Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

FEATURES

‘Sticks And Stones’ 10 Tahun Munculnya Single-Single Terbaik New Found Glory

Published

on

”You were everything I wanted
But I just can’t finish what I started
There’s no room left here on my back
It was damaged long ago
Though you swear that you are true
I’d still pick my friends over you”


Siapa yang tidak mengenal penggalan lirik tersebut? Yap, lagu yang berdurasi 3 menit 40 detik itu berjudul ‘My Friends Over You’. Sebuah single luar biasa yang mempu melambungkan nama New Found Glory sekaligus menjadi awal titik pijak dimana mereka menjadi influences dari beberapa band-band pop punk dunia. Tidak hanya lagu itu saja, coba kalian ingat beberapa single yang mendunia dan selalu mereka bawakan di tiap turnya seperti Understatement, Something I Call Personality, Head On Collision, The Story So far, It’s Been A Summer hingga Sonny merupakan kumpulan dari satu album yang dirilis New Found Glory 10 tahun silam dengan judul ‘Sticks and Stones’.
“Bertahun-tahun kami tur, bertemu penggemar dan banyak orang, mereka selalu menyebut ‘Sticks and Stones’ dan bagaimana album itu mempengaruhi mereka,” ujar Jordan Pundik kepada Billboard. Oleh karena itu Chad Gilbert, Jordan Pundik, Cyrus Bolooki, Ian Grushka dan Steve Klein merasa sangat bangga karena hasil rembukkan dari pikiran mereka berhasil menjadi sebuah karya besar yang digemari oleh hampir setiap orang di sudut dunia. “Kami merilisnya 10 tahun lalu, tetapi sekarang semua jadi tambah indah” kembali ujar Pundik. 
Sticks and Stones adalah album studio kelima milik New Found Glory setelah It’s All About The Girls (1997), Nothing Gold Can Stay (1999), From The Screen To Your Stereo (2000) dan New Found Glory (2000). Album tersebut rilis pada 11 Juni 2002 oleh MCA dan Drive-Thru yang sekaligus menjadi debut album NFG dibawah naungan major label. Sticks and Stones ini juga sukses menempati posisi keempat di chart Billboard 200 dan mendapat sertifikasi gold karena penjualannya di Amerika mencapai lebih dari 500.000 keping. Tidak hanya sampai disitu, 3 track yang menjadi andalan di album ini Understatement, My Friends Over You dan Head On Collision secara bergantian memasuki chart-chart musik di dunia.
Dalam proses pembuatannya, album ini juga melibatkan banyak artis-artis ternama seperti Mark Hoppus, vokal dan pemain bass di Blink 182 ini mengisi part bass pada lagu ‘Something I Call Personality’. Lalu ada Daniel Adriano dan Matt Skiba, kedua pentolan dari band punk Alkaline Trio ini menjadi pengisi vokal latar untuk single ‘Forget My Name’. Vokalis ternama dari band Hardcore H2O, Toby Morse-pun tidak mau kalah, Ia ikut andil mengisi backing vokal pada track Understatement. Hingga kelima personil dari band hardcore punk ‘Bane’, What Feeds The Fire hingga Chris Georggin-pun turut mengisi vokal latar untuk ‘Something I Call Personality’ dan ‘Belated’.
Selain tentunya kelima personil NFG, sosok yang mempunyai banyak andil dalam suksesnya album ini ialah sang produser, Neal Avron. Pria kelahiran 31 Desember 1969 ini sudah dipercaya oleh Chad Gilbert dkk untuk memegang album mereka sejak tahun 2000 dimana pada saat itu NFG merilis album ‘New Found Glory’ dan sukses dengan hits ‘Dressed To Kill’. Buah kepercayaan tersebut membuat band yang berasal dari Coral Springs, Florida tersebut meroket dengan rilisan spektakulernya ‘Sticks And Stones’. Tidak hanya sampai disitu, Neal Avron kembali dipercaya untuk memproduseri beberapa album New Found Glory seperti Catalyst (2004) dan Radiosurgery (2011). 
Selain sukses dengan New Found Glory, Neal Avron juga sukses memproduseri album-album dari Yellowcard (Ocean Avenue-2003, Lights and Sounds-2006, Paper Walls-2007, When You’re Through  Thinking, Say Yes-2011 dan Southern Air-2012), Fall Out Boy (From Under The Cork Tree-2005, Infinity On High-2007 dan Folie A Deaux-2008), Linkin Park (Minutes to Midnight-2007 dan A Thousand Suns-2011), Disturbed (Indestructible-2008 dan Asylym-2010), The Used (Artwork-2009) dan masih banyak lagi.
Satu dekade sudah album yang disinyalir menjadi titik awal kesuksesan NFG itu dirilis. “Banyak band memberitahu kami album itu (sticks and stones) mereka dengarkan saat mengerjakan album. Dan album tersebut membawakan lagu-lagu dari sticks and stones dan selalu menyenangkan,” tambah sang vokalis. Walaupun baru-baru ini Jordan Pundik mengatakan akan vakum sementara bersama New Found Glory hingga 2014 mendatang, tetapi band pelopor easycore ini akan merencanakan membuat DVD konser sebagai perayaan 10 tahun album sticks and stones. “Sudah ada pembicaraan tentang itu. Kami ingin syuting di show yang benar-benar gila dengan penonton juga gila. Mungkin, mungkin saja,” tuturnya.
Selain itu, New Found Glory juga menyambut perayaan 1 dekade Sticks And Stones ini dengan menggelar tur yang bertajuk ‘Sticks and Stones Anniversary’ di 21 kota yang dimulai pada 23 November 2012 hingga 16 Desember 2012. So, Happy Anniversry for Sticks and Stones. Longlast!
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

The Flins Tone dan Sebuah Pembunuhan (Karakter)

Published

on

Formasi terbaru The Flins Tone: Bimo, Ucup, Kiky, Diko & Rudy. (Dok. TFT/Sandy Whisnu)

Sejak pertama melihat artwork dan mendengar intro-nya, Blossom memiliki karakter yang berbeda. Perpindahan chord serta beberapa fill di dalamnya mengingatkan kita pada era kejayaan emo di masa lalu. Bahkan, mereka tak luput menyelipkan sedikit scream di dalamnya. Terbaca sudah, punk yang berlulurkan emo dan rock terpilih jadi karakter baru The Flins Tone (TFT), yang lagi-lagi masih produktif di tahun ke-15 nya. Single Blossom sendiri mereka rilis baru-baru ini (22/2) secara digital. Lagu tersebut merupakan satu dari lima tracklist yang telah disiapkan untuk mini album Epitome.

Jika kita mendengar TFT sejak awal, ada perkembangan referensi dan sound yang terus beranjak dewasa. Dan di EP terbarunya nanti, mereka tampak ingin membunuh karakter lawas-nya yang cenderung energik, jadi lebih dramatik. Hal itu tertuang pada single Blossom, di mana liriknya berkisah tentang pembunuhan Jason Blossom; seorang karakter fiktif dari komik ‘Archie’ yang sempat diangkat ke serial thriller ‘Riverdale’. “Perkenalanku sama komik Archie itu berawal dari Bimo (drummer TFT), penggila sekaligus kolektor komiknya. Nah ketika diangkat ke serial ‘Riverdale’, aku suka banget. Khususnya pas nyari siapa pembunuh si Jason (Blossom),” ujar Kiky, vokalis dari The Flins Tone.

Ketika tercetus mengangkatnya untuk jadi lirik, Kiky pun menggandeng dua rekannya di radio, yakni Hanamay dan Deylon. “Kita bertiga sama-sama suka, dan nyambung. Deylon ngebantu nulis liriknya secara eksplisit, nah si Hanamay banyak bantu untuk perbendaharaan idiom-nya. Sementara di bagian scream, liriknya aku ambil dari dialog di episode terakhir ‘Riverdale’, biar makin klimaks gitu,” sambungnya. Karakter Jason Blossom sendiri muncul di era 90an, tampak pas dengan ambient musik emo punk yang TFT leburkan di lagu, dan juga mini albumnya nanti.

Beberapa nama seperti Alexis on Fire, Story of the Year, The Used, Jimmy Eat World, Billy Talent, Fugazi, hingga The Starting Line menjadi referensi mereka untuk melakuan brainstorm. “Setelah 3 album, sekarang kami mau eksplore lebih jauh. Rudi yang awalnya pengen ngebawa ke vibes emo 2000-an. Nah kebetulan kita semua ini dasarnya anak emo kali ya, akhirnya pas workshop cepet nyambung satu sama lain,” lanjut Kiky. Pria yang juga bersiar di prime time sore salah satu radio di Surabaya itu juga menyebut jika ekspektasi pendengar terhadap Blossom dan deretan track di Epitome bisa saja berubah. “Vibes di tiap lagunya nanti bakalan berbeda, karena cara mengexplore-nya pun beda-beda. Part scream? ada juga hehe,” ucapnya.

 

Siapkan Studio Update, Video Klip & Bersih-Bersih Instagram

Artwork single anyar TFT, Blossom. (Dok. The Flins Tone)

The Flins Tone punya banyak agenda di awal 2019 ini. Beruntung seluruh materi album mereka telah rampung, jadi saat ini tinggal fokus membangun promosi. Belakangan mereka baru saja melempar episode pertama dari Studio Update yang digarap Redixcover. Beberapa pekan sebelumnya malah Kiky, Ucup, Rudy, Bimo dan Diko tampak sibuk melakukan shoot klip Blossom. Dalam klip yang dikerjakan di Skale Creative Space itu, TFT bekerjasama dengan salah satu fotografer panggung Yogie Husein. “Nah, jadi bulan Maret ini kami mau ngeluarin beberapa episode ‘Epitome Studio Update’. Nanti di episode terakhirnya, baru lah kita kasih tanggal rilis video klipnya,” imbuh Kiky.

Selain kesibukan secara audio dan visual, media sosial pun tak luput untuk mereka perhatikan. Instagram milik The Flins Tone yang sudah memiliki lebih dari 5 ribu pengikut itu tiba-tiba di awal Januari nihil postingan. Beberapa pertanyaan dan keheranan sempat menghampiri mereka lantaran akunnya yang tiba-tiba jadi pasif itu. Kiky mewakili rekan-rekannya pun mengakui kalau mereka sengaja ‘bersih-bersih’ Instagram. “Itu cuma buat menyesuaikan sama konsep baru kami sih. Jadi emang kita rebranding gitu lah istilahnya,” perihal apa saja yang akan mereka tampilkan nantinya, Kiky meminta untuk menunggu tanggal mainnya, sembari menikmati gimmick-gimmick yang telah mereka siapkan sampai Epitome resmi dirilis.

Dengan hampir rampungnya mini album Epitome, sekaligus menambah perbendaharaan diskografi mereka. Epitome akan menjadi rilisan keempat The Flins Tone, sekaligus EP kedua setelah debut Flinsnopsis tahun 2010 silam. Sementara dua LP juga telah mereka rilis setelahnya, yaitu He’s The Best Actor For This Episode (2012) yang menjadi album persembahan untuk mendiang drummernya alm. Mahdi dan terakhir ada Good News (2015) yang rilis ke dalam 3 format, CD, kaset dan digital streaming.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Fraud: Release The Beast

Published

on

Fraud ketika tampil di Grand City pertengahan Februari kemarin (16/2) dengan memainkan beberapa materi baru. (Foto: Haryo Bahrul Ilmi)

Seperti yang kita ketahui bersama, selepas album kedua Movement Before Mouthment rilis empat tahun lalu, Fraud tidak berhenti untuk menciptakan karya baru. Dan masuk di 2019 ini, mereka sedikit memberi bocoran tentang album barunya. Mengutip dari statement Kecenk, gitaris dari Fraud, ia sempat mengujarkan niat bandnya untuk tidak lagi menggunakan kata-kata umpatan dalam liriknya.

Lebih lanjut lagi, Kecenk menjelaskan sebagian dari lirik di album ketiganya nanti akan rilis tahun ini. Isinya masih tetap berkutat tentang refleksi mereka terhadap lingkungan sosial dalam bentuk kritik yang membangun. Tak luput beberapa permasalahan yang terjadi di tanah air dalam beberapa waktu lalu, termasuk juga suntikan motivasi untuk para korban bencana alam yang terjadi baru-baru ini. “Jadi di album ketiga ini kami lebih menata kalimat dan diksi. Tidak seperti album-album sebelumnya,” terang Kecenk ketika kami hubungi pekan lalu. Dirinya juga tak lupa menyelipkan pesannya untuk lebih mempertahankan lokalitas Surabaya. “Karena kita harus tetap jadi diri sendiri, mempertahankan esensi kelokalan, supaya bisa memperkuat agar trend dan industrinya tidak tergeser dan berubah-ubah,” sambungnya.

Kini Fraud tengah fokus pada tahap revisi dan evaluasi materi yang telah selesai digarap.  Dengan mengenyampingkan ego, band yang baru saja berpisah dengan drummernya (Edel) akhir tahun kemarin coba memperhatikan hal-hal terkecil untuk album barunya, termasuk urusan menggaet produser. Nantinya, nama produser yang telah mereka pilih akan diumumkan pasca single barunya rilis. Selain itu, pemilihan studio dan sound engineering juga mereka fokuskan. Buktinya, proses rekaman dilakukan di beberapa studio berbeda, khususnya untuk take drum, Fraud menginginkan studio yang nyaman dengan feel akustik yang mumpuni.

Dalam waktu dekat, sembari menunggu menunggu proses album yang berjalan sejak pertengahan 2018 rampung, Fraud akan merilis ulang album pertama dan keduanya. Kali ini, band yang sempat berbagi panggung dengan Sick Of It All ini memlih format kaset untuk merilis kedua album lawas-nya. “Setelah rampung produksinya, kami akan membuat launching atau bahkan secret gigs mungkin,” tutur Kecenk.

Fraud (1)
Fraud (2)
Fraud (3)
Fraud (4)
Fraud (5)
Fraud (6)
Fraud (7)
Fraud (8)
Fraud (9)
Fraud (10)
Fraud (11)
Fraud (12)
Fraud (13)
Fraud (14)
IMG_6929
Continue Reading

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Continue Reading

Surabaya