedangkan di Forest Stage, para senior indie sedang “menikmati coklat” bersama Pure Saturday”. Puncaknya, penampilan Naif, si tukang sedot keringat penonton.

Lanjut hari kedua, kali ini nuansa nostalgia terasa lebih kental. Deretan pengisi acara seperti Godbless, Sheila On 7, dan Project Pop ada di hari itu. Di set Godbless, penonton dipenuhi  kalangan senior pecinta rock lawas. Tembang-tembang hits seperti Musisi, Kehidupan, Rumah Kita, Semut Hitam, dan Panggung Sandiwara membangun vibes karaoke bersama. Begitupun Sheila On 7 yang penuh sesak oleh penonton lintas generasi. Sementara di Distric Stage, musik jenaka Project Pop begitu merindukan era di mana grup vokal itu tidak harus selalu keren, tapi juga bisa receh nan menyenangkan. Sang Raja Dangdut, Rhoma Irama dan Soneta Group akhirnya menutup hari kedua. Pesonanya yang kharismatik sebagai maestro selalu berhasil menyebarkan penyakit menular; (baca: goyang).

Well, dua hari non-stop berkeliling luasnya venue. Pindah dari satu stage ke stage lain, sebenarnya ada pikiran untuk menyudahinya. Tapi apa daya, nama-nama seperti Snickers And The Chicken Fighters (SATCF), Ramengvrl hingga NOXA terlalu sayang jika terlewatkan. Jamrud pun hadir di Dynamic Stage. Lagu-lagu lawas-nya masih terdengar lantang meski ada perubahan pada karakter suaranya. Lagi-lagi dan lagi-lagi, penonton yang dibesarkan era MTV Ampuh sangat dimanjakan. Kali ini giliran Padi Reborn beserta penutup Synchronize Festival 2018 secara keseluruhan; Dewa 19 bersama Once & Ari Lasso. Fine! ini sebuah pertunjukan langka. Deretan megahits yang versi bajakannya tak kalah laris ini membuat penonton semakin giting. Dua eks vokalis terbaik itu tampil dalam satu stage pertama kalinya. Di tengah nikmatnya mengenang masa muda, kami pun berpikir: bagaimana caranya si organizer melakukan proses negosiasi dengan mereka yah? Ahh sudahlah, sekalipun kami bisa melakukannya, pasti kami tak sanggup membayarnya. Akhir cerita, kami puas dan semua penonton lainnya pun demikian. Harapan kami, semoga konsep acara ini terus berkembang. Jangan sampai termakan jenuh. Karena pada dasarnya, wajah musik nusantara ada di sini (untuk saat ini). See you next year!

An amateur dilettante | Straight Edge | Star Wars’ die-hard fans | Records Junkie |

Continue Reading

Surabaya