Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

FEATURES

Mengupas habis Failing Forward lewat ‘An Attempt To Make An Echo’

Published

on

00_aatmae_cover_frontIni dia, satu lagi band Indonesia yang siap mengguncang dunia dengan musiknya, yeah they are ‘Failing Forward’. Band yang pertama kali berteriak lantang ke dunia pada Agustus 2003 ini siap menjejali telinga penikmat musik Indonesia dengan Pop Punk Hardcore-nya. Sudah menembakkan dua amunisi yang berupa Ep di tahun 2007 berjudul ‘Shouts From South’ dan kini di tahun 2012 yang merupakan tahun kesembilannya mereka kembali dengan rilisan yang luar biasa berjudul ‘An Attempt To Make An Echo’. Band ini cukup atraktif, baik itu dalam perfrom hingga meramu nada-nada serta lirik yang brilian. Oke, langsung saja kita mengulas sedalam apa Failing Forward bermusik dan sebagus apa band bawaan Bazis (vokal), Ilham (gitar), Didit (gitar), Acil (bass), dan Ikhsan (drum) untuk kalian nikmati.

Album ini berisikan 12 lagu dimana semuanya kental berbau hardcore-punk yang sejenak mengingatkan kita pada No Use For A Name, Useless I.D, Set Your Goals hingga Daggermouth. An Attempt To Make An Echo dibuka dengan single yang berjudul ‘Stage Fright’, dari sini saja kita akan mulai terhenyak dengan shoutout yang dinyanyikan secara bersemangat oleh oknum-oknum pengisi suara di dalamnya. Mungkin dari single tersebut kita akan tahu bagaimana kualitas musik Failing Forward secara keseluruhan pada album ini baik dari segi lirik dan musik. ‘Stage Fright’ menceritakan apa yang membuat mereka hingga detik ini masih mengutak-atik nada dan pindah dari satu panggung ke panggung yang lainnya demi mendapat respon yang baik terhadap karya-karya mereka.

Single kedua di album ini sama dengan judul album mereka yaitu ‘An Attempt To Make An Echo’, single ini bermakna sangat dalam bagi Failing Forward karena pada lagu inilah mereka ingin menunjukkan pesan-pesan yang ingin mereka sampaikan demi hidup yang lebih baik dan mengajak kita semua agar hidup lebih baik pula, “ we’re gonna make a better world, by being better ourselves” teriak mereka pada di single ini. Track berudrasi cepat ini cukup membuat kita ber-violence dance dengan breakdown-breakdown ganasnya yang sekilas mengingatkan kita dengan dengan Set Your Goals semasa mudanya.

Selanjutnya ada  ‘Hey Kiddo!’, single yang dibuka dengan hentakan drum dan beatdown yang sangat awesome, ditambah dengan permainan major scale bass dari Acil pada pertengahan track semakin menambah kesan garang lagu ini. Cara Bazis menyuarakan pesan-pesan di dalam lagu ini juga akan membuat kita mengerti bahwa kita patut menyanyangi orang-orang yang telah memberikan kasih sayang yang begitu banyak pada kita tanpa harus merasakan penyesalan.

Pada track keempat ada ‘Piece Of Liberty’, Ini adalah sebuah single yang menjadi bom atom bagi musik mainstream di Indonesia yang membosankan. Dibuka dengan pertunjukkan solo bass dari Acil yang diiringi dengan harmonisasi drum dan gitar yang mengajak masuk kedalam melodi simpel yang terdengar rumit. Sekilas intro tersebut mampu menampilkan The New Era Of  Harcore bagi pribumi kita dewasa ini. Lagi-lagi Bazis sangat peka, terlihat dengan bagaimana cara ia menyampaikan sebuah pesan moral dalam lagu ini dengan suara vokalnya yang lantang. Pada pertengahan lagu kita akan disuguhkan sebuah orasi tentang pembebasan atas segala tekanan yang secara utuh dipersembahkan Failfor agar semakin menggairahkan kita dalam menyelami musik mereka.

Sebuah interlude pada pertengahan album ini yang hanya berdurasi 1 menit 25 detik, Tak hanya ‘Berdansa, Alkohol dan Distorsi’. mengajak kita untuk istirahat sejenak dalam menjelajahi albumnya. Dengan tempo yang masih statis sejak lagu awal yang hanya meneriakkan bahwa ‘kita tidak hanya menerima melainkan memberi’. Track berikutnya dibuka dengan shoutout “Satu Visi Satu Misi” yang mengajak kita mau tidak mau ikut masuk untuk menjiwai track ‘Sebelah Mata’. Menyampaikan suatu pesan bahwa perbedaan bukan suatu kesalahan, lagu ini akan membawa kita serasa melihat suatu paduan atraktif antara pentatonik gitar dan bass yang saling adu untuk mengiringi seruan amuk dengan lirik yang menantang. “Lagu ini adalah dakwah, panggung adalah tempat kami beribadah”, penggalan lirik tersebut semakin mengerutkan wajah kita dan membuka mata bahwa musik itu adalah agama untuk mereka.

Tema musik punk yang identik dengan mencerca semakin kental setelah memasuki pertengahan album ‘An Attempt To Make An Echo’, track ‘Waste Of Mind’ coba memukul para pengicau yang hanya memprovokasi seakan membenci padahal kenyataanya mereka punya potensi untuk menyukai apa yang mereka benci. Dibuka dengan intro ala screamo yang langsung banting arah ke tatanan nada hardcore lalu mencapai klimaks pada reff renyah aala pop punk. Lagu ini manis, terlebih ketika memasuki fill “Easy to judge someone who we know nothing about, it’s hard to understand what we saw with our own eyes”

Jika ingin mendengarkan seberapa hardcore Failing Forward, coba dengar single yang berjudul ‘Generasi Cepat Tua’, karena disinilah hentakan HC dari mereka benar-benar total ditunjukkan. Layaknya band-band lainnya, Failfor-pun turut mengecam dunia musik mainstream yang penuh kebohongan. Sebuah tema yang cukup laku di pasaran hingga kini cukup pasaran. Tapi tetap tidak mengurangi kualitas album mereka, emosi yang dibawa oleh Bazis beserta shoutout lantang dari belakang vokal sudah cukup membuktikan bahwa amukan mereka bukan isapan jempol belaka.

Who said rockstar didn’t talk about nasionalism? ‘1928’, sebuah single yang cukup menunjukkan bagaimana makna sesungguhnya dari Sumpah Pemuda. Kini mereka bercerita tentang banyaknya perbedaan di negara Garuda ini, mereka mengajak untuk saling merangkul satu sama lain. Dibuka dengan pertunjukan gitar melodi ‘kotor’ khas Failfor yang diikuti dengan nada manis dalam balutan beatdown khas pop punk yang diisi dengan lirik punk Coba dengar lirik ”Minoritas bukan kriminalitas, mayoritas bukan otoritas”, sebuah quote manis yang siap menutup track berdurasi 2 menit ini.

Now I know why they genre called Pop Punk Hardcore, kalimat itulah yang terlontar ketika mendengarkan single yang berjudul ‘Booze Brigade’. Diawali dengan Hentakan musik punk serta distorsi kasar dalam beatdown-beatdown yang nakal, yeah that’s the answer man!. Single kesebelas yang berjudul Fortune Teller, mengajak kita untuk sedikit bersantai setelah berenang-renang dalam sepuluh lagu yang sangat kencang yang telah kita lalui di album ini, tetap dengan hentakan drum yang cukup cepat, namun ditengah-tengah lagu kita akan sedikit mendengar kocokan-kocokan gitar ala pop punk dengan ketukan setengah not yang diiringi kembali interlude bass yang tidak terasa akan membawa kita ke penghunjung lagu dengan kawalan shoutout.

Last song, berjudul A Starting Line, bercerita tentang bagaimana mereka memulai band ini, dengan hentakan drum dan beat yang cukup ringan, serta disuarakan dengan rap ala Bazis, yah cukup mengimbangi musik yang ada, serta tambahan unsur musik ska di dalamnya, yang menggambarkan kebahagiaan mereka ketika memulai membentuk band ini. An Attempt To Make An Echo, yah salah satu album di tahun ini yang wajib di dengarkan oleh para pecinta kebebasan yang idelis dan tentunya para hardcore punk dimanapun berada. Dua jempol untuk album ini, thanks to Failing Fowar which has make a great music for us, cheers.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

The Flins Tone dan Sebuah Pembunuhan (Karakter)

Published

on

Formasi terbaru The Flins Tone: Bimo, Ucup, Kiky, Diko & Rudy. (Dok. TFT/Sandy Whisnu)

Sejak pertama melihat artwork dan mendengar intro-nya, Blossom memiliki karakter yang berbeda. Perpindahan chord serta beberapa fill di dalamnya mengingatkan kita pada era kejayaan emo di masa lalu. Bahkan, mereka tak luput menyelipkan sedikit scream di dalamnya. Terbaca sudah, punk yang berlulurkan emo dan rock terpilih jadi karakter baru The Flins Tone (TFT), yang lagi-lagi masih produktif di tahun ke-15 nya. Single Blossom sendiri mereka rilis baru-baru ini (22/2) secara digital. Lagu tersebut merupakan satu dari lima tracklist yang telah disiapkan untuk mini album Epitome.

Jika kita mendengar TFT sejak awal, ada perkembangan referensi dan sound yang terus beranjak dewasa. Dan di EP terbarunya nanti, mereka tampak ingin membunuh karakter lawas-nya yang cenderung energik, jadi lebih dramatik. Hal itu tertuang pada single Blossom, di mana liriknya berkisah tentang pembunuhan Jason Blossom; seorang karakter fiktif dari komik ‘Archie’ yang sempat diangkat ke serial thriller ‘Riverdale’. “Perkenalanku sama komik Archie itu berawal dari Bimo (drummer TFT), penggila sekaligus kolektor komiknya. Nah ketika diangkat ke serial ‘Riverdale’, aku suka banget. Khususnya pas nyari siapa pembunuh si Jason (Blossom),” ujar Kiky, vokalis dari The Flins Tone.

Ketika tercetus mengangkatnya untuk jadi lirik, Kiky pun menggandeng dua rekannya di radio, yakni Hanamay dan Deylon. “Kita bertiga sama-sama suka, dan nyambung. Deylon ngebantu nulis liriknya secara eksplisit, nah si Hanamay banyak bantu untuk perbendaharaan idiom-nya. Sementara di bagian scream, liriknya aku ambil dari dialog di episode terakhir ‘Riverdale’, biar makin klimaks gitu,” sambungnya. Karakter Jason Blossom sendiri muncul di era 90an, tampak pas dengan ambient musik emo punk yang TFT leburkan di lagu, dan juga mini albumnya nanti.

Beberapa nama seperti Alexis on Fire, Story of the Year, The Used, Jimmy Eat World, Billy Talent, Fugazi, hingga The Starting Line menjadi referensi mereka untuk melakuan brainstorm. “Setelah 3 album, sekarang kami mau eksplore lebih jauh. Rudi yang awalnya pengen ngebawa ke vibes emo 2000-an. Nah kebetulan kita semua ini dasarnya anak emo kali ya, akhirnya pas workshop cepet nyambung satu sama lain,” lanjut Kiky. Pria yang juga bersiar di prime time sore salah satu radio di Surabaya itu juga menyebut jika ekspektasi pendengar terhadap Blossom dan deretan track di Epitome bisa saja berubah. “Vibes di tiap lagunya nanti bakalan berbeda, karena cara mengexplore-nya pun beda-beda. Part scream? ada juga hehe,” ucapnya.

 

Siapkan Studio Update, Video Klip & Bersih-Bersih Instagram

Artwork single anyar TFT, Blossom. (Dok. The Flins Tone)

The Flins Tone punya banyak agenda di awal 2019 ini. Beruntung seluruh materi album mereka telah rampung, jadi saat ini tinggal fokus membangun promosi. Belakangan mereka baru saja melempar episode pertama dari Studio Update yang digarap Redixcover. Beberapa pekan sebelumnya malah Kiky, Ucup, Rudy, Bimo dan Diko tampak sibuk melakukan shoot klip Blossom. Dalam klip yang dikerjakan di Skale Creative Space itu, TFT bekerjasama dengan salah satu fotografer panggung Yogie Husein. “Nah, jadi bulan Maret ini kami mau ngeluarin beberapa episode ‘Epitome Studio Update’. Nanti di episode terakhirnya, baru lah kita kasih tanggal rilis video klipnya,” imbuh Kiky.

Selain kesibukan secara audio dan visual, media sosial pun tak luput untuk mereka perhatikan. Instagram milik The Flins Tone yang sudah memiliki lebih dari 5 ribu pengikut itu tiba-tiba di awal Januari nihil postingan. Beberapa pertanyaan dan keheranan sempat menghampiri mereka lantaran akunnya yang tiba-tiba jadi pasif itu. Kiky mewakili rekan-rekannya pun mengakui kalau mereka sengaja ‘bersih-bersih’ Instagram. “Itu cuma buat menyesuaikan sama konsep baru kami sih. Jadi emang kita rebranding gitu lah istilahnya,” perihal apa saja yang akan mereka tampilkan nantinya, Kiky meminta untuk menunggu tanggal mainnya, sembari menikmati gimmick-gimmick yang telah mereka siapkan sampai Epitome resmi dirilis.

Dengan hampir rampungnya mini album Epitome, sekaligus menambah perbendaharaan diskografi mereka. Epitome akan menjadi rilisan keempat The Flins Tone, sekaligus EP kedua setelah debut Flinsnopsis tahun 2010 silam. Sementara dua LP juga telah mereka rilis setelahnya, yaitu He’s The Best Actor For This Episode (2012) yang menjadi album persembahan untuk mendiang drummernya alm. Mahdi dan terakhir ada Good News (2015) yang rilis ke dalam 3 format, CD, kaset dan digital streaming.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Fraud: Release The Beast

Published

on

Fraud ketika tampil di Grand City pertengahan Februari kemarin (16/2) dengan memainkan beberapa materi baru. (Foto: Haryo Bahrul Ilmi)

Seperti yang kita ketahui bersama, selepas album kedua Movement Before Mouthment rilis empat tahun lalu, Fraud tidak berhenti untuk menciptakan karya baru. Dan masuk di 2019 ini, mereka sedikit memberi bocoran tentang album barunya. Mengutip dari statement Kecenk, gitaris dari Fraud, ia sempat mengujarkan niat bandnya untuk tidak lagi menggunakan kata-kata umpatan dalam liriknya.

Lebih lanjut lagi, Kecenk menjelaskan sebagian dari lirik di album ketiganya nanti akan rilis tahun ini. Isinya masih tetap berkutat tentang refleksi mereka terhadap lingkungan sosial dalam bentuk kritik yang membangun. Tak luput beberapa permasalahan yang terjadi di tanah air dalam beberapa waktu lalu, termasuk juga suntikan motivasi untuk para korban bencana alam yang terjadi baru-baru ini. “Jadi di album ketiga ini kami lebih menata kalimat dan diksi. Tidak seperti album-album sebelumnya,” terang Kecenk ketika kami hubungi pekan lalu. Dirinya juga tak lupa menyelipkan pesannya untuk lebih mempertahankan lokalitas Surabaya. “Karena kita harus tetap jadi diri sendiri, mempertahankan esensi kelokalan, supaya bisa memperkuat agar trend dan industrinya tidak tergeser dan berubah-ubah,” sambungnya.

Kini Fraud tengah fokus pada tahap revisi dan evaluasi materi yang telah selesai digarap.  Dengan mengenyampingkan ego, band yang baru saja berpisah dengan drummernya (Edel) akhir tahun kemarin coba memperhatikan hal-hal terkecil untuk album barunya, termasuk urusan menggaet produser. Nantinya, nama produser yang telah mereka pilih akan diumumkan pasca single barunya rilis. Selain itu, pemilihan studio dan sound engineering juga mereka fokuskan. Buktinya, proses rekaman dilakukan di beberapa studio berbeda, khususnya untuk take drum, Fraud menginginkan studio yang nyaman dengan feel akustik yang mumpuni.

Dalam waktu dekat, sembari menunggu menunggu proses album yang berjalan sejak pertengahan 2018 rampung, Fraud akan merilis ulang album pertama dan keduanya. Kali ini, band yang sempat berbagi panggung dengan Sick Of It All ini memlih format kaset untuk merilis kedua album lawas-nya. “Setelah rampung produksinya, kami akan membuat launching atau bahkan secret gigs mungkin,” tutur Kecenk.

Fraud (1)
Fraud (2)
Fraud (3)
Fraud (4)
Fraud (5)
Fraud (6)
Fraud (7)
Fraud (8)
Fraud (9)
Fraud (10)
Fraud (11)
Fraud (12)
Fraud (13)
Fraud (14)
IMG_6929
Continue Reading

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Continue Reading

Surabaya