Connect with us
https://ronascent.biz/wp-content/uploads/2017/07/ronascent-adv-copy.jpg

NEWS

Beberapa fakta dibalik hit single Blink 182

Published

on

Blink 182 memang sempat bubar, tapi mereka sudah kembali lagi sejak tahun 2009 dan di tahun 2011 lalu mereka sukses merilis album terbaru mereka yang berjudul ‘Neighborhood’. Tapi postingan ini tidak terlalu memperdulikan seperti apa musik mereka yang baru, seberapa nge’punk’ mereka di usianya yang sudah tidak muda lagi dan seberapa kuat magnet mereka untuk kembali menarik fans setia mereka yang kebanyakan sudah pergi. Postingan ini hanya membahas sebuah fakta dibalik Blink 182 disaat mereka belum bubar. Berawal dari hal kecil yang di eksplorasikan oleh 3 orang gila hingga menjadi hit single yang tak tergantikan bagi pecinta musik di belahan dunia ini.

1.  Josie. Lagu ini menjadi Hit Single Blink 182 pada era 90-an ketika mereka baru merilis 4 album. Lagu ini  pada dasarnya bertemakan tentang seorang wanita idaman (dikhususkan untuk Mark yang notabene penulis lirik). Siapa yang kira jika ‘Josie’ itu adalah nama anjing kesayangan Mark. Jadi pada lagu ini ia hanya berfantasi tentang seorang wanita idaman(nya).
2. All the Small Things adalah lagu pertama yang diciptakan Tom buat Jennifer, pacarnya waktu itu (sekarang sudah menjadi istri) Tom membuatnya karena sebelumnya dia belum pernah membuatkan lagu untuk pacarnya, padahal pada saat itu Blink sudah memiliki 5 album dan tidak bisa dihitung sudah berapa wanita yang dekat dengan Tom. haha
3. Adam’s Song diilhami dari e-mail yang diterima Mark Hoppus dari seorang remaja laki-laki berumur 16 tahun bernama Adam yang merencanakan bunuh diri. Ternyata dengan cerdas Mark me-metaforakannya dengan cerita tentang kejenuhan mereka (blink182) dalam menjalani tur keliling Amerika, dan berbagai macam kejenuhannya menjadi Rockstar. Dari situlah awal terciptanya single mereka Adam’s Song yang dimasukkan pada album Enema of the State. 

4. What’s My Age Again pada awalnya berjudul Peter Pan Complex. Tapi pihak label meminta mereka mengganti judulnya agar lebih simpel hingga akhirnya dengan berat hati mereka menggantinya menjadi What’s My Age Again.

5. Di akhir lirik lagu Man Overboard, tampak blink menceritakan tentang ‘seseorang pria’ yang lebih jelasnya bisa melihat lirik dibawah. Banyak pers maupun web yang mengecap jika laggu tersebut adalah sebuah persembahan untuk mantan drummer mereka yaitu Scot Raynor yang pada saat itu dikeluarkan karena ketergantungan obat-obatan. Bisa dibilang ini adalah lagu perpisahan Mark dengan Scott, sama halnya dengan lirik No, It isn’t-nya +44 yang diceritakan tentang perpisahanya Mark dengan Tom. Tapi ketika ditanyakan langsung kepada Mark maupun Tom mereka secara langsung menolak pernyataan tersebut. Mungkin juga ini sebuah kebetulan atau mungkin juga ini sebuah fakta yang ditutup-tutupi.
Ini adalah petikan lirik dari Man Overboard

“Man on a misson
Can’t say I miss him around
Insider information
Hand in your resignation
Loss of a good friend
Best of intenstions I found
Tight lipped procrastination
I’ll never see you around” 
6. Mark memasukkan sebuat potongan surat milik Kakeknya yang ditujukan kepada Neneknya pada lagunya, Surat itu ditulis ketika Kakek dari Mark ikut terlibat dalam perang dunia ke-2. Isi Suratnya seperti ini
  
“my dearest,

i’ve missed you very very much since that last night we were together
i will hold that night especially in my memories for years to come
i’ve been turning it over and over my mind lately
i’ve read your letter at least four times, and i will probably read it more times before i’m through
i’ve been sitting here, looking at your picture and getting more homesick every minute
i’ve wanted that picture more than anything else i know of except of course you yourself
i keep thinking of you darling
keep wishing i could be home with you
i want to leave in the worst possible way, so i could come home to see you
but… things don’t look so good in that subject
this war has spoiled a lot of things for everyone i guess
i’ve never been so lonesome in my life as i am right now
i’m completely lost without you darling
i never realized i could miss any one person so much
i just hope it won’t be too much”

Petikan surat tersebut diselipkan pada akhir lagu Violence hingga awal track berikutnya Stockholm Syndrome pada album Untitled.

7. All Of This adalah sebuah track yang bisa dibilang sangat biasa. Walaupun tidak menjadi hits single dan jarang dimainkan pada saat live. Tapi proses perekaman lagu ini lah yang patut dibilang ‘dreams come true’ bagi Blink 182, mereka menyelesaikan track ini di empat studio berbeda hingga proses rekaman itu selesai, lalu mereka mengirimkan data record mereka ke London. Kenapa harus ke London? Ternyata mereka bertiga begitu mengidolakan band legendaris The Cure, terutama Robert. Mereka dengan penuh hormat meminta Robert untuk mengisikan vokal satu lagu penuh pada track All Of This.
8. Pada Lagu Feeling This, bagian terakhir terdengar suara teriakan Tom (fate fell short this time). Siapa yang menggira jika teriakan itu direkam di dalam sebuah ruangan sepanjang 30 kaki dan Tom sendiri berdiri 10-15 kaki yang jauh dari posisi mikrofon.
9. 2 Hit Single mereka yaitu ‘First Date’ dan ‘The Rock Show’ ternyata diciptakan di hari yang sama. Pada saat itu Tom menciptakan First Date dan Mark menulis The Rock Show.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

BACKSTAGE

RIP Gibson: Salah Satu Ikon Pembentuk Rock and Roll

Published

on

Jimmy Page (kanan) dengan siganture gitar Gibson double neck-nya. (Foto: Laurance Ratner/Wireimage)

Kita punya hutang yang besar pada Gibson; merek gitar legendaris yang memutuskan mengakhiri bisnisnya bulan ini. Tidak akan ada sound menyalak di Whole Lotta Love-nya Led Zeppelin andaikata Gibson tidak terbentuk 1894 silam. Jimmy Page—guitar hero kita semua—adalah pemakai Gibson Les Paul yang taat. Gibson juga sudah jadi signature Slash, Eric Clapton, sampai Pete Townshend dari The Who. Gibson—tanpa disadari—punya peran membentuk rock and roll, membuatnya bisa semacam agama baru yang pernah diimani hampir jutaan populasi.

Kalian bisa mengeceknya di YouTube, sejauh mana Gibson dan sound-nya yang ikonik, sangat cocok dimainkan gondrongers berjaket kulit dan bersepatu Doc-Mart. Satu lagi, bentuknya—ya Tuhan—lengkungan dan teksturnya membuat kamu sebagai budak rock and roll berpotensi horny; seperti maniak GP saat melihat knalpot Yamaha Rossi; seperti The Gooners yang bernafsu saat melihat trofi Liga Primer.

Cerita soal hancurnya bisnis Gibson dimulai saat perusahaan ini berhutang 1 koma 3 triliun rupiah. Gibson lalu memilih menyerah dan mengaku bangkrut; sebuah sikap yang sebenarnya sangat tidak rock and roll. Meski begitu, Gibson berjanji untuk bangkit, dengan merilis produk headphone dan speaker. Perusahaan asal Nashville ini juga segera merombak ulang susunan perusahaan yang kacau, dan akan menjual kembali alat musik; ini baru rock and roll. Tapi pastinya, kita tetap tidak bisa mengkhianati peran Gibson, membentuk dan mempengaruhi apa yang kita dengar saat ini.

Rekomendasi film soal gitar, sound, and anything like that yang bisa disimak di situs streaming kesayangan kalian: Sound City (2013), It Might Get Loud (2008), HBO Vinyl Series (2016).

Mahasiswa sastra. Kecanduan Tebs dan masih mengimani Billie Joe Armstrong sebagai nabi.

Continue Reading

NEWS

Bedchamber Ajak Penonton Tentukan Ending Klipnya

Published

on

Bedchamber. (Foto: George Mundor)

Kurang lebih empat bulan setelah album Geography rilis, kolektif indie pop Ibukota, Bedchamber melempar video klip Moon kemarin (10/5). Video klip tersebut sekaligus jadi yang terbaru setelah empat tahun lamanya. Ya, Bedchamber terakhir kali merilis klip Perennial empat tahun silam. Dalam project ini, Nadine Hanisya dipercaya sebagai sutradara dengan menampilkan aktor senior Jim Adhi Limas. Klip tersebut sudah bisa dinikmati di akun Youtube ofisial milik Kolibri Rekords.

Dalam video ini Bedchamber coba mengisahkan tentang sosok pria feminim yang berusaha keluar dari tekanan. Jim Adhi Limas  yang memiliki simbolisme dan pemaknaan berlapis pun tampak menyatu dengan lagu yang ditulis oleh Ratta cs. Namun di akhir, Bedchamber sengaja memberikan ending yang kabur agar penonton bisa ikut terlibat menentukannya. “Di sini Bedchamber membuka kesempatan penonton untuk menginterpretasi dan menentukan sendiri kisah hidup pria tersebut. Silahkan berbagi, semua teori diterima!” tulis Bedchamber dalam rilis persnya.

Bersamaan dengan rilisnya Moon, Bedchamber juga mengumumkan dua titik turnya di Jatim, yakni Surabaya (11/5) dan Malang (12/5). Untuk yang di Surabaya, Bedchamber akan tampil di launching album terbaru Cotswolds, ‘Tadius Showcase’ akhir pekan ini bersama Closure, Gizpel, dan tentunya Cotswolds.

Media musik online yang berbasis di Surabaya. Mengamati gejolak dan gairah industri musik independen yang kerap menjadi sokongan musik berkualitas. Kontak kami di [email protected] untuk berbagi informasi.

Continue Reading

NEWS

Winter’s Fault, Dibalik Harapan, Kelahiran & Single Baru Luise Najib

Published

on

Cover single terbaru Luise Najib. (Dok. Luise Najib)

Luise Najib, penyanyi wanita lulusan The Voice Indonesia 2013 ini akhirnya melempar single baru berjudul Winter’s Fault ke publik pada 2 Mei 2018; sekaligus jadi comeback setelah hampir setahun vakum. Winter’s Fault sendiri bercerita tentang harapan, juga seseorang yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan dan merubahnya secara perlahan. “Hari itu, aku melahirkan anak lelakiku”cerita Luise, tepat pada 3 Mei 2017, dan setahun kemudian, lahirlah single ini.

Berbeda dari lagu sebelumnya, Winter’s Fault lebih bernuansa sendu dan tenang. “Pada suatu malam di tahun 2013 aku terbangun, rasanya seperti berusaha mengingat mimpi, tapi semakin kerasa ku berusaha mengingatnya semakin buram ceritanya, hanya melodi-melodinya saja yang samar teringat, malam itu juga langsung aku rekam lagu ini,” lanjutnya.

Alunan piano yang dimainkan oleh Vicky Unggul, selaku co-producer di lagu ini berhasil menyelimuti warna vokal Luise Najib yang membawa perasaan kita ke dalam ruang gelap namun penuh kehangatan. Perpaduan musik elektronik dan pop mereka hasilkan berkat eksplorasi musik antara Luise Najib dan Vicky Unggul selama 2 tahun ini.

Luise mengaku semakin yakin akan jalur yang telah dia pilih. “Aku harap lagu ini bisa mengingatkan siapapun yang pernah atau sedang mengalami depresi, bahwa harapan itu selalu muncul di situasi yang tidak terduga, cinta dan kebahagiaan pasti akan selalu ada”, imbuh Luise mengenai harapannya di lagu ini.

Bersamaan dengan perilisan single terbarunya di berbagai platform seperti iTunes dan Spotify, Luise juga merilis official music video Winter’s Fault di YouTube. Dalam pembuatannya, ia menyutradarai sendiri video klip ini dengan dibantu Risky Jusuf sebagai DOP.

Rakjat Djelatah yang tak segan untuk mengepul ilmu dari panggung ke panggung bebunyian. Suka menggagungkan katakata pada limit kepsyen instagram belaka. Akhir-akhir ini, ia sedang belajar menulis yang baik dan benar untuk kemaslahatan umat.

Continue Reading
Advertisement

Zine Archives

Surabaya