Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

FEATURES

Integriti : “Ini Adalah Album Yang Siap Memotivasi Siapapun, Dimanapun, Kapanpun And No Bullshit”

Published

on

Alone At Last
Jangan ragukan lagi keberadaan Alone At Last yang sudah empat tahun vakum merilis album. Walapun hanya sempat merilis sebuah single Takkan Terhenti Disini pada 2010 lalu, namun single itu bermakna cukup dalam untuk para Stand Alone Crew (S.A.C) yang setia menunggu karya-karya terbaru dari AAL. Yap, sebuah single yang mengisyaratkan bahwa mereka takkan berhenti dan mereka masih ada.
Meneruskan dua rilisan sebelumnya Sendiri vs Dunia (2004) dan Jiwa (2008), Alone At Last akhirnya menjawab semua tanda tanya besar setelah merilis album ketiga mereka ‘Integriti’. Dengan konsep hitam-putih yang menonjolkan ukiran vector lambang hati, kali ini mereka akan berbicara tentang ‘cinta’ yang lebih dalam dengan makna yang lebih luas. “Cinta adalah bagian dari hidup kita. Mulai dari pengemis, preman, sampai presiden  sekalipun, membutuhkan cinta. Album ini dibuat sebagai respon terhadap kebencian yang menjadi norma di masyarakat kita. Maka politik kita untuk merespon kondisi ini adalah dengan menebar cinta lewat musik kita. Everyone have rights to be loved!” Ujar Papap ketika kami interview kemarin.
Integriti mendadak jadi sorotan publik, apalagi ketika Yas, Ubey, Papap, Ucay dan Athink merilis single dan klip Saat Dunia Tak Menatap Kearahmu Oktober lalu. Lagu ciptaan Ubey ini serentak langsung menghentak ribuan pasang telinga yang membuat tidak sabar untuk menunggu rilisnya Integriti. Terbukti di 3 minggu setelah rilis, album yang di produksi secara independent oleh lonelyend records ini langsung terjual hingga 1.000 copy. Sebuah capaian terbaik disaat banyak musisi pribumi yang dirugikan oleh digital download. “well menurut saya itu hal yang luar biasa di era digital pada saat ini” Kata Yas, selaku vokalis dan penulis lirik untuk AAL.
Lalu, apa yang membuat album mereka cukup laris? “Sebenarnya yang sudah memiliki CD sangat pasti bisa mengcopy album kita ke PC atau itunesnya dan mereka bisa share kesiapapun juga, tapi cara antisipasi yang paling ampuh adalah bagaimana kita sendiri mengemas album sebaik mungkin dan mereka (yang mendownload) mungkin tidak akan menemukan bentuk fisik lirik yang ada di dalam cover album kita….jadi totally tidak ada antisipasi karena kita buat musik dengan niat baik dan kita yakin pendengar musik Alone At Last juga adalah pendengar yang baik” kembali ujar Yas yang menanggapi tentang maraknya ilegal download dewasa ini.

Cover Album Integriti
Oke, sekarang kita buka CD ‘Integriti’ dan kita putar 11 lagu yang ada di dalamnya. Nuansa kelam langsung membuka album tersebut di 56 detik awal lewat Prolegomena yang tanpa jeda langsung membawa kita ke track kedua Let’s Shout It Out! (S.A.C), sebuah track bernuansa happy hardcore yang penuh shoutout dengan beat yang energik Let’s Shout It out, lagu ini sebenernya udah kita buat lama banget, ini bentuk janji kita untuk Stand Alone Crew, mereka bener-bener jadi motivasi kita di album Integriti dan mereka pengen banget ada lagu yang bisa membuat mereka sing along so we came out wif dis idea…..”let’s Shout It Out” kembali ujar Yas mengomentari lagu yang di daulat menjadi anthem untuk Stand Alone Crew.
Memasuki track ketiga, kita langsung disuguhkan fade in dari lagu Kita Bisa. Lagu yang sekilas mengingatkan kita pada The Used ini juga menjadi andalan untuk Integriti, lagu ini sempat menjadi penguasa di chart Purevolume April lalu. Kembali tanpa jeda, telinga kita langsung dibawa pada track nomor 4, Classic War Is A Modern War. Sebuah lagu Modern Rock yang menyinonimkan semua perang yang pernah terjadi di dunia. Lagu tentang perang ini juga rencananya akan dibuatkan klip “Ada beberapa klip lagi yang rencananya akan kita buat, tapi yang terdekat ada classic war is a modern war” tambah Ubay.  Nuansa emo semakin kuat di empat lagu pertama, apalagi setelah memasuki track melodramatic yang sangat soft, I Will Wait. Ini salah satu lagu yang wajib di dengar karena sekilas mengingatkan kita pada Muak Untuk Memuja. Di track berikutnya, kita akan disuguhkan sebuah lirik ‘Simpan semua lirihmu, lepaskan lelahmu. Besarkan hatimu, jangan palingkan wajahmu’ penggalan lirik track keenam Saat Dunia Tak Menatap Kearahmu ini menjadi motivator terbesar AAL dalam proses penyelesaian album Integriti.

Kocokkan gitar intro Sekali Bernyawa sekilas kita temukan pada track ketujuh Selamatkan Nyawa dengan lirik yang penuh unsur politis dilanjutkan dengan Rasakan Dunia, Intimidasi hingga kita kembali disuguhkan dengan track lembut Distance Romance yang semakin diperindah dengan suara-suara piano nakal dari Firman (Goodboy Badminton). Klimaks album ini terdapat pada track Cinta. “kenapa cinta? arti dari cinta itu luas dan kehidupan itu tidak bisa terlepas dari hal yang berhubungan dengan cinta..saya pribadi optimis ya karena itu tadi kehidupan ini tidak bisa lepas dari sesuatu yang bernama ‘cinta'” tambah bassist sekaligus backing vokal, Ubey. Dengan nuansa shoegaze, track tersebut akhirnya ditutup, tapi tunggu dulu satu bonus track Takkan Terhenti Disini akhirnya benar-benar menutup album yang dikerjakan hampir 2 tahun tersebut.

Well, jika semua lagu sudah kita cerna pasti kita bakal mengerti bagaimana makna cinta dan motivasi yang mereka maksud seperti apa. Dan satu lagi, siap-siap untuk rentetan video klip yang akan segera mereka rilis dalam waktu dekat ini “ini yang gila dari Alone At Last, bocoran nih kita baru beres shooting untuk klip Classsic War is A Modern War dan Distant Romance….semoga bisa rilis secepatnya, selanjutnya kita mau bikin untuk I Will Wait dan Let’s Shout it Out” kata Yas dalam interviewnya dengan kami. So, album Integriti bisa jadi teman untuk memotivasi kalian yang sedang kehilangan arah, let’s buy it!

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

The Flins Tone dan Sebuah Pembunuhan (Karakter)

Published

on

Formasi terbaru The Flins Tone: Bimo, Ucup, Kiky, Diko & Rudy. (Dok. TFT/Sandy Whisnu)

Sejak pertama melihat artwork dan mendengar intro-nya, Blossom memiliki karakter yang berbeda. Perpindahan chord serta beberapa fill di dalamnya mengingatkan kita pada era kejayaan emo di masa lalu. Bahkan, mereka tak luput menyelipkan sedikit scream di dalamnya. Terbaca sudah, punk yang berlulurkan emo dan rock terpilih jadi karakter baru The Flins Tone (TFT), yang lagi-lagi masih produktif di tahun ke-15 nya. Single Blossom sendiri mereka rilis baru-baru ini (22/2) secara digital. Lagu tersebut merupakan satu dari lima tracklist yang telah disiapkan untuk mini album Epitome.

Jika kita mendengar TFT sejak awal, ada perkembangan referensi dan sound yang terus beranjak dewasa. Dan di EP terbarunya nanti, mereka tampak ingin membunuh karakter lawas-nya yang cenderung energik, jadi lebih dramatik. Hal itu tertuang pada single Blossom, di mana liriknya berkisah tentang pembunuhan Jason Blossom; seorang karakter fiktif dari komik ‘Archie’ yang sempat diangkat ke serial thriller ‘Riverdale’. “Perkenalanku sama komik Archie itu berawal dari Bimo (drummer TFT), penggila sekaligus kolektor komiknya. Nah ketika diangkat ke serial ‘Riverdale’, aku suka banget. Khususnya pas nyari siapa pembunuh si Jason (Blossom),” ujar Kiky, vokalis dari The Flins Tone.

Ketika tercetus mengangkatnya untuk jadi lirik, Kiky pun menggandeng dua rekannya di radio, yakni Hanamay dan Deylon. “Kita bertiga sama-sama suka, dan nyambung. Deylon ngebantu nulis liriknya secara eksplisit, nah si Hanamay banyak bantu untuk perbendaharaan idiom-nya. Sementara di bagian scream, liriknya aku ambil dari dialog di episode terakhir ‘Riverdale’, biar makin klimaks gitu,” sambungnya. Karakter Jason Blossom sendiri muncul di era 90an, tampak pas dengan ambient musik emo punk yang TFT leburkan di lagu, dan juga mini albumnya nanti.

Beberapa nama seperti Alexis on Fire, Story of the Year, The Used, Jimmy Eat World, Billy Talent, Fugazi, hingga The Starting Line menjadi referensi mereka untuk melakuan brainstorm. “Setelah 3 album, sekarang kami mau eksplore lebih jauh. Rudi yang awalnya pengen ngebawa ke vibes emo 2000-an. Nah kebetulan kita semua ini dasarnya anak emo kali ya, akhirnya pas workshop cepet nyambung satu sama lain,” lanjut Kiky. Pria yang juga bersiar di prime time sore salah satu radio di Surabaya itu juga menyebut jika ekspektasi pendengar terhadap Blossom dan deretan track di Epitome bisa saja berubah. “Vibes di tiap lagunya nanti bakalan berbeda, karena cara mengexplore-nya pun beda-beda. Part scream? ada juga hehe,” ucapnya.

 

Siapkan Studio Update, Video Klip & Bersih-Bersih Instagram

Artwork single anyar TFT, Blossom. (Dok. The Flins Tone)

The Flins Tone punya banyak agenda di awal 2019 ini. Beruntung seluruh materi album mereka telah rampung, jadi saat ini tinggal fokus membangun promosi. Belakangan mereka baru saja melempar episode pertama dari Studio Update yang digarap Redixcover. Beberapa pekan sebelumnya malah Kiky, Ucup, Rudy, Bimo dan Diko tampak sibuk melakukan shoot klip Blossom. Dalam klip yang dikerjakan di Skale Creative Space itu, TFT bekerjasama dengan salah satu fotografer panggung Yogie Husein. “Nah, jadi bulan Maret ini kami mau ngeluarin beberapa episode ‘Epitome Studio Update’. Nanti di episode terakhirnya, baru lah kita kasih tanggal rilis video klipnya,” imbuh Kiky.

Selain kesibukan secara audio dan visual, media sosial pun tak luput untuk mereka perhatikan. Instagram milik The Flins Tone yang sudah memiliki lebih dari 5 ribu pengikut itu tiba-tiba di awal Januari nihil postingan. Beberapa pertanyaan dan keheranan sempat menghampiri mereka lantaran akunnya yang tiba-tiba jadi pasif itu. Kiky mewakili rekan-rekannya pun mengakui kalau mereka sengaja ‘bersih-bersih’ Instagram. “Itu cuma buat menyesuaikan sama konsep baru kami sih. Jadi emang kita rebranding gitu lah istilahnya,” perihal apa saja yang akan mereka tampilkan nantinya, Kiky meminta untuk menunggu tanggal mainnya, sembari menikmati gimmick-gimmick yang telah mereka siapkan sampai Epitome resmi dirilis.

Dengan hampir rampungnya mini album Epitome, sekaligus menambah perbendaharaan diskografi mereka. Epitome akan menjadi rilisan keempat The Flins Tone, sekaligus EP kedua setelah debut Flinsnopsis tahun 2010 silam. Sementara dua LP juga telah mereka rilis setelahnya, yaitu He’s The Best Actor For This Episode (2012) yang menjadi album persembahan untuk mendiang drummernya alm. Mahdi dan terakhir ada Good News (2015) yang rilis ke dalam 3 format, CD, kaset dan digital streaming.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Fraud: Release The Beast

Published

on

Fraud ketika tampil di Grand City pertengahan Februari kemarin (16/2) dengan memainkan beberapa materi baru. (Foto: Haryo Bahrul Ilmi)

Seperti yang kita ketahui bersama, selepas album kedua Movement Before Mouthment rilis empat tahun lalu, Fraud tidak berhenti untuk menciptakan karya baru. Dan masuk di 2019 ini, mereka sedikit memberi bocoran tentang album barunya. Mengutip dari statement Kecenk, gitaris dari Fraud, ia sempat mengujarkan niat bandnya untuk tidak lagi menggunakan kata-kata umpatan dalam liriknya.

Lebih lanjut lagi, Kecenk menjelaskan sebagian dari lirik di album ketiganya nanti akan rilis tahun ini. Isinya masih tetap berkutat tentang refleksi mereka terhadap lingkungan sosial dalam bentuk kritik yang membangun. Tak luput beberapa permasalahan yang terjadi di tanah air dalam beberapa waktu lalu, termasuk juga suntikan motivasi untuk para korban bencana alam yang terjadi baru-baru ini. “Jadi di album ketiga ini kami lebih menata kalimat dan diksi. Tidak seperti album-album sebelumnya,” terang Kecenk ketika kami hubungi pekan lalu. Dirinya juga tak lupa menyelipkan pesannya untuk lebih mempertahankan lokalitas Surabaya. “Karena kita harus tetap jadi diri sendiri, mempertahankan esensi kelokalan, supaya bisa memperkuat agar trend dan industrinya tidak tergeser dan berubah-ubah,” sambungnya.

Kini Fraud tengah fokus pada tahap revisi dan evaluasi materi yang telah selesai digarap.  Dengan mengenyampingkan ego, band yang baru saja berpisah dengan drummernya (Edel) akhir tahun kemarin coba memperhatikan hal-hal terkecil untuk album barunya, termasuk urusan menggaet produser. Nantinya, nama produser yang telah mereka pilih akan diumumkan pasca single barunya rilis. Selain itu, pemilihan studio dan sound engineering juga mereka fokuskan. Buktinya, proses rekaman dilakukan di beberapa studio berbeda, khususnya untuk take drum, Fraud menginginkan studio yang nyaman dengan feel akustik yang mumpuni.

Dalam waktu dekat, sembari menunggu menunggu proses album yang berjalan sejak pertengahan 2018 rampung, Fraud akan merilis ulang album pertama dan keduanya. Kali ini, band yang sempat berbagi panggung dengan Sick Of It All ini memlih format kaset untuk merilis kedua album lawas-nya. “Setelah rampung produksinya, kami akan membuat launching atau bahkan secret gigs mungkin,” tutur Kecenk.

Fraud (1)
Fraud (2)
Fraud (3)
Fraud (4)
Fraud (5)
Fraud (6)
Fraud (7)
Fraud (8)
Fraud (9)
Fraud (10)
Fraud (11)
Fraud (12)
Fraud (13)
Fraud (14)
IMG_6929
Continue Reading

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Continue Reading

Surabaya