Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

FEATURES

Pee Wee Gaskins “Kalo minder, bandnya bakal jalan ditempat dan gak termotivasi untuk maju”

Published

on

Masih inget kan pas Rocket Rockers kolaborasi sama All Time Low? Tantri yang juga berkolaborasi dengan Simple Plan? atau mungkin Superman Is Dead yang ikut tur bareng MxPx? Band Indonesia sebenarnya gak selalu jago kandang, tapi sebagian kecil dari mereka yang berani bertindak pada akhirnya bisa membuktikan siapa mereka dan seperti inilah musik mereka.

Bukan lagi karena APWG-nya, bukan juga album ‘You and I Going South’-nya yang barusan dirilis, bahkan kabar suksesnya mereka menembus chart 30 besar billboard-pun termakan oleh masuknya mereka sebagai wakil Indonesia di Festival Summer Sonic 2012. Yap, mereka adalah Pee Wee Gaskins. Band muda fenomenal yang terus berkembang.
Kami Bangga 🙂 Ini pengalaman baru buat kita, bisa kerjasama dengan EO internasional dan event internasional juga” ujar Dochi ketika kami wawancarai tentang suksesnya mereka masuk line up Summer Sonic 2012. Belakangan ini semua media serentak tertuju pada keberhasilan yang dicapai oleh Pee Wee Gaskins, memang bukan yang pertama tapi untuk saat ini mereka sedang hangat-hangatnya menjadi incaran para media.
“Holy mother of God what I dream last night Pee Wee Gaskins will play Japan’s Summer Sonic this year,”tulis Dochi di akun Twitternya sesaat setelah mendapat kabar baik tersebut. Pada awalnya PWG ditawarkan untuk bermain pada Summer Sonic 2013, tetapi berkat hubungan pertemanan Dochi dengan Shaun (Totalfat) semuanya berubah, mereka mendapat keajaiban karena masih adanya sisa kuota untuk band Asia di Summer Sonic tahun ini. Dan ternyata setelah itu mereka-pun harus tetap menjalani proses seleksi yang tidak mudah, bukan hanya kualitas musik mereka yang dinilai tetapi juga bagaimana mereka mengelola band hingga fanbase.

Hingga akhirnya pada bulan Juli lalu nama mereka resmi masuk line up Summer Sonic 2012 yang akan digelar pada 18 Agustus mendatang. Pee Wee Gaskins akan bermain di island stage bersama Yellow Fang (Thailand) dan beberapa band dari China seperti Ashura, Mercy & Sorrow, The Power Powder, Newtank dan masih banyak lagi.

Ketika ditanya seberapa kuat mental kalian berada dalam satu event dengan musisi-musisi dunia? Seberapa yakin kalian bisa diterima dengan baik di Jepang? dengan tegas mereka menjawab “Kalo minder, bandnya bakal jalan ditempat dan gak termotivasi untuk maju.” Dari jawaban tersebut tampaknya kami benar-benar yakin kalian memang pantas berada disana.
Selain Pee Wee Gaskins, Summer Sonic 2012 mendatang akan diisi oleh banyak musisi-musisi dunia seperti Green Day, Rihanna, Ke$ha, Hoobastank, Pitbul, Jamiroquai hingga Sigur Ros. Namun ada 1 nama yang sangat ditunggu oleh mereka, yaitu band punk asal California, Pennywise. “Selain Blink 182, kami semua cukup mengidolakan Pennywise” kembali ujar Dochi.
Pee Wee Gaskins adalah band Pop Punk yang terbentuk sejak tahun 2007 di Jakarta, mereka berkembang pesat melalui media internet. PWG adalah salah satu dari band-band yang giat mempromosikan musiknya lewat akun-akun seperti myspace. Berawal dari hal tersebutlah mereka bisa berkenalan dengan banyak orang hingga musisi-musisi luar negeri seperti Shaun dari Totalfat yang pada akhirnya bisa membawa PWG ke Jepang.
“They always have the best bands to perform, dari dulu mimpi suatu saat harus dateng kesana dan nonton, who would’ve thought we got invited instead :)” jelas Dochi yang bercerita panjang lebar bahwa selama ini mereka hanya bermimpi untuk datang dan menyaksikkan Summer Sonic, namun semuanya berubah menjadi kenyataan dan bahkan mereka yang akan ditonton di event tahunan Jepang tersebut.

Selain akan membagi-bagikan CD album mereka ketika perform, PWG masih mempunyai banyak kejutan yang akan mereka beri untuk semua penonton di Jepang. “It’s a secret, nanti interview lagi ya kalo udah pulang :)” Terangnya. Mereka juga akan membawakan lagu-lagu seperti Tatiana, Dari Mata Sang Garuda hinggga lagu terbaru mereka You and I Going South.
Oke, sekali lagi selamat untuk Pee Wee Gaskins atas kesuksesannya. Dan tentunya kami tunggu untuk band-band Indonesia lainnya yang siap menjajakkan kakinya di negeri luar. Semangat!
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

EDITOR'S PICK

The Flins Tone dan Sebuah Pembunuhan (Karakter)

Published

on

Formasi terbaru The Flins Tone: Bimo, Ucup, Kiky, Diko & Rudy. (Dok. TFT/Sandy Whisnu)

Sejak pertama melihat artwork dan mendengar intro-nya, Blossom memiliki karakter yang berbeda. Perpindahan chord serta beberapa fill di dalamnya mengingatkan kita pada era kejayaan emo di masa lalu. Bahkan, mereka tak luput menyelipkan sedikit scream di dalamnya. Terbaca sudah, punk yang berlulurkan emo dan rock terpilih jadi karakter baru The Flins Tone (TFT), yang lagi-lagi masih produktif di tahun ke-15 nya. Single Blossom sendiri mereka rilis baru-baru ini (22/2) secara digital. Lagu tersebut merupakan satu dari lima tracklist yang telah disiapkan untuk mini album Epitome.

Jika kita mendengar TFT sejak awal, ada perkembangan referensi dan sound yang terus beranjak dewasa. Dan di EP terbarunya nanti, mereka tampak ingin membunuh karakter lawas-nya yang cenderung energik, jadi lebih dramatik. Hal itu tertuang pada single Blossom, di mana liriknya berkisah tentang pembunuhan Jason Blossom; seorang karakter fiktif dari komik ‘Archie’ yang sempat diangkat ke serial thriller ‘Riverdale’. “Perkenalanku sama komik Archie itu berawal dari Bimo (drummer TFT), penggila sekaligus kolektor komiknya. Nah ketika diangkat ke serial ‘Riverdale’, aku suka banget. Khususnya pas nyari siapa pembunuh si Jason (Blossom),” ujar Kiky, vokalis dari The Flins Tone.

Ketika tercetus mengangkatnya untuk jadi lirik, Kiky pun menggandeng dua rekannya di radio, yakni Hanamay dan Deylon. “Kita bertiga sama-sama suka, dan nyambung. Deylon ngebantu nulis liriknya secara eksplisit, nah si Hanamay banyak bantu untuk perbendaharaan idiom-nya. Sementara di bagian scream, liriknya aku ambil dari dialog di episode terakhir ‘Riverdale’, biar makin klimaks gitu,” sambungnya. Karakter Jason Blossom sendiri muncul di era 90an, tampak pas dengan ambient musik emo punk yang TFT leburkan di lagu, dan juga mini albumnya nanti.

Beberapa nama seperti Alexis on Fire, Story of the Year, The Used, Jimmy Eat World, Billy Talent, Fugazi, hingga The Starting Line menjadi referensi mereka untuk melakuan brainstorm. “Setelah 3 album, sekarang kami mau eksplore lebih jauh. Rudi yang awalnya pengen ngebawa ke vibes emo 2000-an. Nah kebetulan kita semua ini dasarnya anak emo kali ya, akhirnya pas workshop cepet nyambung satu sama lain,” lanjut Kiky. Pria yang juga bersiar di prime time sore salah satu radio di Surabaya itu juga menyebut jika ekspektasi pendengar terhadap Blossom dan deretan track di Epitome bisa saja berubah. “Vibes di tiap lagunya nanti bakalan berbeda, karena cara mengexplore-nya pun beda-beda. Part scream? ada juga hehe,” ucapnya.

 

Siapkan Studio Update, Video Klip & Bersih-Bersih Instagram

Artwork single anyar TFT, Blossom. (Dok. The Flins Tone)

The Flins Tone punya banyak agenda di awal 2019 ini. Beruntung seluruh materi album mereka telah rampung, jadi saat ini tinggal fokus membangun promosi. Belakangan mereka baru saja melempar episode pertama dari Studio Update yang digarap Redixcover. Beberapa pekan sebelumnya malah Kiky, Ucup, Rudy, Bimo dan Diko tampak sibuk melakukan shoot klip Blossom. Dalam klip yang dikerjakan di Skale Creative Space itu, TFT bekerjasama dengan salah satu fotografer panggung Yogie Husein. “Nah, jadi bulan Maret ini kami mau ngeluarin beberapa episode ‘Epitome Studio Update’. Nanti di episode terakhirnya, baru lah kita kasih tanggal rilis video klipnya,” imbuh Kiky.

Selain kesibukan secara audio dan visual, media sosial pun tak luput untuk mereka perhatikan. Instagram milik The Flins Tone yang sudah memiliki lebih dari 5 ribu pengikut itu tiba-tiba di awal Januari nihil postingan. Beberapa pertanyaan dan keheranan sempat menghampiri mereka lantaran akunnya yang tiba-tiba jadi pasif itu. Kiky mewakili rekan-rekannya pun mengakui kalau mereka sengaja ‘bersih-bersih’ Instagram. “Itu cuma buat menyesuaikan sama konsep baru kami sih. Jadi emang kita rebranding gitu lah istilahnya,” perihal apa saja yang akan mereka tampilkan nantinya, Kiky meminta untuk menunggu tanggal mainnya, sembari menikmati gimmick-gimmick yang telah mereka siapkan sampai Epitome resmi dirilis.

Dengan hampir rampungnya mini album Epitome, sekaligus menambah perbendaharaan diskografi mereka. Epitome akan menjadi rilisan keempat The Flins Tone, sekaligus EP kedua setelah debut Flinsnopsis tahun 2010 silam. Sementara dua LP juga telah mereka rilis setelahnya, yaitu He’s The Best Actor For This Episode (2012) yang menjadi album persembahan untuk mendiang drummernya alm. Mahdi dan terakhir ada Good News (2015) yang rilis ke dalam 3 format, CD, kaset dan digital streaming.

Continue Reading

EDITOR'S PICK

Fraud: Release The Beast

Published

on

Fraud ketika tampil di Grand City pertengahan Februari kemarin (16/2) dengan memainkan beberapa materi baru. (Foto: Haryo Bahrul Ilmi)

Seperti yang kita ketahui bersama, selepas album kedua Movement Before Mouthment rilis empat tahun lalu, Fraud tidak berhenti untuk menciptakan karya baru. Dan masuk di 2019 ini, mereka sedikit memberi bocoran tentang album barunya. Mengutip dari statement Kecenk, gitaris dari Fraud, ia sempat mengujarkan niat bandnya untuk tidak lagi menggunakan kata-kata umpatan dalam liriknya.

Lebih lanjut lagi, Kecenk menjelaskan sebagian dari lirik di album ketiganya nanti akan rilis tahun ini. Isinya masih tetap berkutat tentang refleksi mereka terhadap lingkungan sosial dalam bentuk kritik yang membangun. Tak luput beberapa permasalahan yang terjadi di tanah air dalam beberapa waktu lalu, termasuk juga suntikan motivasi untuk para korban bencana alam yang terjadi baru-baru ini. “Jadi di album ketiga ini kami lebih menata kalimat dan diksi. Tidak seperti album-album sebelumnya,” terang Kecenk ketika kami hubungi pekan lalu. Dirinya juga tak lupa menyelipkan pesannya untuk lebih mempertahankan lokalitas Surabaya. “Karena kita harus tetap jadi diri sendiri, mempertahankan esensi kelokalan, supaya bisa memperkuat agar trend dan industrinya tidak tergeser dan berubah-ubah,” sambungnya.

Kini Fraud tengah fokus pada tahap revisi dan evaluasi materi yang telah selesai digarap.  Dengan mengenyampingkan ego, band yang baru saja berpisah dengan drummernya (Edel) akhir tahun kemarin coba memperhatikan hal-hal terkecil untuk album barunya, termasuk urusan menggaet produser. Nantinya, nama produser yang telah mereka pilih akan diumumkan pasca single barunya rilis. Selain itu, pemilihan studio dan sound engineering juga mereka fokuskan. Buktinya, proses rekaman dilakukan di beberapa studio berbeda, khususnya untuk take drum, Fraud menginginkan studio yang nyaman dengan feel akustik yang mumpuni.

Dalam waktu dekat, sembari menunggu menunggu proses album yang berjalan sejak pertengahan 2018 rampung, Fraud akan merilis ulang album pertama dan keduanya. Kali ini, band yang sempat berbagi panggung dengan Sick Of It All ini memlih format kaset untuk merilis kedua album lawas-nya. “Setelah rampung produksinya, kami akan membuat launching atau bahkan secret gigs mungkin,” tutur Kecenk.

Fraud (1)
Fraud (2)
Fraud (3)
Fraud (4)
Fraud (5)
Fraud (6)
Fraud (7)
Fraud (8)
Fraud (9)
Fraud (10)
Fraud (11)
Fraud (12)
Fraud (13)
Fraud (14)
IMG_6929
Continue Reading

EDITOR'S PICK

Berselancarnya The Panturas & Polka Wars di Surabaya

Published

on

Ada sedikit keraguan kala The Panturas gagal berselancar di Surabaya Oktober kemarin. Nuansa surf-rock yang diusung sekelompok alumnus jurnalistik ini tidak memancar, mereka justru hanya terdengar sebagai band rock melayu biasa. Namun ketika Buka Musik Connectified chapter Surabaya membawa mereka ke Nens Corner akhir pekan kemarin (14/12), ceritanya berbeda. The Panturas benar-benar Mabuk Laut bersama ratusan penonton yang merelakan mata perih karena asap rokok hingga kepala puyeng akibat alkohol.

Bagi sebagian besar penonton yang hadir, kami yakin mereka semua mendapat klimaks. Diawali dengan dua band pendatang baru Surabaya yang unjuk gigi; Alter dan Eisen, hingga dibawa membeku bersama Cotswolds dan puncak dari segala kerusuhan ada pada si protagonis Polka Wars. Pemilik album Axis Mundi ini sejatinya menurunkan tempo pasca meliarnya crowd The Panturas. Tapi tak bisa dipungkiri jika musikalitas terus memancarkan aura semangat. Setidaknya, Surabaya telah memberikan kesan manis bagi Polka Wars dan The Panturas yang hingga akhir tahun ini melaksanakan tur di 6 kota di bawah platform musik Buka Musik milik Bukalapak.

Continue Reading

Surabaya